My Blog List

Friday, December 16, 2011

Silver Phoenix (Kingdom of Xia, #1)Silver Phoenix by Cindy Pon

My rating: 3 of 5 stars


Awalnya saya tidak berniat membaca novel ini karena saat novel ini ada dalam genggaman saya, saya sedang dalam masa UAS. Namun kemudian teman saya menanyakan pendapat saya tentang novel tersebut, maka saya coba untuk melihat sekilas saja prolognya. Tadinya ingin membaca satu atau dua paragraf, namun ternyata saya tidak bisa berhenti membacanya. Buku ini seperti menjerat saya dengan kata-katanya yang sangat mengalir sekalipun hanya novel terjemahan. (kadang bahasa terjemahan tidak seindah bahasa aslinya)



Akhirnya saya memutuskan untuk membaca novel ini saat sedang dalam perjalanan di dalam bis untuk sekadar mengisi waktu kosong daripada saya pakai untuk tidur.



Saya begitu takjub dengan kekuatan narasinya yang sangat lekat untuk mata, ini salah satu novel yang membuat saya merasa bosan ingin menutup bukunya, tapi tidak bisa karena terjerat kekuatan narasinya. Dan ini menjadi novel tercepat yang pernah saya baca. Hanya butuh waktu satu minggu untuk melahap seluruh ceritanya yang menawan dan membuat penasaran sekalipun ada beberapa hal yang menurut saya terlalu dipaksakan.



Dan saya suka cara dia mengakhiri reign Dark Lord itu. Kiss of Death.





Silver Phoenix mengisahkan tentang cerita masa lalu Silver Phoenix dengan Zhong Ye, rahasia latar belakang Chen Yong, tentang Ai Ling yang berjuang menyelamatkan ayahnya. Namun yang saya sayangkan adalah hingga akhir, masih belum jelas siapa itu Silver Phoenix dan bagaimana kehidupnnya. Barangkali sempat diceritakan di pertengahan cerita (saat berada di Dunia Atas) namun mungkin saat itu saya sedang "hajar blas" sehingga tidak mencerna isi ceritanya dengan baik.



Bagian termenakjubkan kedua setelah kekuatan narasinya adalah deksripsi makhluk-makhluk setan dan mistik nya yang begitu jelas dan kreatif. Sekalipun tertulis di bagian akhir buku bahwa monster-monster itu terilhami (atau mungkin diambil) dari hewan-hewan mitologi China. Mungkin ini pertama kalinya saya membaca genre Dark-Fantasy dalam bentuk novel. Sekalipun tidak terlalu mampu memberikan kesar horor atau teror, namun saya merasa cukup pantas untuk di sebut Dark-Fantasy. Satu hal yang saya sayangkan lagi adalah kematian Permaisuri. Saya mengharapkan sebuah kematian indah dan juga kematian Selir (Ibu Chen Yong) yang juga saya harapkan dibunuh dengan "sedap" tapi ternyata hanya seperti itu.



Bagian ketiga yang membuat saya menyukai cerita ini adalah kebudayaan China yang diangkat terasa cukup kental. Saya banyak mengetahui hal baru tentang kebudayaan China terutama dari sudut pandang kaum hawa berkat buku ini. Tetap ada "tapi" nya, saya sangat menyayangkan percakapan antar karakternya (terutama Li Rong) yang menurut saya adalah dialog-yang-sangat-Amerika. Percakapan-percakapan yang sangat Amerika ini seringkali mementalkan saya dari dunia Xia yang kaya akan makhluk mistik menjadi ke dunia film-film amerika terutama film remaja yang kehidupannya berkisar tentang sekolah dan jokes-jokes para siswanya yang khas seperti itu.



Battle scene ... kurang begitu istimewa. Banyak informasi dalam battle scene yang harus saya baca ulang karena membuat saya "Zone out" saat membacanya. Tapi cara monster-monster itu bertindak sangat keren dan tidak monoton.



"Marry Sue" ... ada, sedikit, sempat bingung juga bahwa gadis yang tidak laku-laku ini ternyata begitu keluar dari rumah jadi incaran beberapa orang di sekitarnya dan beberapa kali disebut-sebut "cantik".



Karakteristik ... entahlah, saya tidak menemukan ada sifat yang menonjol selain Li Rong dan mungkin sifat khas Chen Yong yang suka membaca buku.



Secara keseluruhan cerita ini layak dibaca, tapi saya tidak tahu apakah berniat untuk membacanya sekali lagi atau tidak.



Oh ya, ini 17+



View all my reviews

Monday, October 24, 2011

Salah Satu Proses Belajar Penulis Fantasi

Sejak memutuskan untuk serius menulis novel dan menetapkan bahwa saya harus berhasil di bidang ini, saya mulai menulis sebuah naskah dan menunjukkannya kepada sekelompok orang untuk mengira-ngira, seperti apa kira-kira tanggapan mereka terhadap karya saya. Ternyata tidak ada satupun orang yang menyebutnya bagus, menyanjungnya, terkesan dengan karakternya, atau menghargai ceritanya. Paling hanya beberapa orang baik yang rela membaca ceritanya hingga selesai dan memberikan feedback seikhlasnya.

Awalnya saya tidak mengerti, saya yakin sekali bahwa cerita buatan saya layak terbit dan tidak jelek. Tapi kenapa tidak ada apresiasi seperti yang saya harapkan? Bahkan beberapa proof-reader harus kabur dari saya karena mungkin takut ditagih sementara mereka belum selesai baca. Kemudian saya mulai melakukan pendekatan-pendekatan dengan tujuan untuk mengetahui sebenarnya karya seperti apa sih yang diterima?

Setelah mengalami beberapa proses pengenalan dan penyelidikan, akhirnya saya menemukan kenapa karya saya itu tidak terlalu diminati.

1. tulisan saya kurang "nyastra"

2. karakter-karakternya amburadul

3. banyak plothole fatal

Dan semua itu terjadi karena memang saya masih benar-benar newbie. Newbie yang sangat ambisius dan tidak sabaran. Saya tidak sadar bahwa untuk bisa menulis dengan baik, kita harus menulis seperti novelis, harus memahami psikologi dan harus tahu bagaimana cara berfilsafat.

Suatu hari ayah saya datang dan berbicara pada saya, ia ingin saya kuliah lagi untuk memperoleh gelar, ia rela keluar uang agar saya bisa terjamin masa depannya. Mengingat di Indonesia, orang yang bergelar pun sulit mendapat pekerjaan, maka saya mau tidak mau harus mengikuti arus.

Saya tetap pada keputusan saya untuk menjadi seorang penulis fantasi. Karena sedari kecil hingga sekarang, yang saya lakukan tidak lain adalah berkhayal, bermain game, berpikir abstrak, bertindak abstrak ... bahkan keluarga saya pun bingung pada saya karenanya.

Setelah menganalisa dari karya-karya fantasi dunia yang sukses, termasuk diantaranya Arthurian Legend, Sam Kok, William Shakespeare, dll, saya mendapati bahwa ternyata kuliah yang paling tepat bagi penulis fantasi barangkali bukanlah jurusan sastra.

Dalam kisah Fantasi, kita dituntut untuk sedapat mungkin bisa menciptakan konsep sendiri. Antara lain :

1. konsep dunia

2. konsep metafisika

3. konsep penciptaan


dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai :

1. kepribadian manusia, apa yang akan dilakukan seseorang bila ...

2. dampak revolusi

3. kenapa bisa terjadi tirani dan pemberontakan?

4. logika

5. etimologi

Maka dari itu, menurut saya seorang penulis fantasi hendaknya mengetahui banyak soal Kosmologi, metafisika, mitologi, psikologi, sosiologi, logika dan mengolah analisa dari sebab akibat yang berhubungan dengan peristiwa nyata, yakni sejarah.

Semua ilmu yang dibutuhkan bagi seorang penulis fantasi, ada di dalam kuliah Filsafat.

Bila kau yang membaca notes ini, hendak serius ingin menjadi penulis fantasi, saranku, ambillah jurusan filsafat.

Barangkali JK. Rowling dan JRR Tolkien tidak mempelajari filsafat secara khusus. Dan beberapa orang mungkin berpendapat bahwa mengambil kuliah filsafat hanya untuk menulis itu sangat ribet dan berlebihan. Tapi saya sendiri sejak masuk kuliah, merasa malu pada karya-karya saya yang dahulu, menyadari bahwa ternyata secara ilmu kosmologi dan lain-lain, karya saya itu sangat ngawur! Jurusan filsafat bisa mengarahkan seorang calon penulis fantasi untuk mempelajari proses penciptaan yang umum digunakan penulis zaman purbakala dalam menciptakan mitos.

Lagipula hidup ini sebenarnya penuh dengan filosofi. Bahkan seorang tak berpendidikan hingga penjahat pun bisa berfilosofi. Maka dari itu, bila kau menciptakan sebuah karya tanpa filosofi yang kuat, karya itu sudah pasti tidak akan bertahan lama. Kalaupun bisa dikenang, barangkali dia hanya eksis sebagai karya pop, ringan, bahkan mungkin tak jarang orang menyebutnya "karya dangkal".

Sunday, October 23, 2011

New Project : Mythology of Adamos

Cerita baru yang tidak benar-benar baru, sebenarnya. Adamos adalah cara orang-orang Amoura menyebut "Gaia". Seperti yang saya konsepkan, "Bumi" dalam realm Kosmos ku ini tidak memiliki nama pasti. Pada lain daerah, lain pula namanya. Namun secara umum, mereka sepakat untuk menyebutnya "Adamos", yakni setelah tahun 1700 GD, dimana masyarakat telah membaur dengan dunia luas dan globalisasi, era pelayaran keliling dunia secara besar-besaran telah menciptakan balapan eksplorasi dunia secara tidak langsung. Era ini dipelopori oleh meninggalnya Zhuge "Jethro" Guthree (1486 - sekitar pertengahan abad 16 GD) setelah buku hariannya diterbitkan oleh putranya pada penghujung abad ke 17.

Setelah masa globalisasi dan eksplorasi melalui pelayaran, tak lama dari daerah Passifica, tren ini membuat penciptaan airfish kembali memarak setelah sebelumnya alat transportasi udara ini hanya menjadi barang mewah khusus kendaraan plesir para bangsawan saja, mengingat pembuatannya yang memerlukan biaya yang tidak sedikit dan filosofi manusia Passifica untuk menghormati langit sebagai wilayah kudus yang suci.

Saat manusia menemukan daerah baru, mulailah timbul penjajahan dan kolonialisme. Pencampuran budaya pun terjadi dimana-mana dan lambat laun, ketika memasuki tahun 2000, tersiar kabar bahwa para Animus mengunjungi pemimpin Passifica yang saat itu menjadi adi kuasa, membicarakan masalah kemanusiaan dan peperangan. Animus ingin dunia manusia yang terkendali dan damai, atau mereka terpaksa bekerja sama dengan para Ogre di Tartarus untuk membinasakan manusia seperti mereka membinasakan Era para Dragon ribuan tahun silam.

Manusia berhasil membuat kesepakatan dengan para Animus yang menghasilkan sebuah keputusan untuk mengadakan perdamaian secara menyeluruh. Kini dunia mengalami masa damai dan hidup harmonis. Pertukaran pelajar dan budaya menjadi tren baru dunia. Dari ribuan kebudayaan dan mitologi yang ada, rupanya mitologi bangsa Amoura lah yang dinilai paling rasional dan paling masuk akal. Mitologi ini menjadi populer dan akhirnya disepakatilah untuk menyebut planet ini dengan nama "Adamos", sebagaimana masyarakat Amoura menyebutnya.

Kisah-kisah dalam Mythology of Adamos berisi tentang mitologi Amoura yang sarat akan filosofi mereka tentang kosmologi. Masyarakat Amoura suka sekali dengan kosmologi dan merekalah yang membagi dunia ini berdasarkan beberapa klasifikasi.

Secara umum masyarakat di dunia membagi ras dalam 4 garis besar, Manusia, Animus, Ogre, dan Dragon. Namun masyarakat Amoura membagi dunia dalam 5 garis besar, Humanoid, Ogre, Dragon, Animalia dan Persona.

"Persona" dalam mitologi daerah lain tetap ada, namun mereka mengkelaskan Persona ke dalam klasifikasi spiritual, berbeda dengan dunia Kosmos, manusia, Animus, Ogre dan Dragon yang dikategorikan sebagai kelas material. Bagi daerah lain tersebut, kelas spiritual ini sejajar dengan Aether, Force-Aether, emosi, dunia Astral, dan arus jiwa-jiwa.

===========================

Mitologi Adamos berkisah tentang mitologi-mitologi menurut masyarakat Amoura. Saya baru sempat mengerjakan satu cerpen dari mitologi Adamos, yakni kisah tentang Sodia dan Oqeanos.

Saya sangat puas dengan kisah Sodia dan Oqeanos. Menurut pendapat saya pribadi, cerpen dengan words berjumlah tidak sampai 2500 kata ini memuat banyak hal dan filosofi, sehingga cerita ini terkesan singkat, namun juga padat akan pesan dan filosofi. Saya tidak sabar menanti para pembaca untuk memetik sendiri apa saja yang hendak saya sampaikan dalam kisah Sodia dan Oqeanos.

Rencananya, Mitologi Adamos ini akan saya seriusi dan paling tidak harus membicarakan bagaimana dunia tercipta menurut masyarakat Amoura, serta kemudian kisah tentang langit, bumi, laut, api, dan bagaimana manusia tercipta, menurut masyarakat Amoura.

========================
Amoura memegang peranan cukup penting dalam kisah Riwayat Forgo (Chronicles of Forgo, sekitar 300-600 GD). Dalam perjalanannya menemukan Haven, Forgo dan Galeno akan singgah di Amoura dan bertukar pikiran dengan masyarakat di sana yang cukup ribet dan suka berdebat kusir dan berfilosofi.

Friday, September 30, 2011

John Legend - Ordinary People

Girl, I'm in love with you
But this ain't the honeymoon
We've passed the infatuation phase
We're right in the thick of love
At times we get sick of love
It seems like we argue every day

I know I misbehaved
And you made your mistakes
And we've both still got room left to grow
And though love sometimes hurts
I still put you first
And we'll make this thing work
But I think we should take it slow

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cause we're ordinary people
Maybe we should take it slow

Take it slow, oh oh, this time we'll take it slow
Take it slow, oh oh, this time we'll take it slow

This ain't a movie, no
No fairytale conclusion y'all
It gets more confusing every day
Sometimes it's Heaven sent
Then we head back to Hell again
We kiss, then we make up on the way

I hang up, you call
We rise and we fall
And we feel like just walking away
As our love advances
We take second chances
Though it's not a fantasy
I still want you to stay

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cause we're ordinary people
Maybe we should take it slow

Take it slow, oh oh, this time we'll take it slow
Take it slow, oh oh, this time we'll take it slow
Take it slow

Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay
Maybe you''ll leave
Maybe you'll return
Maybe another fight
Maybe we won't survive
Maybe we'll grow
We'll never know
Baby, you and I

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cause we're ordinary people
Maybe we should take it slow, hey

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cause we're ordinary people
Maybe we should take it slow

Monday, September 19, 2011

Folktale : The Story Behind The Writings (4)

Selain tema tentang balas dendam, satu hal yang semakin kentara dari kisah Folktale ini adalah : Romantisme.

Romantisme memang salah satu daya yang memikat saya untuk menulis cerita ini. Entah mengapa pasangan yang terjodohkan melalui intuisi semata ini membuat saya tersenyum dan tertawa sendiri saat mengetik kisah mereka dan membaca ulang beberapa kali. Tidak ada rasa aneh yang agak abnormal seperti ketika saya menuliskan pairing Zuko-Katara atau Zoro-Nami.

Pertama saat menuliskan masa kecil mereka, saya putuskan bahwa chapter awal ini kelak akan sering muncul di chapter-chapter belakang, terutama ketika Permaisuri Zhang dipisahkan dengan Guan Suo dan harus menggunakan topengnya dimana ia sebagai permaisuri yang sangat mencintai suaminya. Maka dari itu, kisah masa kecil ini harus tertulis sangat manis dan membuat tersenyum. Saya berusaha menuliskan kisah anak-anak dengan kenakalan dan ledekan-ledekan khas mereka. Tentang bagian dimana Guan Suo memamerkan gigi ompongnya itu, saya tidak tahu dapat dari mana, saya sendiri waktu kecil tidak suka memamerkan gigi ompong saya atau mengenal seorang pun yang seperti itu. Tapi saya tahu bila hal ini dituangkan, akan menjadi sangat menyebalkan sekaligus lucu.

Pada perkembangannya, mereka hidup terpisah, perasaan Guan Suo tetap sama. Ketika ia mendapatkan istri cantik yang didapat dengan menaikkan gengsinya pun, perasaan Guan Suo pada Xing Cai tidak berubah. Saya gambarkan sebaik yang saya bisa pada chapter 5 mengenai kegalauan hati Guan Suo yang tidak bisa lepas dari pesona Xing Cai yang menurutnya tidak lebih cantik daripada Bao Sanniang. Maka kesimpulannya rasa tertarik ini bukanlah berasal dari ketertarikan fisik. Pada usia yang sama, mengenai perubahan perasaan Xing Cai terhadap Guan Ping yang beralih ke Guan Suo akan dijelaskan pada chapter 10.

Pada dasarnya ini adalah sebuah kisah cinta tentang seorang lelaki yang hanya mencintai satu wanita saja seumur hidup, dan ternyata cintanya berhasil berbekas di hati wanita itu yang membalasnya. Seharusnya simpel dan sederhana, hingga hidup serba kekuranganpun terasa lebih bahagia daripada hidup bergelimang harta. Namun sayangnya percintaan mereka menjadi rumit ketika dicampur adukkan dengan takhayul dan politik. Mereka pun bingung menentukan siapa yang mereka khianati, kekasih mereka atau pasangan mereka?

Hingga terakhir cerita, saya berikan sedikit hint bahwa cerita ini jelas akan berakhir tragis bagi kedua belah pihak, sama seperti sebagian besar cerita-cerita rakyat China yang berbasis cinta. Entah mengapa sepertinya orang pada zaman dahulu begitu suka dengan kisah cinta yang berakhir tragis atau kisah cinta "Star Crossed Lover" yang melawan takdir.

Dalam membangun kisah percintaan mereka berdua, saya sedikit banyak terinspirasi dari lagu-lagu barat dengan lirik romantis seperti misalnya :
  • Ewan McGregor ft Nichole Kidman - Come What May
  • Alicia Keys - If I ain't Got You
  • Bruno Mars - Talking to The Moon (Jason Chan cover)
  • Jim Brickman - My Valentine
Dan pada Chapter 22, saya begitu terinspirasi dari alunan musik dari lagu Bruno Mars ft Natasha Bedingfield - Again. Mengabaikan keseluruhan liriknya, ada beberapa bagian lirik yang terasa pas, dan terutama irama lagunya begitu pas dengan suasana pada chapter itu.

Kalau boleh jujur, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis sendiri ketika menulis adegan pada chapter 19 dan bagian awal chapter 21. Sekalipun ketika membaca ulang, emosi menulis itu sudah hilang. Tapi semoga bagian tersebut cukup menyentuh, karena di sanalah greget dari cerita ini.

to be continued ...

Folktale : The Story Behind The Writings (3)

Mari berbicara mengenai karakteristik tokoh-tokoh dalam cerita Folktale.

Xing Cai ini saya karang sebagai Phoenix Hitam yang mana menimbulkan kesialan bagi pemberi hidupnya (mengingat Phoenix biasanya dihubung-hubungkan dengan kehidupan). Untuk itu dalam character buildingnya, saya tetapkan bahwa gadis ini akan hidup ditakuti ibunya sendiri. Saya bayangkan pasti berat hidup seperti itu, maka masa kecil Xing Cai saya gambarkan sebagai gadis melankolis yang agak kikuk dan mudah dikerjai orang. Saya harap pada perkembangannya dimana ia berubah menjadi Permaisuri Zhang, tidak dinilai OOC. Pada dasarnya, ulat itu memang berubah menjadi kupu-kupu.

Sementara Liu Shan adalah si Naga Hitam yang menimbulkan kesialan bagi rumahnya. (mengingat naga adalah simbol kemakmuran). "Rumah" itu bisa menjadi beragam arti, dan rumah di sini berarti adalah negara. Pada cerpen Folktale : Emperor's Broken Heart, saya gambarkan Liu Shan tidak bodoh, hanya mengalami kelainan berpikir, terungkap dari ucapan Guan Suo ketika ditanyai pendapatnya mengenai strategi Liu Shan dalam mengalahkan Cao Cao; "Kaisar sangat cerdas, hamba yang bodoh ini sampai tidak mengerti kemana anda berpikir."
Liu Shan di sini kembali seperti based on DW7, dimana wajahnya tampak seperti Buddha tersenyum. Dari senyum itu saya putuskan bahwa Liu Shan adalah seorang lelaki dengan pikiran sederhana yang hanya ingin kehidupan sederhana, tidak peka terhadap circumstance (situasi) dan selalu berpositif thinking. Karena itu ia agak malas dan otaknya tidak kuat untuk mengurus kepentingan negara. Maka dari itu ia sangat mengandalkan Xing Cai dalam mengurus administrasi, masalah, perkembangan negara dan petisi-petisi rakyat yang pasti tidak sedikit jumlahnya.

Sedangkan Guan Suo, ... saya yakin deskripsi hidupnya sudah tergambar jelas di dalam cerita. Saya menggambarkan dia penuh dengan luka parut, akibat dari perang pertamanya yang dalam usia yang mana dianggap masih terlalu muda, 17 tahun, ia bertempur dalam pertempuran sulit dimana pasukan terdesak dan dikeroyok oleh 2 kekuatan besar, Wei dan Wu, dikhianati dan terjebak dalam kebingungan dan pertaruhan harga diri. Pastilah perang itu sangat berat bagi Guan Suo sehingga wajar bila memberikannya oleh-oleh beberapa luka parut di wajah. Rambutnya yang pendek saya dedikasikan untuk foto Guan Suo pada game ROTKX yang membuat saya tertarik dengan karisma aneh ini. Dan karena Guan Suo ini suka berjalan-jalan melalui desa-desa kecil dan terisolasi, maka saya bayangkan ia berpakaian seenaknya sehingga pada Chapter 10, Ma Dai mengiranya sebagai gembel yang mencurigakan dan menahannya, mempertemukannya dengan Zhuge Liang untuk pertama kalinya.

Guan Yu di sini saya gambarkan sebagai ayah yang tegas dan sangar tanpa selera humor. Ia berusaha sebaiknya menjadi ayah, tanpa sifat melankolis yang saya temui di film The Lost Bladesman, berusaha menyerap dan mengimplementasikan sebaik yang saya bisa dari yang saya serap mengenai kepribadiannya selama membaca novel Sam Kok. Guan Yu cukup senang dengan filosofi dan suka mengintimidasi orang-orang yang tidak disukainya atau diremehkannya. Walau begitu, ia paham betul apa itu kehormatan. Walau peristiwa akhir hidupnya membuat saya mulai merasa bahwa ia sedikit gegabah seperti yang dideskripsikan KOEI mengenai Guan Suo di ROTKXI.

Guan Ping di sini adalah semacam "guardian angel" bagi Guan Suo. Hal ini saya traits kan berdasarkan apa yang pernah saya baca mengenai relasi Guan Suo dengan Guan Ping yang cukup menakjubkan.
1. Guan Ping = Guan Suo itu sendiri. Ia diselamatkan dari perang akhir, Zhou Chang yang tewas bersama Guan Yu. Guan Suo adalah nama alias Guan Ping.
2. ada sebuah versi menyatakan bahwa ibu Guan Xing adalah wanita yang diberikan Liu Bei pada Guan Yu, namun ibu Guan Ping dan Guan Suo adalah sama; Hu Jinting.

Guan Xing. Versi novel dan sejarah yang saya baca begitu berbeda, dan saya berusaha untuk menggabungkan keduanya, dimana Guan Xing si anak periang yang serba bahagia semasa kecilnya, tidak ikut serta pada perang di Fancheng (hal ini juga sedikit banyak membuat saya sangsi bahwa Guan Xing lebih tua dari Guan Suo yang disebut2 ikut serta dalam pertempuran itu). Pewaris Blue Dragon setelah membunuh Pan Zhang, di sini saya gambarkan karena ia sakit-sakitan, Zhuge Liang enggan membawanya dalam pertempuran jarak jauh. Bila saya menjadi Guan Xing, sudah pasti saya akan merasa tersinggung. Maka dari itu saya gambarkan hubungan antara Guan Xing dan Guan Suo agak meretak pada bagian akhir cerita.

Pendeta Tao saya ciptakan sebagai sahabat Guan Suo. Aslinya karakter ini pun disebut-sebut dalam Legend of Hua Guan Suo. Hanya saja perannya di sana adalah sebagai guru Suo Tong yang kemudian memberitahukan padanya bahwa ia adalah anak jendral Guan Yu. Sejak itu Suo Tong mengganti namanya menjadi Guan Suo. Kalau tidak salah, aslinya Pendeta Tao ini berasal dari marga "Suo". Dan darisanalah Guan Suo mendapatkan nama "given" nya.

Ma Dai adalah salah satu tokoh yang membuat saya tertarik, sama seperti Guan Suo dan Xiahou Ba. Hanya mungkin karena kisahnya sudah jelas, jadi saya tidak memiliki hasrat menggebu untuk melacaknya segila Guan Suo. Ma Dai saya gambarkan sebagai Ma Chao kecil, dimana ia begitu berdedikasi dan anak buah kesayangan Zhuge Liang. Saya tambahkan Ma Dai memiliki insting yang sangat baik dalam bersosialisasi. Ia juga orang yang cukup tegas dan tidak ragu dalam membedakan tugas dan persahabatan.

Mengenai Zhuge Liang, sepertinya tidak terlalu banyak perubahan dari Zhuge Liang yang saya baca di novelnya. Atau setidaknya Zhuge Liang yang ada dalam benak saya. Sewaktu muda Zhuge Liang masih memiliki ketenangannya. Namun semenjak kematian Kaisar Liu Bei, ia mulai disibukkan dengan urusan negara. Dan saya sadari bahwa ia berkepribadian agak tertutup dan tidak mudah percaya pada oranglain, tidak terlalu pintar melihat orang berbakat. Zhuge Liang semakin emosional di ujung usianya.

Bao Shanniang saya gambarkan sebagai gadis emosional, pemarah, pencemburu dan cerewet. Ia juga pandai berkelahi, banyak ahli kungfu yang menantangnya namun tidak ada yang berhasil menakhlukkannya. Namun tentunya saya tidak akan lupa mengutip surat tantangan Guan Suo yang membuat Bao Shanniang tersinggung bukan main sehingga tanpa pikir panjang segera menyambar senjatanya dan kudanya untuk menyambut tantangan duel Guan Suo.

"Ever since our acestors spoke of Taihang,
I've never heard about Bao Sanniang."

Sebuah surat tantangan yang begitu pragmatik sekaligus tajam dan menyinggung. Membuat saya berpikir bahwa Guan Suo pastilah memiliki selera humor getir dan tahu betul bagaimana cara meledek seseorang.

Zhao Zilong hanya muncul sedikit dalam cerita ini, namun ia memiliki bagian yang sangat penting. Dan menurut saya bagian ini sebaiknya memang diisi oleh Zhao Zilong, bukannya Wei Yan atas beberapa pertimbangan. Sesuai dengan tanggapan saya mengenai beliau seperti yang tersirat di novelnya, Zhao Zilong saya gambarkan berdedikasi pada tugasnya, serius dan sangat memikirkan kehormatan tuannya, Liu Bei.

Hua Man adalah karakter minor yang muncul sebagai "gadis amazon". Tentunya agak ooc bila saya menyebutnya "Gadis Amazon", mengingat ini ada di China, bukan Amerika. Namun mengawinkan Meng Huo dan Zhu Rong dalam pikiran saya memang melahirkan anak perempuan yang kira-kira seperti itu. Ia memiliki kode etik seperti Xing Cai dalam pertempuran, namun memiliki emosi cenderung kalem yang kontras dengan Bao Sanniang. Ia lebih dewasa dibanding Xing Cai yang masih bisa membiarkan diri terhanyut dalam pergolakan emosinya.

Chen Shou, sangat misterius. Di masa damai, namanya tidak pernah terdengar sebagai seorang penting seperti Zhang Shao. Seakan ia muncul entah darimana yang kemudian diangkat oleh Sima Yan sebagai penulis catatan perang tiga negara. Beberapa ahli sejarah menyimpulkan secara deduksi bahwa Chen Shou adalah putera dari Chen Shi. Namun pernyataan ini juga tidak memiliki bukti yang mendukung atau bisa dipercaya.
Chen Shou adalah orang cerdas dan teliti, berhati-hati dalam menuliskan sejarah record of Three Kingdoms. Orang ini penuh pertimbangan sehingga tidak ada yang tahu kenapa ia memutuskan untuk tidak menyinggung beberapa nama, termasuk diantaranya Guan Suo yang bahkan membunuh beberapa orang penting dalam sejarah (di cerita ini). Tapi, kenapa ia memutuskan untuk menghilangkan tokoh Guan Suo dari sejarah dan tidak menyinggungnya sama sekali? Bisa dibilang tokoh inilah yang bertanggung jawab atas judul kisah ini.

to be continued...

Folktale : The Story Behind The Writings (2)

Seperti yang sudah saya sebutkan dalam perkenalan Folktale yang telah saya upload di Fanfiction.net (versi asli non sensor untuk adegan panas) dan wattpad.com (versi sensor), Folktale akhirnya saya publish sebagai bentuk tribute pada kisah Guan Suo yang selama ini selalu membuat saya penasaran sekaligus terinspirasi.

Cerita ini tidak bermaksud untuk saya jadikan cerita orisinal dan dikirim ke penerbit (modal nekat), namun saya tulis secara serius (dan saya benar-benar kewalahan menuliskan lokasi-lokasi yang bersangkutan, terutama tempat kelahiran Guan Suo). Sebelum saya menyelesaikan novel original saya, The Seer, yang sedikit banyak dasar inspirasinya juga berhubungan dengan riset ini.

Anggap saja cerita ini semacam tumpeng syukuran sebelum saya memulai langkah pertama saya untuk menjadi pencerita yang sesungguhnya (menerbitkan buku, ceritaku dibaca dan disukai, syukur2 ceritaku bisa menginspirasi dan menyentuh hati pembaca sehingga mereka pun terinspirasi).

Saya sangat menikmati menulis cerita Folktale, bisa dibilang cerita ini adalah pakem dari cikal bakal cerita-cerita yang kelak akan saya tulis dan publikasi.

Saya sempat kesulitan mencari tahu siapa saja yang bertanggung jawab atas kekalahan Guan Yu di Fancheng sehingga mengakibatkan kematiannya dengan putra angkatnya yang tragis sekaligus mengharukan.

Sempat salah orang antara Fu Shi Ren dengan Fa Zheng.
Sempat lupa dengan Mi Fang, Liu Feng dan Meng Da.
Bilapun saya tidak memainkan ROTKXI di PC, saya tidak akan ingat dengan Pan Zhang dan Ma Zhong. Maka saya putuskan untuk riset ulang dan mencatat siapa-siapa yang kiranya menjadi target bagi Guan Suo.
Adapun target aslinya adalah seputar Lu Xun, Xu Huang dan terutama Lu Meng.

Saya semakin girang ketika mengetahui bahwa menurut catatan aslinya, Lu Meng meninggal karena sakit misterius yang tidak bisa disembuhkan sekalipun Sun Quan telah menyebar sayembara. Dan saya mencium novel ini begitu membaca bahwa Lu Meng tewas karena arwah Guan Yu. Terpikir oleh saya untuk menggabungkan keduanya dan menghubungkannya dengan jalan hidup Guan Suo. Apalagi tampaknya plot ini sudah direstui di cerita Legend of Hua Guan Suo.

Tentang kematian Ma Zhong yang dikhianati oleh Mi Fang di novelnya, saya memiliki pendapat lain. Akan lebih terhormat bagi Ma Zhong bila ia juga tewas di medan perang, bukan? Kebetulan plot Yi Ling masih terlalu datar dengan hanya adegan Xing Cai membunuh Ding Feng.

Selanjutnya, saya ingat betul apa yang terjadi sewaktu Guan Xing mendapatkan kembali senjata ayahnya. Sementara bandingannya dengan sejarah aslinya, Guan Xing ini bukan panglima yang cukup penting tampaknya. Saya lihat jabatannya hanya semacam inspektur, tidak sehebat yang di novel. Barangkali Pan Zhang memang melihat arwah Guan Yu, barangkali yang ia lihat hanya halusinasi atas sesuatu hal?

Untuk bagian Mi Fang, saya sampai kelupaan pada orang ini. Akhirnya saya sempatkan diri untuk membandingkan kisah historisnya dengan kisah novelnya. Ternyata baik di novel maupun di catatan historisnya, sama-sama hidup menanggung malu. Di novel, Mi Fang kembali mengkhianati Sun Quan setelah mengkhianati Liu Bei, kemudian dipenggal Guan Xing. Sementara di sejarah aslinya, ia hidup disindiri oleh Yu Fan sebagai pecundang berhubungan dengan kematian Guan Yu. Dan setelah membantu He Qi menumpas pemberontakan di Qichun pada tahun sekitar 225-227, tertulis bahwa setelah peristiwa heroik itu, Mi Fang tidak terdengar lagi. Akal kreatif saya pun mulai bereaksi.

Terakhir bagian Lu Xun ... bagian ini adalah bagian favorit saya. Maka dari itu sekalipun saya adalah pecinta spoiler, saya tidak mau menspoilkan bagian ini. Yang pasti, adegan ini sudah berkali-kali pop-up dalam benak saya sejak saya menulis di chapter 10. Dan saya butuh bersemedi sampai beberapa hari lamanya hingga akhirnya membentuk writer's block cukup lama. Sebelum menemukan jalan keluar bagaimana cara menghubung-hubungkan plotnya yang saya rasa agak tricky dan berpotensi untuk berantakan bila tidak hati-hati atau terburu-buru menuliskannya, saya putuskan untuk mengikuti slogan A-Mild : "Just Go A-head". Voila! Jari saya mengetik seperti air terjun dan saya sangat puas dengan hasilnya, chapter 18 ini saya baca berulang kali dan tidak bosan-bosan juga.

Bagian target terakhir, saya rencanakan Xu Huang mati juga, tapi hingga sekarang belum saya tulis apapun mengenai ini di naskah asli, jadi belum berani menuliskan apapun di sini.

to be continued...