My Blog List
Monday, June 13, 2011
New Project : Blue Sphere
Kali ini gua muncul ide baru untuk membuat sebuah novel fantasi bertema sci-fi. Judulnya sementara : Blue Sphere.
Tahun 3058, sebuah perang nuklir terjadi di planet Halsion. Sebuah negara kecil yang diktaktor, Borghak, terdesak dan meluncurkan nuklir untuk menghancurkan dunia sebelum Presiden Gravlar dibunuh. Nuklir itu telah mengakibatkan musibah internasional yang mengubah wajah Halsion selamanya.
100 tahun kemudian, manusia sudah berhasil bangkit kembali dari malapetaka yang menimpa mereka, walau penduduk Halsion berkurang drastis. Kini merchenery bertebaran dimana-mana, bersamaan dengan merebaknya sekelompok pembajak di laut, darat dan udara. Pihak keamanan dunia cukup kewalahan karena manusia kini bertekad untuk berdiri sendiri2, hanya beberapa negara yang masih tetap bertahan dalam sistem pemerintahan.
Para merchenery terbagi dari beberapa tingkatan,
1. merchenery solo (hanya terdiri dari satu orang merchenery saja)
2. merchenery fleet (hanya terdiri dari satu regu)
3. merchenery alliance (kumpulan dari regu merchenery yang menjadi satu dalam sebuah sistem terorganisir)
4. merchenery akademi (sebuah sistem yang mendidik para merchenery untuk menciptakan agen tentara bayaran yang berkualitas)
Para merchenery ini tidak pernah kehabisan kerjaan, biasanya mereka bertugas dalam beberapa ekspredisi untuk menguak tekhnologi masa lalu, mengamankan laboratorium terbengkalai yang ditemukan secara kebetulan. Pada saat Halsion hancur, teknologi sedang berkembang begitu liar dan harus musnah.
Ada sebuah mobile weapon yang sedang dikembangkan terpaksa harus hancur. Mobile weapon ini banyak diincar beberapa pihak untuk memperoleh kekuatan, terutama bagi Republik Sellandia yang bernafsu untuk menggempur daerah-daerah dengan kekuatan militer mereka dengan kedok mempersatukan dunia, atau Kerajaan Falcon yang bermimpi untuk mengulangi kejayaan masa lalu yang hilang, dimana kerajaan mereka adalah kerajaan terbesar di dunia. Akibat kecelakaan nuklir itu, mereka kehilangan kontak dengan wilayah-wilayah yang diluar jangkauan.
selain itu, didaerah-daerah tertentu terjadi pemberontakan dan peperangan melawan para pembajak yang semakin menjamur.
Thursday, June 9, 2011
Influence Icylandar for my novel
Novel Icylandar belum selesai kubaca, baru sampe tepat di tengah-tengah buku. Sebagai perbandingan, setelah gw baca Icylandar, gw nulis Prolog dan chapter 1 dari Chronilces of Forgo, dan hasilnya, rata-rata bilang narasi gw ada perkembangan dan enak dibaca (sekalipun mereka harus baca 6000 words sekaligus). Tapi waktu gw nulis chapter 2 dan 3, gw udah keasikan nulis dan mengkonsep cerita Chronicles of Forgo, jadi gw ga buka2 lagi novel Icylandar, dan begitu gw upload chapter 2, reviewer bilang ada yang kurang dari chapter 2, yang ternyata adalah "emosi".
so, kelihatannya gw harus beli Icylandar 2 untuk menemukan "muse" ku.
Lihat aja deh. Kalau ada kesempatan ketemu kak Dionvy, gw bakal kejar2 minta tanda tangan. (semoga ga sampe pake acara diusir satpam hehe)
Monday, June 6, 2011
Stuck DW fanfic : Folk Tale
DW fanfic ku yang berjudul Folk Tale, kisah mengenai Guan Suo, sebenarnya sudah cukup jauh. Tapi karena gw kurang yakin dengan ketepatan nama tempat, lokasi dan akurasi timeline sejarahnya, gw ragu-ragu juga mau upload. Selain itu gw lagi konsentrasi di CoF:TD, jadi kepaksa fanfic Folk Tale itu harus kesendat dulu.
Folk Tale adalah fiksi imajinasiku tentang cerita dari Guan Suo, anak Guan Yu yang misterius keberadaannya di dunia ini. Kita gak pernah tau apa dia beneran ada atau memang cuma cerita rakyat yang sempat populer tahun 1500an di China.
Dalam cerita Folk Tale, Guan Suo adalah pahlawan yang gak kalah hebatnya dengan Guan Yu, bahkan dia membunuh Lu Meng dan Lu Xun. Tapi karena sebuah affair dengan permaisuri kerajaan Shu-Han, maka Kaisar yang marah hendak menghukum mati dia. Tapi atas permohonan istrinya, kaisar hanya memanggil seorang dukun untuk menghapus ingatannya dan membuangnya jauh-jauh dari Shu-Han. Di tempat baru, Guan Suo yang hanya mengingat namanya dan mengingat kejadian tersamar dari masa lalunya, banyak berbuat kebaikan bagi sekitarnya dan aksinya sangat heroik sehingga ia menjadi legenda di kalangan rakyat kecil. Ia datang dan hilang, tidak pernah menetap di suatu tempat, sehingga orang mengira bahwa ia semacam roh halus dan meragukan kenyataannya.
Bagaimanapun Guan Suo adalah pendekar yang memang selalu berjalan diantara nyata dan tidak nyata.
===================================
"If history refuse your existence, Then craft your story in folktales!"
Sebagai putra yang lahir bukan dari istri resmi, nama Guan Suo tidak tercatat dalam silsilah pohon keluarga Guan.
Sebagai seorang lelaki, hubungan rahasianya dengan Permaisuri kerajaan Shu-Han membuat Kaisar Hou Chu sakit hati dan menghapuskan semua catatan mengenai dia.
Sepanjang hidupnya, Guan Suo banyak melakukan hal-hal baik dan selalu menang dalam duel sehingga membuatnya disukai dan dihormati rakyat jelata.
Sejarah mungkin menolak keberadaannya, namun ia akan terus hidup dalam cerita rakyat.
Warning : Bloody Fight
Contains : Adult Romance, Fantasy, Fiction
~ Based on Popular KOEI games Dynasty Warriors & Romance of the Three Kingdoms ~
Special Thanks : Gail Omar King for the articles of Legend Hua Guan Suo
DISCLAIMER!
Zhang Xing Cai name belongs to KOEI
All characters are belongs to Lou Guan Zhong's San Guo Yan Yi & Chinese history
Bao Sanniang, Hua Man and Wang sisters originaly from Hua Guan Suo Zhuan
Guan Suo originaly still unknown
Si penulis menulis cerita ini berdasarkan khayalan dan imajinasi yang dikembangkan berawal dari rasa tertariknya pada tokoh yang sangat minor dalam novel San Guo Yan Yi. Si penulis sudah tidak ingat lagi apa yang membuatnya tertarik pada tokoh tersebut, namun rasa penasarannya membuatnya mencari tahu tentang kelengkapan kisah dari tokoh itu dan ternyata ia menemukan banyak hal menarik. Banyak inspirasi muncul dari penelitian terhadap tokoh ini, dan akhirnya melahirkan banyak karya. Sebagai kredit, si penulis memutuskan untuk menuliskan salah satu variasi mengenai tokoh tersebut dalam bentuk fanfic dari Dynasty Warriors.
Fanfic ini juga ditulis atas rasa protes si penulis dengan hubungan Xing Cai (Nama KOEI) atau Empress Zhang Jing'ai (Nama asli yang diketahui) dengan Guan Ping. Dalam cerita asli Dynasty Warriors, menurut penulis, hubungan Guan Ping dan Xing Cai sangat tidak mungkin. Bila diibaratkan dengan dunia nyata, ibaratnya Guan Ping dan Xing Cai seperti menjodohkan Gillian Cheung dengan Bruce Lee. Kecuali bila Xing Cai adalah seorang time traveler, hubungan ini mungkin bisa terjadi.
Barangkali ada anak ketiga Guan Yu yang tidak bernama Guan Suo, tapi satu hal yang pasti, nickname "Guan Suo" adalah nickname yang sangat populer di kalangan militer, bandit dan cerita rakyat di Tiongkok pada abad 11 atau pada zaman Dinasty Ming.
Sunday, June 5, 2011
Chronicles of Forgo in progress
Chronicles of Forgo : Prolog
Chronicles of Forgo : Chapter 1
Sekalipun barangkali bakal ada satu atau dua hal yang akan gw tambahin sebagai perbedaan bagaimana aelf dan manusia memanfaatkan Quartz. Aelf menggunakannya untuk penyokong hidup sehari-hari, sementara manusia menggunakannya sebagai alat untuk kekuasaan.
Chapter 2 kelihatannya butuh perbaikan. Kelihatannya gw harus terima kasih dgn Alfare krn berbaik hati ngasih tau gw apa kekurangan gw di chapter 2 yang cukup jauh bila dibandingkan dengan chapter 1.
Memasuki chapter 3, jariku berhenti menari-nari karena mereka membutuhkan keputusan dari otak, seperti apa plot pada klimaks yang bakal terjadi di akhir-akhir chapter. Maka terpaksa gw stop nulis buat nulis cerita dari sudut pandang si antagonis.
Barangkali plot akan sangat klise, seorang powerful berusaha untuk menguasai dunia. But hey, I love chliche anyway. Hanya saja, sesuatu yang klise ini membutuhkan sebuah jalan yang menarik dan masuk akal. Gw harus nentuin apa yang membuat Irish ada di Jubar, apa yang bikin dia lari dari Haven, dan apa yang memotivasi Forgo untuk menolongnya.
Ada beberapa point yang gw tetapkan, pokoknya harus begini, tapi tantangannya adalah menyatukan point2 itu dengan untaian rantai yang kuat sehingga membentuk jalinan cerita yang solid dan masuk akal sekalipun fantasi. Tampaknya gw harus hati-hati dengan sesuatu yang berbau "maksa" dalam menyatukan point-point itu.
Walau begitu, semua rancangan itu hanya akan menghambat progress kalau gw ga nulis-nulis jg. Yah .. kembali dengan save as-erase-rewrite.
Project The Seer vaccumed
Tampaknya target gw, menerbitkan Episode 1 : Tales of Egaza sebelum umur gw 25, harus gagal.
Gimanapun juga, ga mungkin gw ngasih sebuah karya yang menurut gw bagus, tapi orang ga paham, dunia apa itu? Jadi gw mulai proyek baru yang saat ini gw namain sementara : Chronicles of Forgo : The Dawn.
Chronicles of Forgo, sesuai dengan namanya, menceritakan roman seorang penempa yang berusaha memahami manusia. Ia memiliki masa kecil yang bahagia, sekalipun dibesarkan ayah yang sangat rasis terhadap manusia, namun dia juga dididik oleh seorang penulis dan filusuf, Arthanel. Arthanel selalu menerapkan pada Forgo bahwa setiap orang yang masih hidup berhak mendapatkan kesempatan, dan nilai-nilai kebijaksanaan lainnya.
Tanpa sadar dunia masa kecilnya tertanam pada alam bawah sadar Forgo sehingga ia tergerak untuk keluar dari Benua Elfraim untuk berlayar melihat kehidupan manusia. Melalui Forgo, gw berusaha menggambarkan seorang yang tidak akan berubah menjadi jahat ketika hidup di dunia jahat, seseorang yang teguh pada integritas dan apa yang diajarkan padanya sejak kecil.
Pada petualangan pertama Forgo, ia akan mewujudkan impian masa kecilnya : memanjat Olimpus dan makan malam dengan para Animus. Tentunya mewujudkan impian masa kecil tidak semudah membulatkan tekad dan melompati segala aral rintangan.
Semoga naskah ini bisa memperkenalkan dunia dalam realm Gaia kepada mereka yang akan berbaik hati meluangkan waktu untuk berkenalan dengan Gaia.
Thursday, May 26, 2011
Inspiration
Inspirasi adalah ... saat kau dipojokkan, dikhianati, ditusuk dari belakang, punya orangtua yang nggak banget, hidup dalam intimidasi takdir dan kehidupan, namun Tuhan memberkatimu dengan semangat pantang menyerah, kemudian kau menemukan jalan untuk dilangkahi setelah membaca manga Berzerk by Kentaro Miura.
Inspirasi adalah ... saat kau bermain game, melihat apa yang kau lihat seperti puluhan script-script Technict Informatika yang tak berakhir, saat kau duduk di kafe hanya memesan minuman termurah, duduk di sudut ruangan agar dapat melihat keseluruhan ruangan dan mengawasi gelagat, psikologis, karakterisitik orang-orang. kemudian kau menemukan jalan untuk dilangkahi setelah menonton film Lie to Me.
Inspirasi ada dimana-mana,
Inspirasi adalah buah dari hidupmu,
Inspirasi takkan ada tanpa kreatifitas dan keinginan untuk berkembang, tumbuh dan berubah
Friday, May 6, 2011
Fantasy Fiesta 2011 : Pawang Monster
Cerpen untuk lomba Fantasy Fiesta 2011. Buat yang mau ikutan, bisa cek ... http://kastilfantasi.com/2011/04/pengumuman-fantasy-fiesta-2011-dimulai/
Malam itu … dingin mencekam, angin bertiup kencang, dedaunan berguguran menghiasi sepinya suasana yang temaram diterangi cahaya rembulan yang penuh… Sebenarnya biasa-biasa saja sih. Aku hanya ingin mendramatisir suasana saja, biar kedengaran seru.
Yang jelas, kini dihadapanku telah berdiri seekor makhluk raksasa yang disebut Buta. Buta ini menyerangku dengan beringas, berusaha untuk menangkap tubuhku dan melumatkan tulangku hingga hancur. Seperti saat ini … lihatlah, mendadak dia sudah berbalik sambil menyerangku. Untung aku cepat menghindari serangannya sebelum nasibku menjadi sama seperti batang pohon yang baru saja ditumbangkannya.
Setelah beberapa saat, aku merasa sudah cukup menilai dan mulai menyerangnya. Aku merogoh tas pinggangku dan memasukkan Fire Quartz, sebuah kristal magitech ke sebuah lubang di dalam pedangku. Tak lama kemudian, pedangku mengeluarkan cahaya berwarna merah seperti mengandung kekuatan api.
Tiga-empat kali serang, aku sudah tahu bahwa Buta bringasan ini memiliki refleks yang kurang bagus. Bodoh sekali Emelinda, memanggil Buta seperti ini untuk menghadapiku. Apakah dia sudah kekurangan spawn? Tidak butuh beberapa ronde untuk menakhlukkannya, sebentar saja aku sudah berhasil menghunus jantungnya dan membuat tubuhnya hangus.
Selesai.
“Jangan senang dulu, Paquita! Itu tadi hanya untuk melihat kemampuanmu saja!”
“Kenapa kau selalu mengukur kemampuanku? Aku sendiri hanya butuh waktu 3 menit untuk mengukur kemampuan Buta-Butamu yang tidak becus itu.” Tak lupa kusunggingkan senyum culas agar dia semakin kesal dan marah.
“Dasar orang miskin tidak berpendidikan! Monyet! Babi …”
Bla, bla, bla … tidak perlu tahu apa yang ia bicarakan. Bila Emelinda marah, ia akan berusaha menyerang perasaan orang yang dimarahinya. Kami sudah saling kenal selama 3 tahun, sejak aku masuk ke Akademi. Dan seiring pergumulanku di Akademi, rivalitasku bersama Emelinda pun dimulai. Pasti ada saja hal yang membuat kami bertengkar.
“Ah, sudahlah, aku ngantuk. Lain kali keluarkan saja Golem untuk menghadapiku, atau … kau tidak bisa mengendalikan Golem? Haha …dasar bodoh. Selamat tinggal.”
Dengan angkuh aku meninggalkan Emelinda yang pastinya tertohok batinnya oleh ucapanku. Heran, selalu saja mencari gara-gara, padahal orangtuanya kaya raya, otaknya cukup cerdas, dan sebenarnya banyak pria yang memperhatikan dia di Akademi. Aku sendiri tidak merasa lebih hebat darinya, tapi dia selalu saja…
Kini aku telah sampai di rumahku yang kecil dan indah. Ya, kecil dan indah … sebelum terkontaminasi oleh parasit ini …
Sejak 3 hari lalu, saat aku membuka pintu kamarku, aku merasa sumpek karena harus melihat seorang pemuda yang bisa tahan tidak mandi dua hari, selengekan, dan tidur begitu saja setelah pulang bekerja.
Kali ini, dia pulang dengan sepatu yang berbau busuk seperti baru menginjak tahi. Aku langsung menarik daun telinganya hingga ia terbangun. “Aiz…aduh…!”
Wajah galaknya langsung memudar saat melihatku. “Oh … kamu.”
“Galeno! Bau apa ini sekarang?!”
Galeno mencopot sepatunya. “Maaf, aku berencana membersihkannya setelah bangun tidur.”
“Rencana-rencana terus! Kalau mau tinggal di sini kau harus ikut aturanku; harus rapih!!”
Galeno segera bergerak membersihkan tempat ini. Ia mengeluarkan sepatunya yang kotor lalu membersihkan lantai rumahku yang belepotan tahi hewan.
“Kerja apa kau?”
“Hanya mengantarkan muatan sampai ke kota seberang. Di tengah jalan pedati terpersosok ke dalam lumpur. Kaki kami tidak sengaja menginjak tahi kerbau.” Katanya dengan suara tidak jelas, lebih tepat seperti sedang berkumur. Ia selalu begitu, bicaranya tidak jelas dan tidak berani menatapku.
Ada rasa sesal juga melihat dia menjadi tidak nyaman didekatku, tapi menurutku dia harus diperlakukan tegas. Aku kenal Galeno sejak kecil. Ia tinggal berdua dengan ayahnya sebelum sang ayah meninggal karena TBC 7 tahun lalu. Sejak itu ia bekerja sebagai seorang Bounty Hunter. Bisa dibilang, ia tumbuh besar tanpa sentuhan wanita dan ayah yang super cuek.
Tiga hari lalu, Galeno melakukan kecerobohan sehingga membuat rumahnya terlalap api dan seluruh harta bendanya hangus terbakar. Aku yang pertama tiba di dekatnya dan merasa iba lalu mengajaknya tinggal di rumahku. Untunglah para tetangga sudah tahu bahwa kami sudah seperti saudara sehingga tidak ada yang menggosipkan macam-macam.
Saat ini ia sedang menabung untuk membuat rumah baru. Dan aku memiliki misi khusus untuknya; saat ia keluar dari rumahku, ia harus sudah berubah menjadi orang yang lebih berani, lebih terorganisir dan lebih teratur!
Di lain waktu, ketika aku dan Galeno sedang berjalan-jalan, kami melihat orang kaya memberi sedekah pada seorang bocah miskin yang kurus dan dekil. Aku senang melihatnya. “Ternyata di dunia ini masih ada orang yang dermawan…”
Galeno hanya berkata dengan nada suara datar. “Kasihan, dia ditipu anak kecil.”
“Hah? Bagaimana bisa?”
“Setelah menarik simpati dari orang baik, ia akan membeli mainan atau baju yang lebih bagus dari pemberi sedekahnya sendiri.”
Inilah yang tidak kusukai dari Galeno. Ia selalu berpikir negatif mengenai hal-hal di sekitarnya. “Jelek sekali pikiranmu itu, Galeno! Di dunia ini ada orang yang lahir beruntung dan lahir tidak beruntung, kau harus memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang dan simpatik, bukannya penuh curiga dan pikiran buruk seperti itu!”
Aku terus memberikannya nasihat berguna agar ia bisa berubah. Dalam hatiku, aku maklum, dia kan tidak berpendidikan, setiap hari hanya tinggal di jalanan. Barangkali itu yang membuatnya terbelakang.
“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung.”
Jadi semua perkataanku itu diterimanya sebagai amarah? Ternyata orang ini memang tidak ada keinginan untuk maju, tidak bisa menerima pendapat orang lain! “Aku tidak marah, hanya ingin kau berpikir optimis sekali saja.”
Wajah Galeno terlihat susah, kemudian ia pergi membeli sepotong roti murah dan diberikannya pada seorang pengemis tua yang sedang kelaparan di tepi jalan.
Ketika aku tiba di kelas dan melanjutkan penelitianku terhadap magitech, aku kembali teringat akan Emelinda. Aku begitu ceroboh menyebutkan Golem, padahal tidak tahu banyak tentang itu. Mendadak aku merasa khawatir. Bagaimana bila Emelinda sinting itu benar-benar menggunakan Golem?
Akhirnya aku menghampiri seorang lelaki tampan yang sedang asik memperbaiki sebuah kristal Quartz yang retak. Ketika menyadari kedatanganku, ia langsung tersenyum manis. “Hai, Paquita. Kemana saja kau beberapa hari ini? Sibuk bereksperimen?”
“Kok tahu? Aku sedang mempelajari Golem, apakah kau bisa membantuku?” Kataku langsung pada topik permasalahan. Pax cukup diplomatis dalam memahami rasa penasaranku.
“Quartz biasa hanya dapat menyimpan Force sebagai sumber energi. Tapi belakangan ditemukan Quartz generasi baru yang jauh lebih canggih. Quartz ini mampu menyimpan energi kehidupan sehingga bila telah terisi, akan terlihat cahaya yang bersinar dan meredup, seperti detak jantung manusia.”
Aku sudah tahu apa yang ia bicarakan. “Life-Quartz … atau Core, kan?”
“Ya, benar. Nah, rumus penciptaannya adalah emosi, insepsi dan life-force. Mari kubagi sedikit rahasia.” Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mulai berbisik-bisik. “Belum ada yang tahu cara mengembalikan makhluk hidup yang telah diubah menjadi Golem, jadi sebaiknya jangan bermain-main dengan Golem dulu.”
Kemudian ia menarik kembali wajahnya. “Tapi, aku percaya kau menanyakan hal ini demi kemajuan sains.”
Perbincangan dengan Pax sangat menarik, tanpa terasa hari sudah sore dan saatnya aku pulang. Seperti biasa, emosiku meluap ketika aku melihat keadaan yang berantakan dan Galeno tertidur pulas dengan enaknya di atas kasurku.
“Bangun! Dasar pemalas! Cari kerjaan sana! Sudah berapa hari kau menganggur di sini?!” kuakui aku sedikit kasar sehingga membuatnya terbangun seketika.
Galeno seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak ia ungkapkan sekalipun aku sudah menunggunya untuk bicara. Lama kelamaan sikap kikuknya ini membuatku menjadi kesal. “Mau bilang apa kau?! Bicara saja susah sekali?”
Galeno akhirnya keluar dari rumahku antara seperti sedang ketakutan atau hendak menghindari diriku yang sedang emosi.
Ketika aku merapihkan kasurku yang ditiduri Galeno, aku terkejut melihat ada bercak darah tercecer di kasurku. Mendadak rasa bersalah yang begitu besar pada Galeno meliputiku dan aku segera pergi mencarinya. Ia pasti sedang terluka, barangkali habis berkelahi, atau membasmi segerombolan hewan buas yang meresahkan masyarakat di tepi hutan.
Kenapa aku begitu cepat marah padanya?
Ketika aku tiba di sebuah sudut gang kumuh, aku melihat anak kecil yang tempo hari lalu diberi sedekah oleh orang kaya yang dermawan. Anak kecil itu sedang tertawa-tawa bersama temannya sambil menghitung pemasukannya yang tidak sedikit jumlahnya.
“Mengemis sedikit lagi aku sudah bisa beli mainan baru.”
Mendengar itu, aku merasa malu sendiri karena terlalu meremehkan ucapan Galeno dan menganggapnya tidak tahu apa-apa. Hanya karena ia suka mendengarkanku bicara, lantas aku merasa lebih pintar darinya dan tidak menghargai opini-opininya?
Ketika malam tiba, aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan mendapati rumahku dalam keadaan rapih, bersih … dan barang-barang Galeno tidak ada di dalam rumahku. Di atas meja belajarku, aku menemukan sekantung uang dalam jumlah cukup banyak dan secarik kertas.
Intinya, dia meminta maaf karena selalu membuatku marah dan tidak mau menggangguku lagi.
Tidak ada yang tersisa dari Galeno. Aku duduk di depan pintu, berharap Galeno kembali. Aku tidak pernah perduli dimana dia bekerja atau dimana teman-temannya tinggal. Aku tidak bisa mencarinya. Ia benar-benar hilang dan aku merindukannya.
Keesokan harinya, setelah petang berganti malam, aku menerima sebuah surat kaleng.
“Kalau berani ayo kita berduel lagi! Kali ini kau pasti mati!” demikian isinya.
Selalu seperti itu setiap kali ia menulis surat. Sesungguhnya aku sedang malas sekali meladeninya, maka aku tidak datang. Aku hanya ingin Galeno kembali.
Dan pada keesokan harinya pada waktu yang sama, surat itu datang lagi. Kali ini ada variasi sedikit hingga aku tidak bosan membacanya.
“Galeno ada padaku! Kalau kau tidak muncul, aku akan membunuhnya!”
Ceroboh sekali Galeno! Apakah dia selemah itu sehingga pada Necromancer bodoh seperti Emelinda saja bisa tertangkap? Tapi sebodoh apapun Galeno, aku akan menyelamatkannya.
Ketika kami sudah berhadap-hadapan di padang yang selalu menjadi tempat duel kami, aku segera meluapkan kemarahanku pada Emelinda. “Kembalikan Galeno!”
Emelinda muncul dengan Buta yang menggendong Galeno. Buta itu menjatuhkan Galeno yang sedang dalam keadaan tak sadarkan diri ke atas rumput. “Orang ini begitu berarti bagimu yah?”
Mataku terbelalak saat melihat Emelinda mengeluarkan sebuah kristal Quartz yang berbentuk solid dan pekat, sinarnya meredup dan bercahaya secara berirama seperti detak jantung. Itu adalah Core!
“Emelinda…apa yang akan kau lakukan?”
“Kau pikir Necromancer tidak tahu cara membuat Golem? Aku hanya sedang mencari satu orang saja yang cukup dekat bagimu, dan ternyata pria ini kelemahanmu.” Kata Emelinda dengan senyum penuh kemenangan.
“Emelinda, jangan,…” Aku tidak percaya aku membuang pedangku dan berlutut dengan mata berkaca-kaca sambil memohon padanya. “…ambil apapun dariku asal jangan lakukan itu…belum ada yang tahu cara mengembalikan Golem menjadi manusia biasa.”
Air mataku terjatuh. “Aku tidak mau membunuhnya.”
“Kalau kau tidak mau membunuhnya, biarkan saja dia membunuhmu.” Kata Emelinda sambil menempelkan Core ke atas punggung Galeno yang sudah dilukis sebuah simbol yang hanya dimengerti oleh para Necromancer.
Saat Core itu bersinkronisasi dengan Galeno, tubuhnya perlahan berevolusi menjadi sesosok monster humanoid. Kulitnya mengeras, ototnya menebal, tulangnya memanjang dan membesar. Wajahnya berubah menjadi wajah Golem batu. Pada dadanya, kulihat Core itu bersarang dengan nyaman, bersinar seperti jantung yang berdetak.
Ketika perubahan wujud itu usai, Golem Galeno menghantamkan kedua lengannya yang besar seperti gorila itu ke atas tanah. Menimbulkan bunyi hantaman yang cukup keras sehingga menghancurkan tanah yang ditinjunya.
Kemudian, Emelinda menanam insepsi pada Golem. “Rock Golem! Bunuh gadis itu!”
Golem Galeno menyerangku seperti tidak pernah mengenalku. Ia sungguh-sungguh menyerangku dengan kekuatan penuh, dan itu membuatku sedih. Dalam serangan Golem yang bertubi-tubi ini, aku mulai menyadari bahwa selama ini, Galeno begitu sabar dan tegar menghadapiku. Ia sama sekali tidak pernah menyakitiku.
Sambil berharap emosiku mencapai emosinya, aku berusaha menggapai jati dirinya “Galeno, ini aku!!”
Aku merasa semakin terancam karena serangan-serangannya semakin berbahaya, akhirnya aku tergelincir dan Golem Galeno akan menghancurkanku dengan tangannya yang besar. Namun mendadak hempasan angin yang sangat kuat menghantam Golem Galeno sehingga ia berhenti bergerak dan menoleh kepada si pengganggu.
Ternyata itu Pax!
Pax segera mengeluarkan Quartz lain, kelihatannya Soil Quartz. Kemudian ia berseru “Crack!”
Golem Galeno terperosok ke dalam tanah dan terjebak di sana. Sementara ia sibuk berusaha mengeluarkan tubuhnya, Pax menghampiriku. “Kau tidak apa-apa, Paquita?”
Aku memeluk Pax penuh rasa frustasi dan putus asa. “Tolong Galeno, aku ingin dia kembali…!”
Pax bersimpati padaku, ia menegur Emelinda. “Ternyata kau Necromancer? Sudah kuduga kau mempelajari ilmu terlarang itu. Apakah kau sadar apa yang telah kau lakukan ini, Emelinda!?”
“A, aku … aku tidak tahu…” Emelinda kabur melarikan diri dari sana, diikuti Buta yang senantiasa melindunginya.
“Hei!! Jangan lari!! Emelinda!!” seruku sambil mulai mengejarnya. Namun Pax menahan lariku dan menatap Golem yang setengah tubuhnya masih terjepit di dalam tanah dan berusaha keluar.
“Paquita … kita harus membunuhnya.”
“Apa?! Tidak! Tidak adakah cara lain?”
Pax terlihat pesimis.
“Katamu Golem tercipta dari penggabungan force, insepsi dan emosi kan? Bila kita memisahkan itu semua, kita pasti bisa menyelamatkannya, kan?”
“Paquita … yang bisa membuat Golem itu menolak insepsi yang ditanamkan padanya hanyalah Golem itu sendiri.”
Ucapan itu membuatku lemas. Aku tidak mau membunuh Galeno. Tapi dilema ini sungguh menyesakkan. Maka aku membentak marah pada Galeno … lagi. “Dasar bodoh!! Kenapa kau selalu membuatku susah!?”
Entah kenapa suasana menjadi begitu tenang. Ketika aku menatap Galeno, ia terlihat seperti sedang kebingungan menatapku. Dan ekspresi wajah golem itu membuatku merasa seperti baru saja melihat secercah harapan.
“Paquita?” tanya Golem Galeno dengan pelan. Seperti biasa, ia tidak bisa bicara dengan lantang dan bebas padaku. Bahkan ketika wujudnya sudah menjadi Golem sangar pun ia masih penakut seperti itu.
“Apa yang terjadi? Aku merasa sedikit aneh dan berat…” tanya Galeno.
Wajah Galeno kini lima kali lebih besar dari wajah aslinya, dan aku menyentuhnya lembut dengan kedua tanganku. Kulit Galeno benar-benar sudah berubah menjadi batu yang sangat keras. Ia menjadi seperti ini gara-gara aku!
Raut wajah Golem Galeno itu terlihat sedikit sedih dan golem itu mengangkat tangannya. Jari telunjuknya yang sebesar tongkat bambu itu mengusap air mataku dengan lembut. Bahkan setelah ia menjadi monsterpun, ia tetap tidak menyakitiku, … bila dalam keadaan sadar.
Ia terkejut melihat jarinya sendiri dan akhirnya tersadar. “Aku … Golem?”
“Maafkan aku…” kataku dengan lirih.
Galeno tidak berbicara apapun, tapi aku tahu ia merasa marah.
Mendadak seekor Harpy menyerang kami dari udara. Ketika Harpy itu melesatkan bulu-bulunya yang tajam menyerupai panah, Galeno segera menarikku dan melindungiku dari serangan panah Harpy-Harpy tersebut mengorbankan punggungnya.
Galeno mencabut pohon yang tumbuh di belakangnya dan melemparnya menghantam Harpy tersebut dengan kuat sehingga musnah.
“Musnah…. Mirip dengan makhluk Necromancer.” gumam Pax.
Galeno mengambil sebongkah batu besar dan melemparnya dengan cepat menghantam Harpy yang lain. Harpy itu juga musnah.
Setelah para Harpy itu musnah, muncullah monster humanoid yang wajahnya menyerupai babi hutan dengan otot tebal dan keras, membawa pedang besar. Kulitnya berwarna hijau dan bergerak seperti manusia. Orc.
Pax menghempaskan segulung udara untuk menghempaskan Orc tersebut, namun Orc itu membelah serangan udara itu begitu saja dan tertawa seperti orang batuk. Galeno menggali tanah yang menjebaknya hingga berhasil mengangkat tubuhnya keluar. Setelah itu ia menerjang Orc itu. Tubuh mereka nyaris sama besar. Dan pedang Orc yang besar itu tidak mampu memberi luka berarti bagi kulit Galeno yang keras bagaikan batu.
Sementara dua makhluk humanoid itu berduel, Emelinda tertawa di atas sebuah bukit tak jauh dari sini. “Paquita, kau tamat malam ini!”
“Emelinda! Kau bagianku!” kataku sambil menghunus pedangku.
“Sori, aku tidak bertarung seperti wanita bar-bar.” Emelinda mengangkat tangannya dan sebatang pohon beringin disebelahnya berubah menjadi Treant. “Sudah kubilang, aku hanya mengukur kemampuanmu, bukan? Kali ini rasakan kekuatanku yang sesungguhnya!”
Treant itu menyerangku dengan sulur-sulurnya. Pax membantuku dengan menyemburkan api dari Fire Quartz di tangannya. Namun Treant itu menjerat kaki Pax dan menelannya.
“Tidak!! Pax…!!” Emelinda histeris.
Emelinda merasa serba salah. Inilah yang membuatku mengatai Emelinda sebagai Necromancer bodoh; ia tidak tahu cara mengendalikan spawn-nya sendiri. Kejadian ini membuatku sadar kenapa Necromancer menjadi ilmu terlarang. Ilmu ini bermain dengan nyawa.
Aku merasa cukup kewalahan meladeni serangan-serangan sulur-sulur Treant itu dan sebuah serangan dari salah satu sulur Treant menusuk kakiku cukup parah hingga membuatku tidak sanggup berdiri.
Ketika Treant itu akan menusukkan sulur-sulur lainnya ke tubuhku, sesosok Orc terbang menghantamnya sehingga menyelamatkan nyawaku. Detik berikutnya Galeno sudah berdiri diantara aku dan Treant.
“Galeno! Pax terjebak di dalam Treant!”
“Aku tahu.”
“Orc itu masih hidup.” Kataku lagi dengan khawatir.
“Aku tahu.” jawabnya lagi dengan tenang.
“Bagaimana ini?”
“Tenang saja.”
Kali ini, untuk pertama kalinya aku melihat Galeno sebagai lelaki dewasa yang tahu apa yang ia lakukan. Ia bahkan melawan Treant dan Orc itu sekaligus tanpa gentar. Ia membiarkan tubuhnya dijerat sulur-sulur Treant dan memanfaatkan serangan Orc yang menggunakan pedang besar itu untuk mematahkan sulur-sulur tersebut.
Setelah terbebas, ia segera bergulat dengan Orc itu dan melemparnya jauh ke belakangku. Kemudian ia membuka paksa mulut Treant itu hingga terbelah menjadi dua bagian dan mengeluarkan Pax yang tidak sadarkan diri.
Namun Orc tadi kini telah berdiri di belakangku dengan pedangnya yang besar terayun siap membelah tubuhku. Ayunan itu sangat kuat sehingga ketika tangan kiri Galeno yang muncul untuk melindungiku dari serangan itu terbelah. Pedang itu pun terbelah menjadi dua bagian.
“Galeno! Tanganmu!”
Orc itu akan menyerang lagi. Aku mencoba berdiri namun kakiku tidak mau bekerja sama. Galeno menahan serangan yang datang dan sementara mereka saling beradu, Orc itu menyeringai, mencabut belati dari pinggangnya dan menghujamkannya ke mata kanan Galeno.
Galeno berteriak kesakitan sementara Orc itu melangkah mundur. Ketika Orc itu menyerang lagi, Galeno sudah mencabut belati di matanya dan menusukkannya menembus kerongkongan Orc. Membuat Orc itu menghilang tanpa bekas.
Tak lama kemudian, terjadi sesuatu pada tubuh Golem Galeno.
Perlahan Core nya bersinar semakin terang dan keluar dari tubuhnya. Core itu terjatuh ke atas rumput, menggelundung dengan sinar yang masih berkedip-kedip. Galeno akhirnya kembali ke tubuh asalnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Pax membawanya ke klinik dimana pendarahan yang dialami tangan kiri dan mata kanannya dirawat. Aku dan Emelinda menyadari kebodohan kami selama ini dan memutuskan untuk berdamai. Kami mulai belajar saling menghargai satu sama lain. Siapa sangka? Ternyata kami justru sangat cocok sebagai sahabat!
Ketika aku sedang menunggui Galeno di klinik, teman-temannya datang menjenguk.
“Kudengar dia menjadi Golem kemarin. Bagaimana dia bisa menjadi manusia lagi?” tanya Sir Kristoff padaku.
“Insepsi…” jawabku. “Ketika sesuatu diubah menjadi Golem, Insepsi adalah perekat antara energi kehidupan dan Force yang terkandung dalam Core. Ketika Insepsi itu gagal total, inang akan menolak Core..”
“Galeno, setelah kau sembuh, datanglah ke bar, kita rayakan keajaiban itu sampai mabuk!” Kata Jack. Galeno hanya menjawab dengan hembusan nafas.
“Wah … kalem sekali kau? …aneh.”
Aku segera menegurnya dengan galak. “Mabuk-mabukan di Bar?!”
“Memangnya anda tidak tahu, nona? Dia ini tukang cari ribut! Selain itu dia juga hidung belang, terutama bila sudah mabuk. Dia benar-benar nakal!” kata Jack, tidak tanggung-tanggung.
Galeno hanya melirik padaku dengan wajah tegang sementara aku berkacak pinggang meminta penjelasan bagus darinya agar aku tidak menghajarnya atas informasi yang baru kuketahui itu.
Sir Kristoff lalu tertawa terbahak-bahak sambil melirikku. “Ahh!! Ternyata dia kalem sekali karena ada pawangnya di sini!!”
Apa? Pawang? Enak saja…!
Tapi…mungkin dia benar.