My Blog List

Wednesday, January 11, 2012

Kritik yang dialami oleh karya besar

Harry Potter, sebuah karya masterpiece yang menjadi icon masa mudaku. Banyak kisah yang terinspirasi dari sana. Saya tidak pernah membaca Harry Potter dan hanya tahu sedikit-sedikit mengenainya dari komentar orang di internet. Namun satu hal yang saya simpulkan dari serial ini adalah : karakteristiknya yang luar biasa.


sumber : 9gags

Bagi saya, karakter yang berhasil adalah karakter yang mampu mempermainkan perasaan pembacanya, memberi inspirasi, atau mengubah hidup pembacanya. Saya baru temukan karakter seperti ini dari San Guo Yan Yi, Guan Yu dan Zhuge Liang, kemudian dari Berserk, Guts dan Griffith, dan terakhir One Piece, karakter minor bernama Doktor Hirluk (majikannya Tony Tony Chopper).

Sekalipun karya besar tidak akan luput dari kritik pedas dan sebuah peremehan. Tidak pelak juga, orang-orang yang mungkin populer ataupun punya nama besar dalam bidang dunia tulis menulis, kadang memberikan kritik antipati terhadap karya tersebut. Namun apakah hal itu mampu menghalangi Harry Potter untuk menjadi karya terbaik?

Rupanya yang membuat Harry Potter masih merupakan karya terbaik di dunia bukanlah para kritikus, tapi fans nya. Orang-orang yang menyukai Harry Potter, bukan orang-orang yang membenci Harry Potter.

Berikut ini adalah kritik-kritik yang dilontarkan untuk Harry Potter yang saya ambil dari goodreads.

notgettingenough rated it 1/5
Enough. I'm putting this one to bed. I so don't want to finish it.

--------------------------

‘Not enough sex’ was my first thought, but then we do get to this part where boys are discussing the length and capacities of their wands and I perked up for a moment until I realised that they were actually talking about wands.

"Bugger the wizards, where the fuck are the social workers? I can't believe little children enjoy reading this tale of an abused child, half-starved, beaten, living in a cupboard. This isn't fun, it's HORRIBLE!"



Harold Bloom rated it 1/5
Can 35 Million Book Buyers Be Wrong? Yes.

Taking arms against Harry Potter, at this moment, is to emulate Hamlet taking arms against a sea of troubles. By opposing the sea, you won't end it. The Harry Potter epiphenomenon will go on, doubtless for some time, as J. R. R. Tolkien did, and then wane.

The official newspaper of our dominant counter-culture, The New York Times, has been startled by the Potter books into establishing a new policy for its not very literate book review. Rather than crowd out the Grishams, Clancys, Crichtons, Kings, and other vastly popular prose fictions on its fiction bestseller list, the Potter volumes will now lead a separate children's list. J. K. Rowling, the chronicler of Harry Potter, thus has an unusual distinction: She has changed the policy of the policy-maker.

Imaginative Vision

I read new children's literature, when I can find some of any value, but had not tried Rowling until now. I have just concluded the 300 pages of the first book in the series, "Harry Potter and the Sorcerer's Stone," purportedly the best of the lot. Though the book is not well written, that is not in itself a crucial liability. It is much better to see the movie, "The Wizard of Oz," than to read the book upon which it was based, but even the book possessed an authentic imaginative vision. "Harry Potter and the Sorcerer's Stone" does not, so that one needs to look elsewhere for the book's (and its sequels') remarkable success. Such speculation should follow an account of how and why Harry Potter asks to be read.

The ultimate model for Harry Potter is "Tom Brown's School Days" by Thomas Hughes, published in 1857. The book depicts the Rugby School presided over by the formidable Thomas Arnold, remembered now primarily as the father of Matthew Arnold, the Victorian critic-poet. But Hughes' book, still quite readable, was realism, not fantasy. Rowling has taken "Tom Brown's School Days" and re-seen it in the magical mirror of Tolkein. The resultant blend of a schoolboy ethos with a liberation from the constraints of reality-testing may read oddly to me, but is exactly what millions of children and their parents desire and welcome at this time.

In what follows, I may at times indicate some of the inadequacies of "Harry Potter." But I will keep in mind that a host are reading it who simply will not read superior fare, such as Kenneth Grahame's "The Wind in the Willows" or the "Alice" books of Lewis Carroll. Is it better that they read Rowling than not read at all? Will they advance from Rowling to more difficult pleasures?

Rowling presents two Englands, mundane and magical, divided not by social classes, but by the distinction between the "perfectly normal" (mean and selfish) and the adherents of sorcery. The sorcerers indeed seem as middle-class as the Muggles, the name the witches and wizards give to the common sort, since those addicted to magic send their sons and daughters off to Hogwarts, a Rugby school where only witchcraft and wizardry are taught. Hogwarts is presided over by Albus Dumbeldore as Headmaster, he being Rowling's version of Tolkein's Gandalf. The young future sorcerers are just like any other budding Britons, only more so, sports and food being primary preoccupations. (Sex barely enters into Rowling's cosmos, at least in the first volume.)



Nikki rated it 3/5
It was then that I figured out that, yeah, there are things wrong with Harry Potter beyond just the hype that was irritating me so much and the feeling that Rowling in no way matched up to the giants of fantasy and sci-fi, like Tolkien. I studied it alongside Tom Brown's Schooldays, by Thomas Hughes. Do note that I didn't like that book either. But it's a well written, well shaped, well considered book -- and it doesn't use the same cheap tricks as Harry Potter does. I'm not going to say much about that, since it's not a book I liked: if I'm going to compare/contrast, I'll compare with my favourite book that is also supposed to be for younger readers, Susan Cooper's The Dark Is Rising.

There's also a very easy, blunt misdirection. You're supposed to hate Snape, supposed to believe he's the one to blame for everything, and at the end, you're supposed to be as surprised as Harry when it's Quirrel waiting there for him. At the age of eleven, I think I went right along with that, but when I reread it for A Level, I had to wince at how heavy-handed the misdirection was. I understand that later in the series Snape comes into it more, and I don't know whether the misdirection turns out to be not that misdirected when it comes down to the real truth: but in the first book, you're meant to believe it's Snape all along, and I don't think J. K. Rowling does a very good job of giving us clues that it's not actually Snape, because she's so busy blackening him to lead people astray.

That's why I don't like Rowling's writing. It's not particularly refined, it's unsubtle -- and that's okay, you know, I'm not saying you can't enjoy that, can't find it refreshing. I don't. I'm also not saying that 'novels' are bad -- they're good, they can provide valuable escapism, they can be incredibly rich fodder for the imagination, and I suspect Harry Potter is, for many children. But I don't call it literature, and I myself don't like it.

Note: the three star rating is because honestly, when I first read it, I did love it.

Monday, January 9, 2012

Mengkritik Kritikus

Seringkali orang mengkritik sebuah karya berdasarkan standarnya sendiri, ukurannya sendiri. Misalnya, ia melihat ada sebuah dunia yang sangat berbeda dari filosofinya, maka kemudian ia mengatakan hal itu jelek.

Sungguh menggelikan lagi adalah bila si pengkritik itu begitu tajam mengkritik karya seorang novelis yang tidak dikenalnya sama sekali. Namun ketika ada novelis yang merupakan teman baiknya mengeluarkan sebuah buku dan sama kualitasnya dengan karya yang satu tadi, si pengkritik ini tidak setajam yang sebelumnya.

Seorang pengkritik memang harus memiliki pengetahuan luas. Namun satu kelemahan dari mereka yang berpengetahuan luas adalah : kesombongan. Merasa tahu banyak, lantas karena dalam sebuah cerita tidak sesuai dengan standarnya, lalu ia mulai kehilangan respek terhadap cerita tersebut dan saat itulah apapun yang terasa janggal sedikit akan langsung menjadi jelek.

Yah, namanya juga penilaian. Dan manusia memang seorang makhluk emosional.

Tapi ada juga yang kutemukan, seseorang mengkritik sengaja untuk menguji mental orang yang dikritik, untuk mencari-cari kesalahan sebagai teguran halus untuk orang yang dikritiknya bahwa ia masih banyak memiliki kekurangan, maka dari itu jangan sombong dulu, nih aku buktikan bahwa kamu tidak sebaik yang kau pikir. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Melihat pendapat-pendapat pribadi para pengkritik itu membuatku berpikir, lantas kritik yang enak itu seperti apa?

Mari menilik kembali dari dasar kata "kritik".

Kritik sejatinya adalah sebuah opini, pendapat, yang secara teknis membuatnya memiliki sifat subjektif. Kritik adalah sebuah pendapat yang melihat sebuah permasalahan sesuai dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimiliki seseorang berhubungan dengan penilaiannya terhadap sebuah perkara. Kritik biasanya bersifat teguran, maka dari itu kritik seharusnya bersifat membangun.

Karena kritik berawal dari penilaian subjektif seseorang berdasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan mereka pribadi, maka sebuah kritik terkadang menjadi bersifat "aku dan duniaku". Sebuah jenis kritik yang pada dasarnya menstandarkan apa yang ia terima sesuai dengan filosofi dia sendiri. Kritik seperti ini biasanya disebabkan oleh karena keinginan seseorang untuk mencari kesalahan target, opini pribadi yang terlalu ditunjukkan secara bebas, atau ada sebuah ketidak tahuan seesorang mengenai sesuatu yang membuatnya secara tidak sadar terdengar seperti sedang memaksakan pendapat pribadi.

Kita tidak usah membicarakan kritik yang disebabkan oleh karena keinginan seseorang untuk mencari-cari kesalahan target. Biasanya orang sudah bisa mengerti sendiri apa yang kira-kira sedang terjadi.

Saya lebih tertarik untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan lainya, pertama, "opini pribadi yang terlalu ditunjukkan secara bebas".

Memangnya salah memiliki opini pribadi?
Tidak salah, tidak ada yang salah dalam berpendapat. Lagipula negara Indonesia sendiripun adalah negara demokrasi. Yang akan kupermasalahkan adalah soal opini pribadi yang dikemukakan terlalu bebas sehingga ia malah jadi melenceng dari tujuan asalnya : mengkritik.

Misalnya seseorang melihat sebuah tulisan yang tidak menarik minatnya, lantas kemudian ia menjelek-jelekkan karya itu.

"Ini kok ga ada si ini sih?"
"kok si itu ga muncul?"
"harusnya kaya begini nih..."
"ini salah, ga mungkin ini kaya gini."
"kok ga ada meriam?"

Kadang terpikir oleh saya, mereka ini sebenarnya sedang mengkritik atau sedang ingin mengadopsi cerita yang bersangkutan menjadi ceritanya sendiri?

Bila kelak anda menerima kritik seperti ini, balasannya sangat simpel sebenarnya; "emangnya ga bole?"

Namun harap hati-hati dan kritik ini masih tetap layak untuk dipertimbangkan. Kalau memang masuk di akal, dan merupakan sesuatu yang terlewat dari perhatian kita, sebaiknya diterima saja. Tapi kalau hal yang dikritik itu adalah hal yang memang kita sengaja dan kita sadari, dan setelah dipikir-pikir kembali bahwa cerita yang kau angkat memang tidak salah tanpa adegan yang diusulkan si pengkritik, kau berhak membalas : "emangnya ga bole?"


Adapun kritik terparah adalah kritik yang didasari dari kesimpulan yang terlalu cepat dan penyelidikan yang kurang matang.

Misalnya menilik sebuah kejadian pemberontakan para bangsawan yang berkemah untuk menyerbu ibukota. Kemudian seseorang memberi asumsi buruk karena kata "pemberontakan" bersifat jelek, dan sudut pandang simpatinya berada di pihak kaisar. Maka orang itu akan menganggap bahwa yang dilakukan Yuan Shao, Sun Jian, Liu Bei dan Cao Cao itu adalah kesalahan besar dan sebuah dosa berat karena mereka bermaksud menggulingkan Dong Zhuo.

Padahal kita semua tahu bahwa Dong Zhuo adalah seorang tiran.

---------------------------
Tempo hari lalu saya mengemukakan pendapat bahwa "Pengalaman adalah riset terbaik untuk karya tulis".

Tentu saja orang-orang kemudian berusaha menyanggahnya dengan mengatakan "gak perlu lah, masa kita mau bikin cerita cewek diperkosa lalu kita harus ngerasain diperkosa??"

Entah bermaksud skeptis atau terlalu cepat menyimpulkan?

Maksud dari pernyataan itu adalah :
Seseorang yang menuliskan sesuatu yang pernah ia alami secara nyata, pasti bisa meraskan tension yang ia rasakan saat merasakan kejadian itu. Ia dapat menggambarkan dengan detail apa yang terjadi, maupun secara puitis.

Saat saya membaca prolog dari Silver Phoenix, saya terkesan dengan cara Cindy Pon mendeskripsikan adegan melahirkan. Biasanya orang mendeskripsikan adegan itu dari sudut pandang orang ketiga. Namun Cindy Pon mendeksripsikannya berdasarkan apa yang dirasakan sang selir secara emosional dan tense. Sungguh deskripsi yang begitu mengagumkan karena beberapa kata membuat saya merasa seperti sedang melahirkan.

Dari sana saya menilai bahwa Cindy Pon pasti sudah pernah melahirkan. Dan setelah kubaca biografinya, ternyata ia memang sudah memiliki dua orang anak. Cindy Pon bisa menggambarkan deskripsi melahirkan secara emosional dan berhasil menerapkan tension di dalamnya, karena ia sudah pernah melahirkan dan tahu apa yang ia alami.

Bukan berarti saya mengatakan bahwa kita harus melahirkan dulu sebelum menulis adegan melahirkan. Semoga anda tidak berpikir sebodoh itu. Yang hendak saya sampaikan adalah, sebuah kelebihan yang dimiliki seorang penulis yang menulis kejadian karena sebuah pengalaman nyata dibandingkan penulis yang sama sekali belum pernah merasakannya secara pribadi.

Sama-sama bisa tertulis dengan baik, namun harusnya ada nilai lebih dari yang ditulis seorang penulis empiris.


Ini juga pernah berlaku ketika saya menuliskan sebuah cerita tentang seorang pemuda dipukuli hingga babak belur di tengah kerumunan para sipil yang sedang menggenggam perkakas tani mereka sebagai senjata.

Bisa ditebak, kritik yang saya dapat adalah, "kok pada gak nolongin sih!?"

Anda setuju dengannya?

Secara ideal dan logika, memang seharusnya bersatu kita kuat bercerai kita runtuh. Namun pada penerapannya, kadang kita harus membuka kemungkinan juga bahwa masyarakat yang mengelilingi kita tidak semuanya berjiwa pahlawan dan pemberani. Bahkan sesungguhnya orang berani di lingkungan kita ini sangat sedikit. Satu banding berapa puluh.

Anda sendiri bila melihat ada orang dirampok, apakah anda mau menolong orang itu, sekalipun anda sedang bersama katakan 10 orang teman anda yang badannya tinggi besar?

Saya yakin anda berusaha untuk tidak memperhatikan agar para preman itu tidak menghampiri anda. Mungkin suasana di sekitar kalian akan menjadi hening mendadak sebagai wujud simpati terhadap orang malang yang dirampok itu. Inilah kenyataannya. Orang baru akan melawan bila ia atau temannya terancam. Tidak ada waktu untuk mengurusi orang asing. Setiap orang tidak mau menambah masalahnya sendiri. Hal ini yang kadang terlewat oleh para kritikus, bisa diakibatkan oleh karena kurangnya pengalaman nyata.

Saya sendiri mengalami langsung sebagai korban perampokan di sebuah bus. Leher saya dicekik, sebuah pisau buah murahan menodong perut saya, orang itu mencabut tas pinggang saya yang isinya hanya kertas-kertas bon dan uang sebesar 50 rupiah.

Disekitar saya ada sekitar 10 orang bapak-bapak dan beberapa ibu-ibu. Mereka semua melarikan diri ke dekat supir sambil menonton saya seperti menonton televisi. Dan parahnya, mereka terlihat bersyukur bahwa yang mengalami itu bukan mereka. Sama sekali tidak ada harapan seseorang melakukan sesuatu untuk saya.

Dan setelah para rampok itu pergi, dengan dahi bercucuran darah kental yang mengucur deras masuk ke dalam bibir saya, saya duduk ke depan dan mengadu pada mereka, "Kok ga pada nolongin sih?"

Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan si kritikus, bukan?

Tahu apa jawaban mereka?

Seorang pemuda tegap, sehat dan bertubuh tinggi besar balik memarahi saya, "lo gila ya!? kalo gue nolongin lu gue yang celaka!"

=====================================

Favorit Proofreader

Sejauh ini selalu suka dengan review dari Zoelkarnaen, David Ezra, dan Alfare.

Memperhatikan kritik-kritik yang dilontarkan oleh Zoelkarnaen, tampaknya ia sangat peka dan tajam dalam memahami sebuah cerita dan tetap bisa berkonsentrasi untuk jeli melihat hal yang tidak wajar dalam sebuah kejadian atau hal. Dan hebatnya lagi, dalam setiap mengkritisi sebuah karya, belum pernah saya lihat ada komentarnya yang tajam melukai perasaan penulisnya, sekalipun karya itu jelek sekali. Karena itulah Zoelkarnaen menjadi kritikus favoritku.

David Ezra tampaknya memiliki pandangan sendiri dan mampu melihat sebuah karya layaknya seorang penerbit yang sedang menyeleksi naskah. Kelihatannya kritik-kritik David Ezra lebih kepada hal-hal yang bersifat teknis seperti; mau dibawa kemana cerita itu, apa tujuan cerita itu, prospek ke depan, potensi yang dimiliki dan pada akhirnya ia dapat memiliki penilaian sendiri yang cukup orisinil terhadap karya tersebut.

Alfare tampaknya lebih melihat sebuah karya tulis seperti halnya seorang penulis. Ia cukup memperhatikan unsur-unsur kepenulisan yang berhubungan dengan trope-trope. Tampaknya ia lebih memprioritaskan pandangannya pada efektifitas sebuah plot sehubungan dengan sebab akibatnya. Sekalipun masih ada beberapa pandangan pribadi, namun Alfare masih termasuk proofreader favoritku.

Orang-orang lain yang berpotensi untuk menjadi proofreader favoritku mungkin adalah Rendi Datriyansyah.

Kuperhatikan penilaiannya terhadap karya lain cukup terbuka. Maksudnya, ia adalah orang kritis dan tetap seorang penilai, namun juga seorang yang cukup terbuka terhadap ide dan rasio baru yang ia terima. Ia berusaha untuk memahami sebuah karya, dan ternyata ia seringkali berhasil.

Saya ingin menyebut Farid Abdul, namun saya belum pernah membaca review dia. Baru satu atau dua review dan itu belum bisa mengatakan apapun tentang apa yang ia lihat dan dimana ia melihat sebuah karya lain dan menyikapinya.

Sementara Proofreader yang tidak saya sukai adalah Rea Harbowoputra. Alasannya; ngaret dan pemalas.

Sunday, January 8, 2012

Update Progress : The Seer

Akhirnya naskah The Seer : Kisah dari Egaza ku selesai juga kurevisi. Hmm .. sebenarnya sudah dari beberapa waktu lalu sih, cuma lupa curhat di blog ini.

Anyway, sekalipun ada beberapa faktor dari naskah lama yang tidak terpakai lagi di naskah baru ini, saya merasa cukup puas dengan hasilnya, hanya masalah berikutnya adalah bagaimana cara mencetak sebanyak 350 lebih halaman HVS, dan bagaimana cara menjilidnya. (naskah yang dulu saja susah sekali mencari tukang fotokopi yang bisa).

Saat ini sudah kusebar pada teman-temanku yang kunilai cukup bisa memahami dan kritis dalam memeriksa dunia The Seer dan bisa mengembangkannya menjadi lebih baik.

Sementara menunggu, saya ingin menjauhkan diri dulu dari kegiatan yang berhubungan dengan The Seer, agar otak tidak terlalu mengembara jauh dan tetap berpijak pada tanah sehingga tidak kehilangan rasio ku.

Saya sudah men-list beberapa nama yang rencananya akan saya kirimkan gratis sebagai bentuk tribute atas alasan-alasan yang bervariatif. Karena saya benar-benar yakin naskah ini akan terbit beberapa bulan lagi (sekalipun belum di print jadi hard-copy, tapi tidak pernah salah dalam berharap, kan?).

Friday, December 16, 2011

Silver Phoenix (Kingdom of Xia, #1)Silver Phoenix by Cindy Pon

My rating: 3 of 5 stars


Awalnya saya tidak berniat membaca novel ini karena saat novel ini ada dalam genggaman saya, saya sedang dalam masa UAS. Namun kemudian teman saya menanyakan pendapat saya tentang novel tersebut, maka saya coba untuk melihat sekilas saja prolognya. Tadinya ingin membaca satu atau dua paragraf, namun ternyata saya tidak bisa berhenti membacanya. Buku ini seperti menjerat saya dengan kata-katanya yang sangat mengalir sekalipun hanya novel terjemahan. (kadang bahasa terjemahan tidak seindah bahasa aslinya)



Akhirnya saya memutuskan untuk membaca novel ini saat sedang dalam perjalanan di dalam bis untuk sekadar mengisi waktu kosong daripada saya pakai untuk tidur.



Saya begitu takjub dengan kekuatan narasinya yang sangat lekat untuk mata, ini salah satu novel yang membuat saya merasa bosan ingin menutup bukunya, tapi tidak bisa karena terjerat kekuatan narasinya. Dan ini menjadi novel tercepat yang pernah saya baca. Hanya butuh waktu satu minggu untuk melahap seluruh ceritanya yang menawan dan membuat penasaran sekalipun ada beberapa hal yang menurut saya terlalu dipaksakan.



Dan saya suka cara dia mengakhiri reign Dark Lord itu. Kiss of Death.





Silver Phoenix mengisahkan tentang cerita masa lalu Silver Phoenix dengan Zhong Ye, rahasia latar belakang Chen Yong, tentang Ai Ling yang berjuang menyelamatkan ayahnya. Namun yang saya sayangkan adalah hingga akhir, masih belum jelas siapa itu Silver Phoenix dan bagaimana kehidupnnya. Barangkali sempat diceritakan di pertengahan cerita (saat berada di Dunia Atas) namun mungkin saat itu saya sedang "hajar blas" sehingga tidak mencerna isi ceritanya dengan baik.



Bagian termenakjubkan kedua setelah kekuatan narasinya adalah deksripsi makhluk-makhluk setan dan mistik nya yang begitu jelas dan kreatif. Sekalipun tertulis di bagian akhir buku bahwa monster-monster itu terilhami (atau mungkin diambil) dari hewan-hewan mitologi China. Mungkin ini pertama kalinya saya membaca genre Dark-Fantasy dalam bentuk novel. Sekalipun tidak terlalu mampu memberikan kesar horor atau teror, namun saya merasa cukup pantas untuk di sebut Dark-Fantasy. Satu hal yang saya sayangkan lagi adalah kematian Permaisuri. Saya mengharapkan sebuah kematian indah dan juga kematian Selir (Ibu Chen Yong) yang juga saya harapkan dibunuh dengan "sedap" tapi ternyata hanya seperti itu.



Bagian ketiga yang membuat saya menyukai cerita ini adalah kebudayaan China yang diangkat terasa cukup kental. Saya banyak mengetahui hal baru tentang kebudayaan China terutama dari sudut pandang kaum hawa berkat buku ini. Tetap ada "tapi" nya, saya sangat menyayangkan percakapan antar karakternya (terutama Li Rong) yang menurut saya adalah dialog-yang-sangat-Amerika. Percakapan-percakapan yang sangat Amerika ini seringkali mementalkan saya dari dunia Xia yang kaya akan makhluk mistik menjadi ke dunia film-film amerika terutama film remaja yang kehidupannya berkisar tentang sekolah dan jokes-jokes para siswanya yang khas seperti itu.



Battle scene ... kurang begitu istimewa. Banyak informasi dalam battle scene yang harus saya baca ulang karena membuat saya "Zone out" saat membacanya. Tapi cara monster-monster itu bertindak sangat keren dan tidak monoton.



"Marry Sue" ... ada, sedikit, sempat bingung juga bahwa gadis yang tidak laku-laku ini ternyata begitu keluar dari rumah jadi incaran beberapa orang di sekitarnya dan beberapa kali disebut-sebut "cantik".



Karakteristik ... entahlah, saya tidak menemukan ada sifat yang menonjol selain Li Rong dan mungkin sifat khas Chen Yong yang suka membaca buku.



Secara keseluruhan cerita ini layak dibaca, tapi saya tidak tahu apakah berniat untuk membacanya sekali lagi atau tidak.



Oh ya, ini 17+



View all my reviews

Monday, October 24, 2011

Salah Satu Proses Belajar Penulis Fantasi

Sejak memutuskan untuk serius menulis novel dan menetapkan bahwa saya harus berhasil di bidang ini, saya mulai menulis sebuah naskah dan menunjukkannya kepada sekelompok orang untuk mengira-ngira, seperti apa kira-kira tanggapan mereka terhadap karya saya. Ternyata tidak ada satupun orang yang menyebutnya bagus, menyanjungnya, terkesan dengan karakternya, atau menghargai ceritanya. Paling hanya beberapa orang baik yang rela membaca ceritanya hingga selesai dan memberikan feedback seikhlasnya.

Awalnya saya tidak mengerti, saya yakin sekali bahwa cerita buatan saya layak terbit dan tidak jelek. Tapi kenapa tidak ada apresiasi seperti yang saya harapkan? Bahkan beberapa proof-reader harus kabur dari saya karena mungkin takut ditagih sementara mereka belum selesai baca. Kemudian saya mulai melakukan pendekatan-pendekatan dengan tujuan untuk mengetahui sebenarnya karya seperti apa sih yang diterima?

Setelah mengalami beberapa proses pengenalan dan penyelidikan, akhirnya saya menemukan kenapa karya saya itu tidak terlalu diminati.

1. tulisan saya kurang "nyastra"

2. karakter-karakternya amburadul

3. banyak plothole fatal

Dan semua itu terjadi karena memang saya masih benar-benar newbie. Newbie yang sangat ambisius dan tidak sabaran. Saya tidak sadar bahwa untuk bisa menulis dengan baik, kita harus menulis seperti novelis, harus memahami psikologi dan harus tahu bagaimana cara berfilsafat.

Suatu hari ayah saya datang dan berbicara pada saya, ia ingin saya kuliah lagi untuk memperoleh gelar, ia rela keluar uang agar saya bisa terjamin masa depannya. Mengingat di Indonesia, orang yang bergelar pun sulit mendapat pekerjaan, maka saya mau tidak mau harus mengikuti arus.

Saya tetap pada keputusan saya untuk menjadi seorang penulis fantasi. Karena sedari kecil hingga sekarang, yang saya lakukan tidak lain adalah berkhayal, bermain game, berpikir abstrak, bertindak abstrak ... bahkan keluarga saya pun bingung pada saya karenanya.

Setelah menganalisa dari karya-karya fantasi dunia yang sukses, termasuk diantaranya Arthurian Legend, Sam Kok, William Shakespeare, dll, saya mendapati bahwa ternyata kuliah yang paling tepat bagi penulis fantasi barangkali bukanlah jurusan sastra.

Dalam kisah Fantasi, kita dituntut untuk sedapat mungkin bisa menciptakan konsep sendiri. Antara lain :

1. konsep dunia

2. konsep metafisika

3. konsep penciptaan


dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai :

1. kepribadian manusia, apa yang akan dilakukan seseorang bila ...

2. dampak revolusi

3. kenapa bisa terjadi tirani dan pemberontakan?

4. logika

5. etimologi

Maka dari itu, menurut saya seorang penulis fantasi hendaknya mengetahui banyak soal Kosmologi, metafisika, mitologi, psikologi, sosiologi, logika dan mengolah analisa dari sebab akibat yang berhubungan dengan peristiwa nyata, yakni sejarah.

Semua ilmu yang dibutuhkan bagi seorang penulis fantasi, ada di dalam kuliah Filsafat.

Bila kau yang membaca notes ini, hendak serius ingin menjadi penulis fantasi, saranku, ambillah jurusan filsafat.

Barangkali JK. Rowling dan JRR Tolkien tidak mempelajari filsafat secara khusus. Dan beberapa orang mungkin berpendapat bahwa mengambil kuliah filsafat hanya untuk menulis itu sangat ribet dan berlebihan. Tapi saya sendiri sejak masuk kuliah, merasa malu pada karya-karya saya yang dahulu, menyadari bahwa ternyata secara ilmu kosmologi dan lain-lain, karya saya itu sangat ngawur! Jurusan filsafat bisa mengarahkan seorang calon penulis fantasi untuk mempelajari proses penciptaan yang umum digunakan penulis zaman purbakala dalam menciptakan mitos.

Lagipula hidup ini sebenarnya penuh dengan filosofi. Bahkan seorang tak berpendidikan hingga penjahat pun bisa berfilosofi. Maka dari itu, bila kau menciptakan sebuah karya tanpa filosofi yang kuat, karya itu sudah pasti tidak akan bertahan lama. Kalaupun bisa dikenang, barangkali dia hanya eksis sebagai karya pop, ringan, bahkan mungkin tak jarang orang menyebutnya "karya dangkal".

Sunday, October 23, 2011

New Project : Mythology of Adamos

Cerita baru yang tidak benar-benar baru, sebenarnya. Adamos adalah cara orang-orang Amoura menyebut "Gaia". Seperti yang saya konsepkan, "Bumi" dalam realm Kosmos ku ini tidak memiliki nama pasti. Pada lain daerah, lain pula namanya. Namun secara umum, mereka sepakat untuk menyebutnya "Adamos", yakni setelah tahun 1700 GD, dimana masyarakat telah membaur dengan dunia luas dan globalisasi, era pelayaran keliling dunia secara besar-besaran telah menciptakan balapan eksplorasi dunia secara tidak langsung. Era ini dipelopori oleh meninggalnya Zhuge "Jethro" Guthree (1486 - sekitar pertengahan abad 16 GD) setelah buku hariannya diterbitkan oleh putranya pada penghujung abad ke 17.

Setelah masa globalisasi dan eksplorasi melalui pelayaran, tak lama dari daerah Passifica, tren ini membuat penciptaan airfish kembali memarak setelah sebelumnya alat transportasi udara ini hanya menjadi barang mewah khusus kendaraan plesir para bangsawan saja, mengingat pembuatannya yang memerlukan biaya yang tidak sedikit dan filosofi manusia Passifica untuk menghormati langit sebagai wilayah kudus yang suci.

Saat manusia menemukan daerah baru, mulailah timbul penjajahan dan kolonialisme. Pencampuran budaya pun terjadi dimana-mana dan lambat laun, ketika memasuki tahun 2000, tersiar kabar bahwa para Animus mengunjungi pemimpin Passifica yang saat itu menjadi adi kuasa, membicarakan masalah kemanusiaan dan peperangan. Animus ingin dunia manusia yang terkendali dan damai, atau mereka terpaksa bekerja sama dengan para Ogre di Tartarus untuk membinasakan manusia seperti mereka membinasakan Era para Dragon ribuan tahun silam.

Manusia berhasil membuat kesepakatan dengan para Animus yang menghasilkan sebuah keputusan untuk mengadakan perdamaian secara menyeluruh. Kini dunia mengalami masa damai dan hidup harmonis. Pertukaran pelajar dan budaya menjadi tren baru dunia. Dari ribuan kebudayaan dan mitologi yang ada, rupanya mitologi bangsa Amoura lah yang dinilai paling rasional dan paling masuk akal. Mitologi ini menjadi populer dan akhirnya disepakatilah untuk menyebut planet ini dengan nama "Adamos", sebagaimana masyarakat Amoura menyebutnya.

Kisah-kisah dalam Mythology of Adamos berisi tentang mitologi Amoura yang sarat akan filosofi mereka tentang kosmologi. Masyarakat Amoura suka sekali dengan kosmologi dan merekalah yang membagi dunia ini berdasarkan beberapa klasifikasi.

Secara umum masyarakat di dunia membagi ras dalam 4 garis besar, Manusia, Animus, Ogre, dan Dragon. Namun masyarakat Amoura membagi dunia dalam 5 garis besar, Humanoid, Ogre, Dragon, Animalia dan Persona.

"Persona" dalam mitologi daerah lain tetap ada, namun mereka mengkelaskan Persona ke dalam klasifikasi spiritual, berbeda dengan dunia Kosmos, manusia, Animus, Ogre dan Dragon yang dikategorikan sebagai kelas material. Bagi daerah lain tersebut, kelas spiritual ini sejajar dengan Aether, Force-Aether, emosi, dunia Astral, dan arus jiwa-jiwa.

===========================

Mitologi Adamos berkisah tentang mitologi-mitologi menurut masyarakat Amoura. Saya baru sempat mengerjakan satu cerpen dari mitologi Adamos, yakni kisah tentang Sodia dan Oqeanos.

Saya sangat puas dengan kisah Sodia dan Oqeanos. Menurut pendapat saya pribadi, cerpen dengan words berjumlah tidak sampai 2500 kata ini memuat banyak hal dan filosofi, sehingga cerita ini terkesan singkat, namun juga padat akan pesan dan filosofi. Saya tidak sabar menanti para pembaca untuk memetik sendiri apa saja yang hendak saya sampaikan dalam kisah Sodia dan Oqeanos.

Rencananya, Mitologi Adamos ini akan saya seriusi dan paling tidak harus membicarakan bagaimana dunia tercipta menurut masyarakat Amoura, serta kemudian kisah tentang langit, bumi, laut, api, dan bagaimana manusia tercipta, menurut masyarakat Amoura.

========================
Amoura memegang peranan cukup penting dalam kisah Riwayat Forgo (Chronicles of Forgo, sekitar 300-600 GD). Dalam perjalanannya menemukan Haven, Forgo dan Galeno akan singgah di Amoura dan bertukar pikiran dengan masyarakat di sana yang cukup ribet dan suka berdebat kusir dan berfilosofi.