My Blog List
Sunday, July 31, 2011
Tips Impor : Proses Editing Naskah
Tulisan ini seperti apa yang di copy-paste dari notes facebook beliau dan sudah minta izin terlebih dahulu. Diperuntukan bagi siapapun yang punya naskah dan ingin melahirkan naskahnya ke dunia. Atau untuk orang2 yang ingin tahu perjuangan seorang penulis untuk menetaskan buah pikiran mereka sehingga barangkali bisa lebih menghargai sebuah buku.
===================================
Setelah naskah selesai ditulis, sekarang kita akan masuk ke dalam proses editing. Begitu memasuki proses ini, kita tidak bisa lagi terus bertahan dalam idealisme kita. Harus mulai belajar untuk terbuka terhadap kritik dan pendapat orang lain.
Hal utama yg harus kita tanamkan dalam hati yaitu editor utama naskah kita adalah kita sendiri. Orang lain hanya membantu. Jadi jangan berpikir “ah, kalau naskahku diterima penerbit kan nanti akan ada editor yg mengeditkan”. Hanya penulis malas yg berpikir seperti itu. Jadi tidak peduli nantinya naskah kita akan diterbitkan oleh penerbit atau diterbitkan sendiri, kita tetap harus melakukan proses editing.
1. Baca ulang naskahmu
Begitu naskah selesai ditulis, baca ulang naskah itu secara keseruhan mulai dari halaman pertama. Karena pada saat naskah baru saja selesai ditulis, susunannya masih berantakan dan ceritanya banyak yg tidak sesuai. Fokuskan pengeditan pertama ini pada isi cerita, bukan pada masalah tanda baca ataupun kesalahan ketik. Cari tahu apakah isi ceritanya sudah mengalir lancar, ada tidak yg saling bertentangan, apakah adegan-adegannya sudah tergambarkan dengan baik, apakah karakter-karakternya sudah sesuai dengan harapan kita, dsb. Bila masih ada hal-hal mengenai isi cerita yg kurang bagus, segera perbaiki.
2. Cari teman untuk jadi editormu
Untuk editan awal seperti ini tidak perlu menggunakan jasa editor profesional. Cukup gunakan teman dan orang-orang terdekatmu. Usahakan pilih orang yg sesuai dgn segmen tulisanmu. Misal menulis novel remaja, jgn cari orang tua utk membaca naskahmu.
3. Berikan naskahmu pada para editormu
Naskah bisa diberikan dalam bentuk file ataupun sudah di print. Membaca dalam bentuk print, tingkat ketelitiannya jauh lebih tinggi. Tetapi ongkosnya lebih mahal dan tentu saja repot harus mem-print. Kalau para editormu tidak keberatan membaca di laptop, tidak ada masalah diberikan dalam bentuk file.
Perlu diingat, 99% editormu akan mengatakan kalau naskahmu bagus, walau sebenarnya mungkin mereka ingin membuang naskahmu ke tempat sampah. Bukan salah mereka memberikan pujian palsu meski dari awal kalian sudah menekankan agar mereka jujur. Selalu ada rasa sungkan dan takut menyakiti hati kalian. Jadi mereka memilih untuk mengatakan “wah bagus tulisanmu, km punya bakat. Ceritanya mengalir. Deskripsinya kuat banget,kalau di film kan pasti keren”.
So,bagaimana cara untuk tahu apakah pujian yg mereka lontarkan itu asli atau palsu? Belajarlah untuk menjadi peka. Jangan hanya mendengar apa yg diucapkan di bibir. Tetapi perhatikan hal-hal kecil yg lain, misal berapa lama mereka membaca naskahmu, bagaimana ekspresi mereka saat membaca, apakah mereka tertarik untuk mengetahui lanjutan kisahmu atau mereka justru agak malas. Perhatikan juga isi dari komentar yg diberikan. Intinya, belajarlah menjadi peka dan jangan mudah termakan kata-kata manis.
Kita tidak perlu mendengarkan setiap editan dari editor kita karena bagaimanapun selera setiap orang berbeda. Namun, kita juga tidak boleh tutup telinga pada pendapat yg masuk. Sesuaikan saja editan itu dengan kebutuhan. Kita tetap dewa dari tulisan kita.
Jangan berkecil hati jika ada editormu yg tidak terlalu suka ceritamu. Bagaimanapun, kita tidak bisa memaksa seluruh dunia menyukai karya kita. Bisa juga editormu lebih senang cerita romance, padahal kebetulan naskahmu adalah petualangan. Jika dari 10 editormu, 4 orang sangat suka, 2 orang cukup suka, sisanya tidak suka, rasanya itu sudah cukup untuk mengatakan naskahmu bagus (ini bukan patokan lho ya, hanya gambaran saja). Namun, kalau hampir semua editormu tidak suka pada naskahmu, be careful. Mungkin kalian memang salah mencari editor (dalam arti selera semua editormu tidak sesuai dgn naskah yg kalian berikan) atau mungkin memang naskah kalian tidak bagus. Di sini kalian punya 3 pilihan, terus maju dengan naskah itu, atau membuat naskah baru, atau berhenti. Kalau kalian memang yakin dengan naskah itu, silahkan teruskan. Namun, kalau kalian merasa naskah itu memang kurang baik, gantilah atau perbaiki. Terakhir, kalau kalian memang merasa menulis novel bukanlah talent kalian, berhenti saja dan coba cari tahu apa talent kalian yg lain.
Selain harus peka terhadap pujian yg mungkin palsu, kalian juga harus belajar untuk peka terhadap sebuah kritik. Jika pujian ada pujian asli dan pujian palsu, maka kritik ada kritik yang membangun dan ada kritik yang menghancurkan.
Definisi dari kritik yg membangun dan kritik yg menghancurkan memang agak sulit diterjemahkan karena itu semua hatimu sendiri yg harus memutuskan.
Contoh :
a. Temanmu si A mengatakan tokoh Bambang sifatnya terlalu pengecut, jadi terasa aneh karena dia semestinya adalah seorang pendekar hebat. Si A menyebutkan adegan mana saja yg membuat si Bambang jadi tampak pengecut. Setelah km pertimbangkan, ternyata memang adegan-adegan itu membuat Bambang jd tampak pengecut. Itu artinya kritik si A adalah kritik yg membangun.
b. Temanmu si B mengatakan adegan perang antara Bambang dan Budi terlalu panjang. Menurut si B harusnya adegan itu dipersingkat saja. Menurutmu pribadi, adegan itu sudah tepat. Sebaiknya, km lakukan cross-check ke temanmu yg lain. Benarkah adegan itu memang terlalu panjang. Jika temanmu yg lain fine-fine saja, ya sudah tidak perlu diganti. Tapi kalau semua temanmu bilang adegan itu memang terlalu panjang, silahkan km pertimbangkan untuk memendekkannya atau tetap bertahan dlm pendirianmu krn menurutmu memang bagus.
c. Editor sebuah penerbitan mengatakan naskahmu terlalu panjang bertele-tele. Bisa jadi naskahmu memang terlalu bertele-tele, tetapi bisa juga editor itu punya kepentingan bisnis di mana penerbitannya tidak mungkin menerbitkan naskah yg terlalu panjang. Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kalau menurutmu naskahmu memang bertele-tele, silahkan perbaiki. Namun jika menurutmu naskahmu sudah bagus, km bisa tetap menuruti editor itu karena itu satu-satunya cara agar naskahmu diterbitkan oleh mereka, atau tetap bertahan dgn naskahmu dan mencari penerbit lain.
d. Beberapa orang tertentu mencela naskahmu. Salah satu dari mereka sudah membaca naskahmu. Dan dari keseluruhan jalinan cerita indahmu, dia memilih untuk mencela adegan kelinci melompat di atas salju karena menurutnya di musim salju seharusnya kelinci tidur, bukannya melompat-lompat. Lalu orang-orang yg lain ikut mengomentari masalah kelinci ini hingga panjang lebar. Padahal orang-orang yg lain ini belum membaca naskahmu sama sekali. . Akhirnya naskah indahmu dicap naskah jelek hanya karena adegan kelinci yg menghabiskan tidak sampai satu paragraf. Bodoh sekali kan. Sebaiknya tidak perlu menghabiskan waktu untuk mendengarkan pendapat orang-orang macam ini. Mungkin mereka bukan pembaca yg baik, atau mungkin juga mereka iri padamu.
Jadi sekali lagi pekalah pada pujian dan kritik yg masuk. Jangan menerima ataupun menolak semuanya mentah-mentah. Pertimbangkan dulu matang-matang.
4. Diskusikan naskahmu dengan editormu
Setelah editor-editormu selesai membaca naskah, mereka akan memberikan pendapat mereka. Pasti ada di antara pendapat-pendapat itu yg tidak kalian setujui. Bahkan mungkin kalian akan merasa sangat sakit hati dan jengkel saat pertama kali mendengar pendapat mereka. Tapi coba tahan emosi dan buka hati. Tanyakan kenapa mereka tidak suka dengan bagian itu. Mungkin alasannya logis. Kadang editan mereka justru terlihat remeh. Misal nama yg terlalu mirip satu sama lain, terlalu banyak mengulang kata, atau hal-hal lain yg tidak terpikir oleh kita. Namun, justru itu yg penting.
5. Perbaiki ulang naskahmu
Setelah semua hasil editan masuk dan telah didiskusikan, perbaiki ulang naskahmu. Di sini kalian juga bisa mulai memperbaiki tanda baca. Beli buku EYD. Juga lihat apakah kalian sering melakukan pengulangan kata.
6. Baca ulang naskahmu
Sebaiknya kali ini kalian membaca dalam bentuk print agar bisa lebih teliti dan tidak ada yg terlewat. Baca ulang kembali naskahmu mulai dari halaman pertama.
7. Perbaiki ulang naskahmu
Jika masih ada yg perlu diperbaiki, perbaiki. Lalu jika kalian belum bosan, baca ulang sekali lagi dan naskah kalian cukup siap untuk masuk ke proses lebih lanjut.
Proses editing awal cukup sampai di sini. Pada prinsipnya semakin sering kalian membaca naskah kalian, itu semakin baik. Karena kalian akan semakin mengenali setiap detil naskah kalian. Di mana cacat yg masih harus diperbaiki dan mana cerita yg harus diperkuat. Perjalanan masih panjang, tetapi paling tidak naskah kalian sudah melangkah satu tahap lagi untuk diubah menjadi buku.
Nantinya, begitu novelmu terbit, semua pujian ataupun kritik itu akan menjadi cerita masa lalu. Setelah itu pasar lah yang akan menentukan apakah bukumu akan menjadi best seller atau akan teronggok di dalam gudang. Mungkin dulu naskahmu dipuji-puji, atau mungkin dicela-cela sebagai sampah tak berguna. Pada akhirnya pasarlah yg akan bicara. Kalau kalian siap untuk menghadapi pasar, lanjutkan perjuangan kalian. Tetapi kalau bayangan tentang pasar saja sudah menyiutkan nyalimu, sebaiknya berhenti sampai di sini.
Dan untuk kalian yg berani untuk maju terus, aku akan menemani kalian mencari tahu apa yg harus dilakukan selanjutnya pada naskah kalian.
Berikutnya di Let’s Make a Book (part 3) akan kuberi tahu bagaimana cara mengirimkan naskah ke penerbit.
With Love,
Dionvy
Tips Impor : Menulis Naskah Novel
Tulisan ini seperti apa yang di copy-paste dari notes facebook beliau dan sudah minta izin terlebih dahulu. Diperuntukan bagi siapapun yang punya naskah dan ingin melahirkan naskahnya ke dunia. Atau untuk orang2 yang ingin tahu perjuangan seorang penulis untuk menetaskan buah pikiran mereka sehingga barangkali bisa lebih menghargai sebuah buku.
-------------------------------------------
Ada ribuan buku di toko buku dengan ribuan cerita, ribuan cover berdesain indah, dan ribuan baris paragraf menghiasi lembar demi lembar kertas. Dan mungkin kita semua sudah ribuan kali pergi ke toko buku. Namun, pernahkah sekali saja terbersit bagaimana kisah buku-buku itu hingga bisa duduk manis di rak-rak pajangan, berusaha menarik setiap orang yang berkunjung agar bersedia mengadopsi mereka. Dalam diam mereka, buku-buku itu akan bercerita tentang bait demi bait cerita yang tertulis di dalam tubuh mereka. Andai mereka bisa berbicara, ingin sekali mereka membagikan suatu kisah yang sangat luar biasa. Sebuah kisah tentang perjuangan dari orang-orang hebat yang telah menciptakan mereka dengan segala cinta dan kerja keras. Sayangnya, buku-buku itu hanya bisa diam. Dan akhirnya kisah tentang orang-orang luar biasa itu tetap tersimpan abadi hingga ribuan tahun mendatang.
Sebuah buku tidak secara ajaib berada di toko buku. Semuanya begitu manusiawi sehingga setiap manusia sanggup membuatnya. Tidak mudah memang, tetapi juga tidak mustahil. Melalui note-note ini, aku akan mengajak untuk melihat bagaimana proses membuat buku itu. Proses yang rumit, melelahkan, tetapi juga memberikan kenangan yang indah. Dan mungkin nanti setelah membaca note-note ini, ada di antara kalian yang terinspirasi untuk membuat buku? Why not. Kisah-kisah terbaik dunia menunggu dilahirkan oleh jari-jemari kalian.
Note ini akan kubagi dalam 4 part, yaitu:
1. Tips dan Trik Menulis
2. Proses Editing
3. Cara Mengirim Naskah ke Penerbit
4. Cara Menerbitkan Buku Sendiri
PART 1
Tips dan Trik Menulis
1. Topik apa yang harus kutulis?
Ini adalah pertanyaan utama saat seorang penulis akan mulai membuat karyanya. Sebaiknya mulailah dengan menulis hal yang kita suka atau kuasai. Entah itu tentang romance, fantasi, misteri, drama kehidupan, dll.
Kadang kita berpikir bagaimana kalau kita mulai dengan menulis cerita yang sedang digemari pasar. Jika kita ingin membuat buku berkualitas, sebaiknya mulailah dengan genre yg kita kuasai karena mengawali menulis itu sulit.
2. Aduh, susah sekali memulai Bab Pertama. Otakku kosong, tanganku kaku!!
Seorang bayi tidak bisa langsung berjalan saat dilahirkan. Dia harus belajar merangkak dan berjalan tertatih-tatih. Percayalah, semua penulis pasti mengalami kesulitan saat akan membuat Bab Pertama. Tulisan begitu kaku, gaya bahasa amburadul, deskripsinya aneh, dan entah kehancuran apa lagi.
Bab Pertama begitu sulit karena kadang kita belum mendapatkan soul-nya. Satu-satunya cara untuk mengatasi itu adalah keep writting. Karena itu bila ada pepatah mengatakan don’t judge a book from its cover, kalau aku bilang don’t judge a book from its first chapter. Jadi saat membaca sebuah buku, kalau bisa jangan tutup buku itu sebelum kalian berhasil melewati bab pertama. Karena mungkin saja di belakang bab pertama yg buruk itu tersimpan sebuah cerita luar biasa.
3. Kepalaku sudah penuh dengan ide dan sepertinya akan keren sekali bila ditulis. Tapiii…. kenapa saat sudah di depan laptop mendadak aku tidak bisa menulis apapun. Dan bila aku memaksa menulis, kalimat-kalimatnya terasa amat kaku.
Sekali lagi itu karena kita belum mendapatkan soul-nya. Kita belum bisa masuk ke dalam cerita. Dan untuk mendapatkan soul itu, satu-satunya cara adalah dgn tetap memaksakan diri untuk menulis. Lambat laun, soul itu akan muncul dengan sendirinya. Mungkin baru akan muncul setelah lembar ke 50 atau mungkin setelah halaman ke 200.
Waktu awal mulai menulis, tulisanku benar-benar kacau dan hancur. Tapi pelan-pelan aku mulai mendapat soulnya dan jariku seperti mengetik sendiri tanpa aku perlu berpikir. Kemudian aku sempat berhenti menulis selama 2 atau 3 bulan. Dan soulku hilang lagi. Akhirnya aku memaksa diri tetap menulis. Setelah menulis 100 halaman, soulku baru kembali. Lalu 100 halaman tadi kuhapus untuk kemudian kuganti dengan yg baru.
Kapan waktu menulis yg tepat? Saat pagi hari kah? Atau saat sedang mood saja?
Setiap orang punya gaya menulis sendiri. Kalau aku hanya mau menulis di saat badan tidak lelah dan mood sedang baik. Kalau mood ku buruk, aku tidak mau menyentuh laptop karena nantinya tulisanku akan terpengaruh. Padahal aku ingin membuat tulisan yg berkualitas.
4. Perlukah kita membuat kerangka tulisan sebelum menulis? Atau langsung tulis saja, nantinya inspirasi akan datang sendiri?
Jawabannya tergantung. Ada saat di mana kita membutuhkan kerangka, tetapi bisa juga tidak. Dan hanya penulis saja yg bisa tau kapan perlu membuat kerangka, kapan tidak.
Biasanya untuk awal, minimal kita harus tahu garis besar novel kita itu tentang apa. Bagaimana awal ceritanya, apa konflik utamanya, dan bagaimana endingnya. Untuk adegan tiap bab, biasanya kerangka cerita tidak akan terlalu berguna karena adegan per adegan itu akan mengalir sendiri saat kita membuat cerita.
Untuk cerita misteri atau detektif, mungkin kita membutuhkan kerangka yg lebih ketat karena ceritanya sudah jelas, yaitu mengungkap identitas si tokoh jahat. Kita harus cerdas dalam menentukan bagaimana mengelabui pembaca agar tidak menduga siapa tokoh jahatnya, lalu membuat pemecahan yg fantastis. Bila kerangka tidak kuat, cerita bisa ke mana-mana dan adegan mendebarkan yg diharapkan muncul justru bisa hilang.
Namun untuk cerita-cerita bergenre fantasi ataupun kehidupan sehari-hari biasanya cenderung tidak membutuhkan kerangka yg terlalu ketat.
5. DESKRIPSI, gampang atau susah?
Dalam dunia tulis menulis, membuat deskripsi adalah sebuah seni. Kenapa disebut seni? Karena tidak ada patokan baku mengenai cara membuatnya maupun panjang pendeknya. Apakah deskripsi yg bagus adalah yg panjang? Tidak selalu. Apakah deskripsi yg pendek lebih baik? Tidak juga.
Jadi bagaimana deskripsi yg bagus itu?
Ingat bahwa inti dari sebuah deskripsi adalah membuat pembaca paham apa yg kita maksud. Jika kita harus menerangkan panjang lebar, terangkanlah dengan detil. Namun jika cukup pendek saja, kenapa harus dipanjang-panjangkan. Sekali lagi, deskripsi digunakan untuk membuat pembaca paham, bukan untuk memanjang-manjangkan cerita agar buku menjadi tebal.
Contoh 1:
Untuk mengabarkan tentang pernikahannya, Anita mengirimkan surat via pos kepada teman-temannya.
Contoh 2:
Untuk mengabarkan tentang pernikahannya, Naya mengirimkan Perkamen Berita kepada teman-temannya. Perkamen Berita adalah sarana bagi para elf Icylandar untuk saling mengirimkan berita. Bentuknya berupa segulung kertas coklat yang memiliki sepasang sayap putih yang membuatnya bisa terbang kesana kemari. Jika para elf ingin mengirimkan berita, mereka cukup mengatakan pada si Perkamen, nanti Perkamen tersebut akan mencari elf yang dituju. Saat sudah sampai di hadapan elf yang akan menerima berita, Perkamen akan membuka gulungan kertasnya dan di dalamnya akan terlihat tulisan dari berita yg dikirimkan. Setiap keluarga elf di Icylandar pasti memiliki satu buah Perkamen Berita.
Kenapa paragraf yg pertama begitu pendek, sedangkan paragraf yg kedua sangat panjang? Karena pada paragraf pertama kita tidak perlu menerangkan apa yg dimaksud dengan via pos. Kita tidak perlu menulis via pos artinya kita menulis di selembar kertas, lalu kita kirim ke kantor pos. Kantor pos adalah sebuah gedung milik PT Pos. PT Pos adalah usaha milik pemerintah untuk mengirimkan surat. Pengirimannya ada yg melewati darat dengan mobil, laut dengan kapal, ataupun udara dengan pesawat. Mobil adalah….. bla…. bla… Semua orang sudah tahu hal-hal tadi. Jadi, kita tidak perlu menerangkan ulang. Namun lain halnya dengan Perkamen Berita yg merupakan hasil imajinasi penulis. Itulah sebabnya novel fantasi cenderung tebal karena penulis harus mendeskripsikan banyak hal.
Gunakan seluruh indramu saat membuat deskripsi agar pembaca seolah merasa mengalami sendiri kejadian yang ditulis.
Contoh :
Reiden duduk diam terpaku di teras depan pondok kayu tempatnya menginap. Saat itu hari sudah malam dan hujan turun dengan derasnya. Tidak ada cahaya setitik pun sehingga suasana begitu gelap. Bunyi guntur yang bersahut-sahutan membuat suasana semakin mencekam. Aroma tanah basah memenuhi seluruh udara. Hawa sedingin es, tetapi tidak ada sedikit pun niat dari Reiden untuk masuk ke dalam pondok. Ia memilih untuk merapatkan mantelnya.
Indra penglihatan : saat itu hari gelap tanpa cahaya setitik pun
Indra pendengaran : hujan turun dengan derasnya, bunyi guntur bersahut-sahutan
Indra peraba : hawa sedingin es
Indra penciuman : aroma tanah basah
Indra pengecap : untuk paragraf ini tidak diperlukan karena memang tidak melibatkan indra pengecap
Sering terjadi, kita membuat deskripsi panjang lebar, tetapi hanya deskripsi dari satu macam indra saja tanpa melibatkan indra yg lain. Itu yg membuat deskripsi jd tampak panjang lebar dan bertele-tele.
6. Bagaimana agar pembaca bisa mengingat semua informasi yang ada di dalam novel kita?
Tidak mungkin kita memberikan banyak informasi dalam waktu singkat kepada pembaca kita. Karena itu kita perlu “memecah informasi” agar pembaca bisa mengingat dengan baik informasi yg ada. Saat seorang pembaca pusing dengan begitu banyaknya informasi, dia akan menjadi malas untuk terus membaca.
Apa itu memecah informasi?
Artinya berikan informasi sedikit demi sedikit. Sebagai contoh di dalam novel Icylandar, istilah Glaudio-elmes baru keluar pada bab Serangan Pegasus Hitam (bab 11). Pada bab-bab sebelumnya, cukup menggunakan kata pegasus emas (ex: Ruben memakai bros berbentuk pegasus emas yg mengangkat kedua kaki depannya dan merentangkan sayapnya ; Padris memakai pakaian yg bersulamkan pegasus emas). Bila istilah Glaudio-elmes sudah diberikan sejak bab awal, maka pembaca bisa bingung karena di bagian awal sudah banyak informasi lain yg diberikan yaitu tentang suasana Kerajaan Icylandar. Pelan-pelan saja dalam memberikan informasi.
Contoh lain misalnya tentang latar belakang kehidupan Reiden. Sengaja tidak langsung ditulis :
Reiden adalah seorang elf pria dengan rambut diikat dua kanan kiri. Ibunya adalah Lady Asgret yang merupakan pemimpin mata-mata Icylandar. Ayahnya adalah Panglima Sefan, seorang panglima utama Icylandar yang tewas dalam Perang Dermott.
Too much information! Percayalah, pembacamu bisa bingung. Informasi tentang ibu Reiden diberikan pada Bab Rombongan Angsa Putih. Lalu informasi tentang ayah Reiden dalam Bab Penutupan Festival. Atau bisa juga informasi tentang Reiden ditulis seperti itu, tetapi sering diulang-ulang. Jadi kadang disisipkan tulisan "Ibu Reiden yg merupakan pemimpin mata-mata Icylandar...."
Contoh lain lagi:
Ada banyak sekali tokoh di Icylandar. Mungkinkah pembaca mengingat semuanya? Jelas tidak mungkin. Karena itu dibuatlah trik khusus. Untuk tokoh-tokoh utama yg sering muncul, pembaca memang mau tidak mau dipaksa mengingat. Namun karena tokoh-tokoh ini memang sering muncul, jadi tidak ada masalah. Tokoh-tokoh itu misalnya Padris, Louie, Naya, Panglima Arlan, Jendral Rafael, Jendral Rodrigo, Jendral Antolin, Ruben, Reiden, Keysuu, Cleo, Kay, Farrel.
Lalu bagaimana dengan tokoh-tokoh sampingan, misalnya saja Panglima Vinze. Panglima satu ini jarang muncul, tetapi toh kadang dia harus muncul. Supaya pembaca tidak bingung siapa itu Panglima Vinze, hampir setiap menyebutkan nama Panglima Vinze, diikuti dengan nama Farrel.
Terlihat seekor pegasus terbang mendekat. Panglima Vinze yg merupakan ayah dari Farrel duduk di atas punggung pegasus itu.
Atau…
Panglima Vinze langsung berdiri memberikan tepuk tangan untuk Farrel, anaknya.
Nantinya di buku kedua, tokoh Panglima Vinze sudah mulai bisa dilepas tanpa perlu menyebutkan dia adalah ayah dari Farrel. Karena pembaca sudah mulai hafal dengan tokoh Panglima Vinze.
Ada banyak teknik untuk memecah informasi. Carilah gaya yg cocok untuk kalian.
7. Bagaimana membuat tokoh-tokoh kita benar-benar seperti hidup?
Karakter adalah salah satu faktor vital dalam sebuah novel. Membuat karakter tokoh-tokoh kita bisa dipahami dan diingat oleh pembaca, lagi-lagi merupakan sebuah seni tersendiri. Akan langsung kuberi contoh saja.
Untuk awal, tetapkan dulu sifat dari tokoh yg hendak kita buat. Kuambil contoh Jendral Rafael. Jendral Rafael adalah elf yg baik dan lembut seperti malaikat.
Berikutnya aku ingin pembacaku bisa menangkap karakter kedua tokoh itu. Pembaca akan lebih mudah menangkap karakter seorang tokoh melalui suatu adegan atau percakapan.
Contoh :
“Hai, Louie, maukah kau menembakkan anak panahmu?”
Louie mengangguk perlahan, kepalanya tertunduk lesu, jelas terlihat kalau ia sedang sangat ketakutan. Ia maju beberapa langkah ke depan kemudian mengangkat busur panahnya dan bersiap menembakkan anak panahnya.
“Sebentar, Louie.” Jendral Rafael memegang kedua tangan Louie dan membalikkan telapak tangan anak itu. Terlihatlah kedua telapak tangan Louie yang merah melepuh karena terlalu banyak menarik tali busur kemarin.
“Kau tidak perlu memaksakan diri seperti ini, Louie,” kata Jendral Rafael, matanya memandang kedua telapak tangan itu dengan sedih.
“Aku sangat bodoh, Jendral, jadi aku harus berlatih keras. Aku tidak mau membuatmu malu,” sahut Louie pelan, kepalanya masih tetap menunduk.
“Tidak, Louie, kau tidak akan pernah membuatku malu. Tidak ada satu pun elf di Icylandar yang akan membuatku malu.” Jendral Rafael mengusap kedua telapak tangan Louie dan seketika telapak tangan itu tidak lagi merah melepuh.
Dari adegan di atas kita dengan mudah menangkap kalau Jendral Rafael itu elf yg begitu baik, lembut, dan sangat menghargai elf-elf yg lain, bahkan yg paling bodoh sekalipun. Ini jauh lebih efektif daripada kita berulangkali menulis Jendral Rafael itu adalah elf yg sangat baik. Karena itu usahakan setiap adegan dan percakapan, bisa menggambarkan karakter tokoh-tokoh kita.
Sering terjadi sebuah novel yg tebalnya ratusan halaman, dengan ratusan adegan, dan ratusan percakapan, tetapi karakter tokohnya tetap tidak terbaca. Itu karena setiap percakapan dan adegan tidak diarahkan untuk menunjukkan karakter si tokoh. Apakah itu berarti novelnya jelek? Tidak juga. Setiap penulis memiliki ciri khas nya sendiri. Ada yg suka deskripsi alam yg detil, ada yg suka membuat percakapan panjang lebar, dan lain-lain.
Apakah semua tokoh sudah harus kita tetapkan sejak awal?
Tidak. Saat sedang menulis, biasanya akan muncul tokoh-tokoh baru dengan sendirinya. Namun, ada satu hal yang perlu diwaspadai. Sekali kita menciptakan misal tokoh A dengan sifat keras kepala, agak manja, egois, tapi baik. Lalu kita sudah mulai menulis. Begitu kita sudah menulis jauh, ternyata kita merasa tokoh A semestinya sifatnya dingin, tidak terlalu egois, dan tidak banyak bicara. Akhirnya kita terpaksa mengubah banyak adegan dan percakapan. Percayalah, hal itu sulit. Mengubah karakter tokoh yg sudah tertanam di otak kita jelas tidak semudah itu. Jadi sejak awal, hati-hati dalam menetapkan karakter tokoh.
8. Bagaimana dengan tanda baca?
Masalah tanda baca bukanlah hal yg perlu terlalu diributkan pada saat menulis karena tanda baca dll bisa diedit setelah naskah selesai ditulis. Yg penting pada saat kita menulis adalah membuat jalinan cerita yg indah. Di sini aku memang tidak ingin membahas masalah tanda baca. Itu bisa dipelajari melalui buku-buku EYD.
Okey, part 1 sampai di sini dulu. Jika kalian punya pertanyaan, silahkan langsung tanya saja. Kalau aku bisa menjawab, pasti dengan senang hati kujawab. Dan jika ada di antara kalian yg ingin ku tag di note-note Let’s Make a Book, juga bilang saja. Nanti akan ku tag kan.
Tunggu part 2 tentang Proses Editing. Semoga informasi yg kuberikan ini bisa sedikit berguna
With Love,
Dionvy
Friday, July 8, 2011
Sang Perantara
Seorang gadis yang seumur hidupnya merasa tertekan oleh ambisi ibunya yang menginginkan dia menjadi orang makmur. Namun karena ibunya tidak tahu cara yang tepat untuk melaksanakan kedisiplinannya dan keluarga yang bergejolak, maka gadis ini tumbuh dipenuhi kesedihan yang berkembang menjadi kemarahan lalu membenci dunia.
3. Titipan
Wanita yang sedang tertekan karena kematian suaminya, bayinya yang baru lahir dan terutama karena ibu mertua yang rewel dan susah dipahami. Ia sedang menunggu kedatangan kekasih barunya yang akan membawanya terbebas dari beban yang dipikulnya. Dalam dera air hujan di tengah malam yang sepi, ia menerima pesan terakhir dari mendiang suaminya.
Thursday, July 7, 2011
Old Project : Lambda
Blue Sphere : Main Plot
Friday, July 1, 2011
Name Change : Aegese to Srikandarv
Saturday, June 18, 2011
Chronicles of Forgo - Plothole
Oh tidak! Titanic akan tenggelam dalam hitungan jam!
Mayday! Mayday!
Lagi-lagi yang menjadi plothole dan hambatan adalah jarak dan waktu. Pada chapter ke sekian, dikisahkan Fernando harus pergi ke Haven untuk menjadi mata-mata. Dia tidak terlalu lama di sana, hanya 3 bulan setelah itu kembali lagi ke Passifica. Masalahnya, waktu yang berlalu sejak Fernando pergi meninggalkan Passifica dan kembali lagi benar-benar 3 bulan seakan dia hanya teleport saja!
Pada peta sementara yang gw buat, Passifica kalau diibaratkan peta dunia beneran, letaknya di atas, namun tidak terlalu di atas. Sekitar Beijing, Inggris, Eropa, pokoknya di atas tapi ga terlalu kutub. Sementara itu Amoura, Olimpus terletak di bawah garis kathulistiwa dan gw tetapkan jaraknya itu sekitar 11.940 km, sudah lengkap dengan medan tanah yang harus dijalani. Jalan kaki kan gak lurus seperti naik pesawat.
So, setelah googling sebentar, gw akhirnya memutuskan :
jarak yang ditempuh : 11.940 km
jalan perhari average :
1 hari 12 jam
1 hari 120 km
average human : 142 hari = 4 bulan 22 hari nyaris 5 bulan
+ manjat : 5 bulan
forgo : 99 hari = 3 bulan 9 hari
dan setelah gw cocokkan dengan timelinenya sejak Irish dibawa kembali ke Haven, sepertinya paling mungkin adalah sekitar tahun ke dua bulan tujuh!
now I understand why people create teleportal in fantasy stories.
It's not a big deal, hanya butuh a little tricky. Time to back to work again