My Blog List

Thursday, June 14, 2012

Friday, February 17, 2012

New Draft Project : Finding Utopia

terpikir 1 ide.

tentang seseorang yang hidup di negara menjunjung tinggi moral tapi mendamprat filsafat karena mereka tidak sanggup berpikir banyak. mereka lebih fokus mengeluh dan mencari simpati dari orang kaya, sementara orang kaya sibuk menjilat orang yang lebih kaya, dan orang nomer satu di tempat itu sibuk memanipulasi apapun yang bisa ia manipulasi agar dia bisa hidup enak (korupsi).

orang ini yang mencintai filsafat, dihina dan dikucilkan karena berbeda. ia banyak mengkritik moral buta, tapi ia beruntung karena dia anak orang paling berkuasa di sana.

ia pergi meninggalkan negerinya setelah pertengkaran demi pertengkaran dihadapi. ia mendengar tentang sebuah negeri bernama utopia dimana rasio dihargai dan keteraturan berjalan.

Finding Utopia?

Sunday, February 5, 2012

Indie Publishing : Tales of The Deities

Akhirnya saya berhasil menterbitkan satu buku sekalipun lewat jalur Indie (kualitasnya tidak ada yang bisa menjamin dilihat secara pasar). Buku itu adalah sebuah kumcer tentang 3 cerita bertemakan "dewa".

Cerita pertama ditulis oleh teman saya, Riesling. Menceritakan tentang konflik batin dan perasaan Loki pada hari-hari pra dan pasca Ragnarok. Bagi penggemar mitologi Nordik, cerita ini patut diperhitungkan.

Cerita kedua ditulis oleh teman saya, Jangseng ... maksud saya Farid Abdul. Menceritakan tentang awal mula penciptaan manusia dalam mitologi dunia Farum dengan tokoh utamanya bernama Aburankal. Sisi menarik dari cerita ini adalah konsep penciptaan manusianya yang menurut saya cukup filosofis.

Cerita ketiga ditulis oleh saya sendiri dengan nama pena Shou Jinbei. Sodia & Oqeanos adalah dua Persona yang hidup di dunia yang berbeda dan tidak mungkin menyeberang dunia. Namun ironisnya, keduanya justru merasa lebih akrab satu sama lain daripada dengan Persona lainnya. Maka dari itulah salah satu dari mereka berpikir untuk menyeberang ke dunia sebelah.

Menurut testimoni dari orang-orang yang sudah membaca cerita ini, mereka berpendapat bahwa cerita ini cukup tragis. Tapi beberapa orang lainnya berpendapat bahwa cerita ini memiliki lirik yang cukup keju, sekalipun bagi saya sendiri biasa saja.

Wednesday, January 11, 2012

Kritik yang dialami oleh karya besar

Harry Potter, sebuah karya masterpiece yang menjadi icon masa mudaku. Banyak kisah yang terinspirasi dari sana. Saya tidak pernah membaca Harry Potter dan hanya tahu sedikit-sedikit mengenainya dari komentar orang di internet. Namun satu hal yang saya simpulkan dari serial ini adalah : karakteristiknya yang luar biasa.

sumber : 9gags

Bagi saya, karakter yang berhasil adalah karakter yang mampu mempermainkan perasaan pembacanya, memberi inspirasi, atau mengubah hidup pembacanya. Saya baru temukan karakter seperti ini dari San Guo Yan Yi, Guan Yu dan Zhuge Liang, kemudian dari Berserk, Guts dan Griffith, dan terakhir One Piece, karakter minor bernama Doktor Hirluk (majikannya Tony Tony Chopper).

Sekalipun karya besar tidak akan luput dari kritik pedas dan sebuah peremehan. Tidak pelak juga, orang-orang yang mungkin populer ataupun punya nama besar dalam bidang dunia tulis menulis, kadang memberikan kritik antipati terhadap karya tersebut. Namun apakah hal itu mampu menghalangi Harry Potter untuk menjadi karya terbaik?

Rupanya yang membuat Harry Potter masih merupakan karya terbaik di dunia bukanlah para kritikus, tapi fans nya. Orang-orang yang menyukai Harry Potter, bukan orang-orang yang membenci Harry Potter.

Berikut ini adalah kritik-kritik yang dilontarkan untuk Harry Potter yang saya ambil dari goodreads.

notgettingenough rated it 1/5
Enough. I'm putting this one to bed. I so don't want to finish it.


‘Not enough sex’ was my first thought, but then we do get to this part where boys are discussing the length and capacities of their wands and I perked up for a moment until I realised that they were actually talking about wands.

"Bugger the wizards, where the fuck are the social workers? I can't believe little children enjoy reading this tale of an abused child, half-starved, beaten, living in a cupboard. This isn't fun, it's HORRIBLE!"

Harold Bloom rated it 1/5
Can 35 Million Book Buyers Be Wrong? Yes.

Taking arms against Harry Potter, at this moment, is to emulate Hamlet taking arms against a sea of troubles. By opposing the sea, you won't end it. The Harry Potter epiphenomenon will go on, doubtless for some time, as J. R. R. Tolkien did, and then wane.

The official newspaper of our dominant counter-culture, The New York Times, has been startled by the Potter books into establishing a new policy for its not very literate book review. Rather than crowd out the Grishams, Clancys, Crichtons, Kings, and other vastly popular prose fictions on its fiction bestseller list, the Potter volumes will now lead a separate children's list. J. K. Rowling, the chronicler of Harry Potter, thus has an unusual distinction: She has changed the policy of the policy-maker.

Imaginative Vision

I read new children's literature, when I can find some of any value, but had not tried Rowling until now. I have just concluded the 300 pages of the first book in the series, "Harry Potter and the Sorcerer's Stone," purportedly the best of the lot. Though the book is not well written, that is not in itself a crucial liability. It is much better to see the movie, "The Wizard of Oz," than to read the book upon which it was based, but even the book possessed an authentic imaginative vision. "Harry Potter and the Sorcerer's Stone" does not, so that one needs to look elsewhere for the book's (and its sequels') remarkable success. Such speculation should follow an account of how and why Harry Potter asks to be read.

The ultimate model for Harry Potter is "Tom Brown's School Days" by Thomas Hughes, published in 1857. The book depicts the Rugby School presided over by the formidable Thomas Arnold, remembered now primarily as the father of Matthew Arnold, the Victorian critic-poet. But Hughes' book, still quite readable, was realism, not fantasy. Rowling has taken "Tom Brown's School Days" and re-seen it in the magical mirror of Tolkein. The resultant blend of a schoolboy ethos with a liberation from the constraints of reality-testing may read oddly to me, but is exactly what millions of children and their parents desire and welcome at this time.

In what follows, I may at times indicate some of the inadequacies of "Harry Potter." But I will keep in mind that a host are reading it who simply will not read superior fare, such as Kenneth Grahame's "The Wind in the Willows" or the "Alice" books of Lewis Carroll. Is it better that they read Rowling than not read at all? Will they advance from Rowling to more difficult pleasures?

Rowling presents two Englands, mundane and magical, divided not by social classes, but by the distinction between the "perfectly normal" (mean and selfish) and the adherents of sorcery. The sorcerers indeed seem as middle-class as the Muggles, the name the witches and wizards give to the common sort, since those addicted to magic send their sons and daughters off to Hogwarts, a Rugby school where only witchcraft and wizardry are taught. Hogwarts is presided over by Albus Dumbeldore as Headmaster, he being Rowling's version of Tolkein's Gandalf. The young future sorcerers are just like any other budding Britons, only more so, sports and food being primary preoccupations. (Sex barely enters into Rowling's cosmos, at least in the first volume.)

Nikki rated it 3/5
It was then that I figured out that, yeah, there are things wrong with Harry Potter beyond just the hype that was irritating me so much and the feeling that Rowling in no way matched up to the giants of fantasy and sci-fi, like Tolkien. I studied it alongside Tom Brown's Schooldays, by Thomas Hughes. Do note that I didn't like that book either. But it's a well written, well shaped, well considered book -- and it doesn't use the same cheap tricks as Harry Potter does. I'm not going to say much about that, since it's not a book I liked: if I'm going to compare/contrast, I'll compare with my favourite book that is also supposed to be for younger readers, Susan Cooper's The Dark Is Rising.

There's also a very easy, blunt misdirection. You're supposed to hate Snape, supposed to believe he's the one to blame for everything, and at the end, you're supposed to be as surprised as Harry when it's Quirrel waiting there for him. At the age of eleven, I think I went right along with that, but when I reread it for A Level, I had to wince at how heavy-handed the misdirection was. I understand that later in the series Snape comes into it more, and I don't know whether the misdirection turns out to be not that misdirected when it comes down to the real truth: but in the first book, you're meant to believe it's Snape all along, and I don't think J. K. Rowling does a very good job of giving us clues that it's not actually Snape, because she's so busy blackening him to lead people astray.

That's why I don't like Rowling's writing. It's not particularly refined, it's unsubtle -- and that's okay, you know, I'm not saying you can't enjoy that, can't find it refreshing. I don't. I'm also not saying that 'novels' are bad -- they're good, they can provide valuable escapism, they can be incredibly rich fodder for the imagination, and I suspect Harry Potter is, for many children. But I don't call it literature, and I myself don't like it.

Note: the three star rating is because honestly, when I first read it, I did love it.

Monday, January 9, 2012

Mengkritik Kritikus

Seringkali orang mengkritik sebuah karya berdasarkan standarnya sendiri, ukurannya sendiri. Misalnya, ia melihat ada sebuah dunia yang sangat berbeda dari filosofinya, maka kemudian ia mengatakan hal itu jelek.

Sungguh menggelikan lagi adalah bila si pengkritik itu begitu tajam mengkritik karya seorang novelis yang tidak dikenalnya sama sekali. Namun ketika ada novelis yang merupakan teman baiknya mengeluarkan sebuah buku dan sama kualitasnya dengan karya yang satu tadi, si pengkritik ini tidak setajam yang sebelumnya.

Seorang pengkritik memang harus memiliki pengetahuan luas. Namun satu kelemahan dari mereka yang berpengetahuan luas adalah : kesombongan. Merasa tahu banyak, lantas karena dalam sebuah cerita tidak sesuai dengan standarnya, lalu ia mulai kehilangan respek terhadap cerita tersebut dan saat itulah apapun yang terasa janggal sedikit akan langsung menjadi jelek.

Yah, namanya juga penilaian. Dan manusia memang seorang makhluk emosional.

Tapi ada juga yang kutemukan, seseorang mengkritik sengaja untuk menguji mental orang yang dikritik, untuk mencari-cari kesalahan sebagai teguran halus untuk orang yang dikritiknya bahwa ia masih banyak memiliki kekurangan, maka dari itu jangan sombong dulu, nih aku buktikan bahwa kamu tidak sebaik yang kau pikir. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Melihat pendapat-pendapat pribadi para pengkritik itu membuatku berpikir, lantas kritik yang enak itu seperti apa?

Mari menilik kembali dari dasar kata "kritik".

Kritik sejatinya adalah sebuah opini, pendapat, yang secara teknis membuatnya memiliki sifat subjektif. Kritik adalah sebuah pendapat yang melihat sebuah permasalahan sesuai dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimiliki seseorang berhubungan dengan penilaiannya terhadap sebuah perkara. Kritik biasanya bersifat teguran, maka dari itu kritik seharusnya bersifat membangun.

Karena kritik berawal dari penilaian subjektif seseorang berdasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan mereka pribadi, maka sebuah kritik terkadang menjadi bersifat "aku dan duniaku". Sebuah jenis kritik yang pada dasarnya menstandarkan apa yang ia terima sesuai dengan filosofi dia sendiri. Kritik seperti ini biasanya disebabkan oleh karena keinginan seseorang untuk mencari kesalahan target, opini pribadi yang terlalu ditunjukkan secara bebas, atau ada sebuah ketidak tahuan seesorang mengenai sesuatu yang membuatnya secara tidak sadar terdengar seperti sedang memaksakan pendapat pribadi.

Kita tidak usah membicarakan kritik yang disebabkan oleh karena keinginan seseorang untuk mencari-cari kesalahan target. Biasanya orang sudah bisa mengerti sendiri apa yang kira-kira sedang terjadi.

Saya lebih tertarik untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan lainya, pertama, "opini pribadi yang terlalu ditunjukkan secara bebas".

Memangnya salah memiliki opini pribadi?
Tidak salah, tidak ada yang salah dalam berpendapat. Lagipula negara Indonesia sendiripun adalah negara demokrasi. Yang akan kupermasalahkan adalah soal opini pribadi yang dikemukakan terlalu bebas sehingga ia malah jadi melenceng dari tujuan asalnya : mengkritik.

Misalnya seseorang melihat sebuah tulisan yang tidak menarik minatnya, lantas kemudian ia menjelek-jelekkan karya itu.

"Ini kok ga ada si ini sih?"
"kok si itu ga muncul?"
"harusnya kaya begini nih..."
"ini salah, ga mungkin ini kaya gini."
"kok ga ada meriam?"

Kadang terpikir oleh saya, mereka ini sebenarnya sedang mengkritik atau sedang ingin mengadopsi cerita yang bersangkutan menjadi ceritanya sendiri?

Bila kelak anda menerima kritik seperti ini, balasannya sangat simpel sebenarnya; "emangnya ga bole?"

Namun harap hati-hati dan kritik ini masih tetap layak untuk dipertimbangkan. Kalau memang masuk di akal, dan merupakan sesuatu yang terlewat dari perhatian kita, sebaiknya diterima saja. Tapi kalau hal yang dikritik itu adalah hal yang memang kita sengaja dan kita sadari, dan setelah dipikir-pikir kembali bahwa cerita yang kau angkat memang tidak salah tanpa adegan yang diusulkan si pengkritik, kau berhak membalas : "emangnya ga bole?"

Adapun kritik terparah adalah kritik yang didasari dari kesimpulan yang terlalu cepat dan penyelidikan yang kurang matang.

Misalnya menilik sebuah kejadian pemberontakan para bangsawan yang berkemah untuk menyerbu ibukota. Kemudian seseorang memberi asumsi buruk karena kata "pemberontakan" bersifat jelek, dan sudut pandang simpatinya berada di pihak kaisar. Maka orang itu akan menganggap bahwa yang dilakukan Yuan Shao, Sun Jian, Liu Bei dan Cao Cao itu adalah kesalahan besar dan sebuah dosa berat karena mereka bermaksud menggulingkan Dong Zhuo.

Padahal kita semua tahu bahwa Dong Zhuo adalah seorang tiran.

Tempo hari lalu saya mengemukakan pendapat bahwa "Pengalaman adalah riset terbaik untuk karya tulis".

Tentu saja orang-orang kemudian berusaha menyanggahnya dengan mengatakan "gak perlu lah, masa kita mau bikin cerita cewek diperkosa lalu kita harus ngerasain diperkosa??"

Entah bermaksud skeptis atau terlalu cepat menyimpulkan?

Maksud dari pernyataan itu adalah :
Seseorang yang menuliskan sesuatu yang pernah ia alami secara nyata, pasti bisa meraskan tension yang ia rasakan saat merasakan kejadian itu. Ia dapat menggambarkan dengan detail apa yang terjadi, maupun secara puitis.

Saat saya membaca prolog dari Silver Phoenix, saya terkesan dengan cara Cindy Pon mendeskripsikan adegan melahirkan. Biasanya orang mendeskripsikan adegan itu dari sudut pandang orang ketiga. Namun Cindy Pon mendeksripsikannya berdasarkan apa yang dirasakan sang selir secara emosional dan tense. Sungguh deskripsi yang begitu mengagumkan karena beberapa kata membuat saya merasa seperti sedang melahirkan.

Dari sana saya menilai bahwa Cindy Pon pasti sudah pernah melahirkan. Dan setelah kubaca biografinya, ternyata ia memang sudah memiliki dua orang anak. Cindy Pon bisa menggambarkan deskripsi melahirkan secara emosional dan berhasil menerapkan tension di dalamnya, karena ia sudah pernah melahirkan dan tahu apa yang ia alami.

Bukan berarti saya mengatakan bahwa kita harus melahirkan dulu sebelum menulis adegan melahirkan. Semoga anda tidak berpikir sebodoh itu. Yang hendak saya sampaikan adalah, sebuah kelebihan yang dimiliki seorang penulis yang menulis kejadian karena sebuah pengalaman nyata dibandingkan penulis yang sama sekali belum pernah merasakannya secara pribadi.

Sama-sama bisa tertulis dengan baik, namun harusnya ada nilai lebih dari yang ditulis seorang penulis empiris.

Ini juga pernah berlaku ketika saya menuliskan sebuah cerita tentang seorang pemuda dipukuli hingga babak belur di tengah kerumunan para sipil yang sedang menggenggam perkakas tani mereka sebagai senjata.

Bisa ditebak, kritik yang saya dapat adalah, "kok pada gak nolongin sih!?"

Anda setuju dengannya?

Secara ideal dan logika, memang seharusnya bersatu kita kuat bercerai kita runtuh. Namun pada penerapannya, kadang kita harus membuka kemungkinan juga bahwa masyarakat yang mengelilingi kita tidak semuanya berjiwa pahlawan dan pemberani. Bahkan sesungguhnya orang berani di lingkungan kita ini sangat sedikit. Satu banding berapa puluh.

Anda sendiri bila melihat ada orang dirampok, apakah anda mau menolong orang itu, sekalipun anda sedang bersama katakan 10 orang teman anda yang badannya tinggi besar?

Saya yakin anda berusaha untuk tidak memperhatikan agar para preman itu tidak menghampiri anda. Mungkin suasana di sekitar kalian akan menjadi hening mendadak sebagai wujud simpati terhadap orang malang yang dirampok itu. Inilah kenyataannya. Orang baru akan melawan bila ia atau temannya terancam. Tidak ada waktu untuk mengurusi orang asing. Setiap orang tidak mau menambah masalahnya sendiri. Hal ini yang kadang terlewat oleh para kritikus, bisa diakibatkan oleh karena kurangnya pengalaman nyata.

Saya sendiri mengalami langsung sebagai korban perampokan di sebuah bus. Leher saya dicekik, sebuah pisau buah murahan menodong perut saya, orang itu mencabut tas pinggang saya yang isinya hanya kertas-kertas bon dan uang sebesar 50 rupiah.

Disekitar saya ada sekitar 10 orang bapak-bapak dan beberapa ibu-ibu. Mereka semua melarikan diri ke dekat supir sambil menonton saya seperti menonton televisi. Dan parahnya, mereka terlihat bersyukur bahwa yang mengalami itu bukan mereka. Sama sekali tidak ada harapan seseorang melakukan sesuatu untuk saya.

Dan setelah para rampok itu pergi, dengan dahi bercucuran darah kental yang mengucur deras masuk ke dalam bibir saya, saya duduk ke depan dan mengadu pada mereka, "Kok ga pada nolongin sih?"

Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan si kritikus, bukan?

Tahu apa jawaban mereka?

Seorang pemuda tegap, sehat dan bertubuh tinggi besar balik memarahi saya, "lo gila ya!? kalo gue nolongin lu gue yang celaka!"