My Blog List

Thursday, June 14, 2012

Friday, February 17, 2012

New Draft Project : Finding Utopia

terpikir 1 ide.

tentang seseorang yang hidup di negara menjunjung tinggi moral tapi mendamprat filsafat karena mereka tidak sanggup berpikir banyak. mereka lebih fokus mengeluh dan mencari simpati dari orang kaya, sementara orang kaya sibuk menjilat orang yang lebih kaya, dan orang nomer satu di tempat itu sibuk memanipulasi apapun yang bisa ia manipulasi agar dia bisa hidup enak (korupsi).

orang ini yang mencintai filsafat, dihina dan dikucilkan karena berbeda. ia banyak mengkritik moral buta, tapi ia beruntung karena dia anak orang paling berkuasa di sana.

ia pergi meninggalkan negerinya setelah pertengkaran demi pertengkaran dihadapi. ia mendengar tentang sebuah negeri bernama utopia dimana rasio dihargai dan keteraturan berjalan.

Finding Utopia?
Utopia?

Sunday, February 5, 2012

Indie Publishing : Tales of The Deities


Akhirnya saya berhasil menterbitkan satu buku sekalipun lewat jalur Indie (kualitasnya tidak ada yang bisa menjamin dilihat secara pasar). Buku itu adalah sebuah kumcer tentang 3 cerita bertemakan "dewa".

Cerita pertama ditulis oleh teman saya, Riesling. Menceritakan tentang konflik batin dan perasaan Loki pada hari-hari pra dan pasca Ragnarok. Bagi penggemar mitologi Nordik, cerita ini patut diperhitungkan.

Cerita kedua ditulis oleh teman saya, Jangseng ... maksud saya Farid Abdul. Menceritakan tentang awal mula penciptaan manusia dalam mitologi dunia Farum dengan tokoh utamanya bernama Aburankal. Sisi menarik dari cerita ini adalah konsep penciptaan manusianya yang menurut saya cukup filosofis.

Cerita ketiga ditulis oleh saya sendiri dengan nama pena Shou Jinbei. Sodia & Oqeanos adalah dua Persona yang hidup di dunia yang berbeda dan tidak mungkin menyeberang dunia. Namun ironisnya, keduanya justru merasa lebih akrab satu sama lain daripada dengan Persona lainnya. Maka dari itulah salah satu dari mereka berpikir untuk menyeberang ke dunia sebelah.

Menurut testimoni dari orang-orang yang sudah membaca cerita ini, mereka berpendapat bahwa cerita ini cukup tragis. Tapi beberapa orang lainnya berpendapat bahwa cerita ini memiliki lirik yang cukup keju, sekalipun bagi saya sendiri biasa saja.

Wednesday, January 11, 2012

Kritik yang dialami oleh karya besar

Harry Potter, sebuah karya masterpiece yang menjadi icon masa mudaku. Banyak kisah yang terinspirasi dari sana. Saya tidak pernah membaca Harry Potter dan hanya tahu sedikit-sedikit mengenainya dari komentar orang di internet. Namun satu hal yang saya simpulkan dari serial ini adalah : karakteristiknya yang luar biasa.


sumber : 9gags

Bagi saya, karakter yang berhasil adalah karakter yang mampu mempermainkan perasaan pembacanya, memberi inspirasi, atau mengubah hidup pembacanya. Saya baru temukan karakter seperti ini dari San Guo Yan Yi, Guan Yu dan Zhuge Liang, kemudian dari Berserk, Guts dan Griffith, dan terakhir One Piece, karakter minor bernama Doktor Hirluk (majikannya Tony Tony Chopper).

Sekalipun karya besar tidak akan luput dari kritik pedas dan sebuah peremehan. Tidak pelak juga, orang-orang yang mungkin populer ataupun punya nama besar dalam bidang dunia tulis menulis, kadang memberikan kritik antipati terhadap karya tersebut. Namun apakah hal itu mampu menghalangi Harry Potter untuk menjadi karya terbaik?

Rupanya yang membuat Harry Potter masih merupakan karya terbaik di dunia bukanlah para kritikus, tapi fans nya. Orang-orang yang menyukai Harry Potter, bukan orang-orang yang membenci Harry Potter.

Berikut ini adalah kritik-kritik yang dilontarkan untuk Harry Potter yang saya ambil dari goodreads.

notgettingenough rated it 1/5
Enough. I'm putting this one to bed. I so don't want to finish it.

--------------------------

‘Not enough sex’ was my first thought, but then we do get to this part where boys are discussing the length and capacities of their wands and I perked up for a moment until I realised that they were actually talking about wands.

"Bugger the wizards, where the fuck are the social workers? I can't believe little children enjoy reading this tale of an abused child, half-starved, beaten, living in a cupboard. This isn't fun, it's HORRIBLE!"



Harold Bloom rated it 1/5
Can 35 Million Book Buyers Be Wrong? Yes.

Taking arms against Harry Potter, at this moment, is to emulate Hamlet taking arms against a sea of troubles. By opposing the sea, you won't end it. The Harry Potter epiphenomenon will go on, doubtless for some time, as J. R. R. Tolkien did, and then wane.

The official newspaper of our dominant counter-culture, The New York Times, has been startled by the Potter books into establishing a new policy for its not very literate book review. Rather than crowd out the Grishams, Clancys, Crichtons, Kings, and other vastly popular prose fictions on its fiction bestseller list, the Potter volumes will now lead a separate children's list. J. K. Rowling, the chronicler of Harry Potter, thus has an unusual distinction: She has changed the policy of the policy-maker.

Imaginative Vision

I read new children's literature, when I can find some of any value, but had not tried Rowling until now. I have just concluded the 300 pages of the first book in the series, "Harry Potter and the Sorcerer's Stone," purportedly the best of the lot. Though the book is not well written, that is not in itself a crucial liability. It is much better to see the movie, "The Wizard of Oz," than to read the book upon which it was based, but even the book possessed an authentic imaginative vision. "Harry Potter and the Sorcerer's Stone" does not, so that one needs to look elsewhere for the book's (and its sequels') remarkable success. Such speculation should follow an account of how and why Harry Potter asks to be read.

The ultimate model for Harry Potter is "Tom Brown's School Days" by Thomas Hughes, published in 1857. The book depicts the Rugby School presided over by the formidable Thomas Arnold, remembered now primarily as the father of Matthew Arnold, the Victorian critic-poet. But Hughes' book, still quite readable, was realism, not fantasy. Rowling has taken "Tom Brown's School Days" and re-seen it in the magical mirror of Tolkein. The resultant blend of a schoolboy ethos with a liberation from the constraints of reality-testing may read oddly to me, but is exactly what millions of children and their parents desire and welcome at this time.

In what follows, I may at times indicate some of the inadequacies of "Harry Potter." But I will keep in mind that a host are reading it who simply will not read superior fare, such as Kenneth Grahame's "The Wind in the Willows" or the "Alice" books of Lewis Carroll. Is it better that they read Rowling than not read at all? Will they advance from Rowling to more difficult pleasures?

Rowling presents two Englands, mundane and magical, divided not by social classes, but by the distinction between the "perfectly normal" (mean and selfish) and the adherents of sorcery. The sorcerers indeed seem as middle-class as the Muggles, the name the witches and wizards give to the common sort, since those addicted to magic send their sons and daughters off to Hogwarts, a Rugby school where only witchcraft and wizardry are taught. Hogwarts is presided over by Albus Dumbeldore as Headmaster, he being Rowling's version of Tolkein's Gandalf. The young future sorcerers are just like any other budding Britons, only more so, sports and food being primary preoccupations. (Sex barely enters into Rowling's cosmos, at least in the first volume.)



Nikki rated it 3/5
It was then that I figured out that, yeah, there are things wrong with Harry Potter beyond just the hype that was irritating me so much and the feeling that Rowling in no way matched up to the giants of fantasy and sci-fi, like Tolkien. I studied it alongside Tom Brown's Schooldays, by Thomas Hughes. Do note that I didn't like that book either. But it's a well written, well shaped, well considered book -- and it doesn't use the same cheap tricks as Harry Potter does. I'm not going to say much about that, since it's not a book I liked: if I'm going to compare/contrast, I'll compare with my favourite book that is also supposed to be for younger readers, Susan Cooper's The Dark Is Rising.

There's also a very easy, blunt misdirection. You're supposed to hate Snape, supposed to believe he's the one to blame for everything, and at the end, you're supposed to be as surprised as Harry when it's Quirrel waiting there for him. At the age of eleven, I think I went right along with that, but when I reread it for A Level, I had to wince at how heavy-handed the misdirection was. I understand that later in the series Snape comes into it more, and I don't know whether the misdirection turns out to be not that misdirected when it comes down to the real truth: but in the first book, you're meant to believe it's Snape all along, and I don't think J. K. Rowling does a very good job of giving us clues that it's not actually Snape, because she's so busy blackening him to lead people astray.

That's why I don't like Rowling's writing. It's not particularly refined, it's unsubtle -- and that's okay, you know, I'm not saying you can't enjoy that, can't find it refreshing. I don't. I'm also not saying that 'novels' are bad -- they're good, they can provide valuable escapism, they can be incredibly rich fodder for the imagination, and I suspect Harry Potter is, for many children. But I don't call it literature, and I myself don't like it.

Note: the three star rating is because honestly, when I first read it, I did love it.

Monday, January 9, 2012

Mengkritik Kritikus

Seringkali orang mengkritik sebuah karya berdasarkan standarnya sendiri, ukurannya sendiri. Misalnya, ia melihat ada sebuah dunia yang sangat berbeda dari filosofinya, maka kemudian ia mengatakan hal itu jelek.

Sungguh menggelikan lagi adalah bila si pengkritik itu begitu tajam mengkritik karya seorang novelis yang tidak dikenalnya sama sekali. Namun ketika ada novelis yang merupakan teman baiknya mengeluarkan sebuah buku dan sama kualitasnya dengan karya yang satu tadi, si pengkritik ini tidak setajam yang sebelumnya.

Seorang pengkritik memang harus memiliki pengetahuan luas. Namun satu kelemahan dari mereka yang berpengetahuan luas adalah : kesombongan. Merasa tahu banyak, lantas karena dalam sebuah cerita tidak sesuai dengan standarnya, lalu ia mulai kehilangan respek terhadap cerita tersebut dan saat itulah apapun yang terasa janggal sedikit akan langsung menjadi jelek.

Yah, namanya juga penilaian. Dan manusia memang seorang makhluk emosional.

Tapi ada juga yang kutemukan, seseorang mengkritik sengaja untuk menguji mental orang yang dikritik, untuk mencari-cari kesalahan sebagai teguran halus untuk orang yang dikritiknya bahwa ia masih banyak memiliki kekurangan, maka dari itu jangan sombong dulu, nih aku buktikan bahwa kamu tidak sebaik yang kau pikir. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Melihat pendapat-pendapat pribadi para pengkritik itu membuatku berpikir, lantas kritik yang enak itu seperti apa?

Mari menilik kembali dari dasar kata "kritik".

Kritik sejatinya adalah sebuah opini, pendapat, yang secara teknis membuatnya memiliki sifat subjektif. Kritik adalah sebuah pendapat yang melihat sebuah permasalahan sesuai dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimiliki seseorang berhubungan dengan penilaiannya terhadap sebuah perkara. Kritik biasanya bersifat teguran, maka dari itu kritik seharusnya bersifat membangun.

Karena kritik berawal dari penilaian subjektif seseorang berdasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan mereka pribadi, maka sebuah kritik terkadang menjadi bersifat "aku dan duniaku". Sebuah jenis kritik yang pada dasarnya menstandarkan apa yang ia terima sesuai dengan filosofi dia sendiri. Kritik seperti ini biasanya disebabkan oleh karena keinginan seseorang untuk mencari kesalahan target, opini pribadi yang terlalu ditunjukkan secara bebas, atau ada sebuah ketidak tahuan seesorang mengenai sesuatu yang membuatnya secara tidak sadar terdengar seperti sedang memaksakan pendapat pribadi.

Kita tidak usah membicarakan kritik yang disebabkan oleh karena keinginan seseorang untuk mencari-cari kesalahan target. Biasanya orang sudah bisa mengerti sendiri apa yang kira-kira sedang terjadi.

Saya lebih tertarik untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan lainya, pertama, "opini pribadi yang terlalu ditunjukkan secara bebas".

Memangnya salah memiliki opini pribadi?
Tidak salah, tidak ada yang salah dalam berpendapat. Lagipula negara Indonesia sendiripun adalah negara demokrasi. Yang akan kupermasalahkan adalah soal opini pribadi yang dikemukakan terlalu bebas sehingga ia malah jadi melenceng dari tujuan asalnya : mengkritik.

Misalnya seseorang melihat sebuah tulisan yang tidak menarik minatnya, lantas kemudian ia menjelek-jelekkan karya itu.

"Ini kok ga ada si ini sih?"
"kok si itu ga muncul?"
"harusnya kaya begini nih..."
"ini salah, ga mungkin ini kaya gini."
"kok ga ada meriam?"

Kadang terpikir oleh saya, mereka ini sebenarnya sedang mengkritik atau sedang ingin mengadopsi cerita yang bersangkutan menjadi ceritanya sendiri?

Bila kelak anda menerima kritik seperti ini, balasannya sangat simpel sebenarnya; "emangnya ga bole?"

Namun harap hati-hati dan kritik ini masih tetap layak untuk dipertimbangkan. Kalau memang masuk di akal, dan merupakan sesuatu yang terlewat dari perhatian kita, sebaiknya diterima saja. Tapi kalau hal yang dikritik itu adalah hal yang memang kita sengaja dan kita sadari, dan setelah dipikir-pikir kembali bahwa cerita yang kau angkat memang tidak salah tanpa adegan yang diusulkan si pengkritik, kau berhak membalas : "emangnya ga bole?"


Adapun kritik terparah adalah kritik yang didasari dari kesimpulan yang terlalu cepat dan penyelidikan yang kurang matang.

Misalnya menilik sebuah kejadian pemberontakan para bangsawan yang berkemah untuk menyerbu ibukota. Kemudian seseorang memberi asumsi buruk karena kata "pemberontakan" bersifat jelek, dan sudut pandang simpatinya berada di pihak kaisar. Maka orang itu akan menganggap bahwa yang dilakukan Yuan Shao, Sun Jian, Liu Bei dan Cao Cao itu adalah kesalahan besar dan sebuah dosa berat karena mereka bermaksud menggulingkan Dong Zhuo.

Padahal kita semua tahu bahwa Dong Zhuo adalah seorang tiran.

---------------------------
Tempo hari lalu saya mengemukakan pendapat bahwa "Pengalaman adalah riset terbaik untuk karya tulis".

Tentu saja orang-orang kemudian berusaha menyanggahnya dengan mengatakan "gak perlu lah, masa kita mau bikin cerita cewek diperkosa lalu kita harus ngerasain diperkosa??"

Entah bermaksud skeptis atau terlalu cepat menyimpulkan?

Maksud dari pernyataan itu adalah :
Seseorang yang menuliskan sesuatu yang pernah ia alami secara nyata, pasti bisa meraskan tension yang ia rasakan saat merasakan kejadian itu. Ia dapat menggambarkan dengan detail apa yang terjadi, maupun secara puitis.

Saat saya membaca prolog dari Silver Phoenix, saya terkesan dengan cara Cindy Pon mendeskripsikan adegan melahirkan. Biasanya orang mendeskripsikan adegan itu dari sudut pandang orang ketiga. Namun Cindy Pon mendeksripsikannya berdasarkan apa yang dirasakan sang selir secara emosional dan tense. Sungguh deskripsi yang begitu mengagumkan karena beberapa kata membuat saya merasa seperti sedang melahirkan.

Dari sana saya menilai bahwa Cindy Pon pasti sudah pernah melahirkan. Dan setelah kubaca biografinya, ternyata ia memang sudah memiliki dua orang anak. Cindy Pon bisa menggambarkan deskripsi melahirkan secara emosional dan berhasil menerapkan tension di dalamnya, karena ia sudah pernah melahirkan dan tahu apa yang ia alami.

Bukan berarti saya mengatakan bahwa kita harus melahirkan dulu sebelum menulis adegan melahirkan. Semoga anda tidak berpikir sebodoh itu. Yang hendak saya sampaikan adalah, sebuah kelebihan yang dimiliki seorang penulis yang menulis kejadian karena sebuah pengalaman nyata dibandingkan penulis yang sama sekali belum pernah merasakannya secara pribadi.

Sama-sama bisa tertulis dengan baik, namun harusnya ada nilai lebih dari yang ditulis seorang penulis empiris.


Ini juga pernah berlaku ketika saya menuliskan sebuah cerita tentang seorang pemuda dipukuli hingga babak belur di tengah kerumunan para sipil yang sedang menggenggam perkakas tani mereka sebagai senjata.

Bisa ditebak, kritik yang saya dapat adalah, "kok pada gak nolongin sih!?"

Anda setuju dengannya?

Secara ideal dan logika, memang seharusnya bersatu kita kuat bercerai kita runtuh. Namun pada penerapannya, kadang kita harus membuka kemungkinan juga bahwa masyarakat yang mengelilingi kita tidak semuanya berjiwa pahlawan dan pemberani. Bahkan sesungguhnya orang berani di lingkungan kita ini sangat sedikit. Satu banding berapa puluh.

Anda sendiri bila melihat ada orang dirampok, apakah anda mau menolong orang itu, sekalipun anda sedang bersama katakan 10 orang teman anda yang badannya tinggi besar?

Saya yakin anda berusaha untuk tidak memperhatikan agar para preman itu tidak menghampiri anda. Mungkin suasana di sekitar kalian akan menjadi hening mendadak sebagai wujud simpati terhadap orang malang yang dirampok itu. Inilah kenyataannya. Orang baru akan melawan bila ia atau temannya terancam. Tidak ada waktu untuk mengurusi orang asing. Setiap orang tidak mau menambah masalahnya sendiri. Hal ini yang kadang terlewat oleh para kritikus, bisa diakibatkan oleh karena kurangnya pengalaman nyata.

Saya sendiri mengalami langsung sebagai korban perampokan di sebuah bus. Leher saya dicekik, sebuah pisau buah murahan menodong perut saya, orang itu mencabut tas pinggang saya yang isinya hanya kertas-kertas bon dan uang sebesar 50 rupiah.

Disekitar saya ada sekitar 10 orang bapak-bapak dan beberapa ibu-ibu. Mereka semua melarikan diri ke dekat supir sambil menonton saya seperti menonton televisi. Dan parahnya, mereka terlihat bersyukur bahwa yang mengalami itu bukan mereka. Sama sekali tidak ada harapan seseorang melakukan sesuatu untuk saya.

Dan setelah para rampok itu pergi, dengan dahi bercucuran darah kental yang mengucur deras masuk ke dalam bibir saya, saya duduk ke depan dan mengadu pada mereka, "Kok ga pada nolongin sih?"

Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan si kritikus, bukan?

Tahu apa jawaban mereka?

Seorang pemuda tegap, sehat dan bertubuh tinggi besar balik memarahi saya, "lo gila ya!? kalo gue nolongin lu gue yang celaka!"

=====================================

Favorit Proofreader

Sejauh ini selalu suka dengan review dari Zoelkarnaen, David Ezra, dan Alfare.

Memperhatikan kritik-kritik yang dilontarkan oleh Zoelkarnaen, tampaknya ia sangat peka dan tajam dalam memahami sebuah cerita dan tetap bisa berkonsentrasi untuk jeli melihat hal yang tidak wajar dalam sebuah kejadian atau hal. Dan hebatnya lagi, dalam setiap mengkritisi sebuah karya, belum pernah saya lihat ada komentarnya yang tajam melukai perasaan penulisnya, sekalipun karya itu jelek sekali. Karena itulah Zoelkarnaen menjadi kritikus favoritku.

David Ezra tampaknya memiliki pandangan sendiri dan mampu melihat sebuah karya layaknya seorang penerbit yang sedang menyeleksi naskah. Kelihatannya kritik-kritik David Ezra lebih kepada hal-hal yang bersifat teknis seperti; mau dibawa kemana cerita itu, apa tujuan cerita itu, prospek ke depan, potensi yang dimiliki dan pada akhirnya ia dapat memiliki penilaian sendiri yang cukup orisinil terhadap karya tersebut.

Alfare tampaknya lebih melihat sebuah karya tulis seperti halnya seorang penulis. Ia cukup memperhatikan unsur-unsur kepenulisan yang berhubungan dengan trope-trope. Tampaknya ia lebih memprioritaskan pandangannya pada efektifitas sebuah plot sehubungan dengan sebab akibatnya. Sekalipun masih ada beberapa pandangan pribadi, namun Alfare masih termasuk proofreader favoritku.

Orang-orang lain yang berpotensi untuk menjadi proofreader favoritku mungkin adalah Rendi Datriyansyah.

Kuperhatikan penilaiannya terhadap karya lain cukup terbuka. Maksudnya, ia adalah orang kritis dan tetap seorang penilai, namun juga seorang yang cukup terbuka terhadap ide dan rasio baru yang ia terima. Ia berusaha untuk memahami sebuah karya, dan ternyata ia seringkali berhasil.

Saya ingin menyebut Farid Abdul, namun saya belum pernah membaca review dia. Baru satu atau dua review dan itu belum bisa mengatakan apapun tentang apa yang ia lihat dan dimana ia melihat sebuah karya lain dan menyikapinya.

Sementara Proofreader yang tidak saya sukai adalah Rea Harbowoputra. Alasannya; ngaret dan pemalas.

Sunday, January 8, 2012

Update Progress : The Seer

Akhirnya naskah The Seer : Kisah dari Egaza ku selesai juga kurevisi. Hmm .. sebenarnya sudah dari beberapa waktu lalu sih, cuma lupa curhat di blog ini.

Anyway, sekalipun ada beberapa faktor dari naskah lama yang tidak terpakai lagi di naskah baru ini, saya merasa cukup puas dengan hasilnya, hanya masalah berikutnya adalah bagaimana cara mencetak sebanyak 350 lebih halaman HVS, dan bagaimana cara menjilidnya. (naskah yang dulu saja susah sekali mencari tukang fotokopi yang bisa).

Saat ini sudah kusebar pada teman-temanku yang kunilai cukup bisa memahami dan kritis dalam memeriksa dunia The Seer dan bisa mengembangkannya menjadi lebih baik.

Sementara menunggu, saya ingin menjauhkan diri dulu dari kegiatan yang berhubungan dengan The Seer, agar otak tidak terlalu mengembara jauh dan tetap berpijak pada tanah sehingga tidak kehilangan rasio ku.

Saya sudah men-list beberapa nama yang rencananya akan saya kirimkan gratis sebagai bentuk tribute atas alasan-alasan yang bervariatif. Karena saya benar-benar yakin naskah ini akan terbit beberapa bulan lagi (sekalipun belum di print jadi hard-copy, tapi tidak pernah salah dalam berharap, kan?).

Friday, December 16, 2011

Silver Phoenix (Kingdom of Xia, #1)Silver Phoenix by Cindy Pon

My rating: 3 of 5 stars


Awalnya saya tidak berniat membaca novel ini karena saat novel ini ada dalam genggaman saya, saya sedang dalam masa UAS. Namun kemudian teman saya menanyakan pendapat saya tentang novel tersebut, maka saya coba untuk melihat sekilas saja prolognya. Tadinya ingin membaca satu atau dua paragraf, namun ternyata saya tidak bisa berhenti membacanya. Buku ini seperti menjerat saya dengan kata-katanya yang sangat mengalir sekalipun hanya novel terjemahan. (kadang bahasa terjemahan tidak seindah bahasa aslinya)



Akhirnya saya memutuskan untuk membaca novel ini saat sedang dalam perjalanan di dalam bis untuk sekadar mengisi waktu kosong daripada saya pakai untuk tidur.



Saya begitu takjub dengan kekuatan narasinya yang sangat lekat untuk mata, ini salah satu novel yang membuat saya merasa bosan ingin menutup bukunya, tapi tidak bisa karena terjerat kekuatan narasinya. Dan ini menjadi novel tercepat yang pernah saya baca. Hanya butuh waktu satu minggu untuk melahap seluruh ceritanya yang menawan dan membuat penasaran sekalipun ada beberapa hal yang menurut saya terlalu dipaksakan.



Dan saya suka cara dia mengakhiri reign Dark Lord itu. Kiss of Death.





Silver Phoenix mengisahkan tentang cerita masa lalu Silver Phoenix dengan Zhong Ye, rahasia latar belakang Chen Yong, tentang Ai Ling yang berjuang menyelamatkan ayahnya. Namun yang saya sayangkan adalah hingga akhir, masih belum jelas siapa itu Silver Phoenix dan bagaimana kehidupnnya. Barangkali sempat diceritakan di pertengahan cerita (saat berada di Dunia Atas) namun mungkin saat itu saya sedang "hajar blas" sehingga tidak mencerna isi ceritanya dengan baik.



Bagian termenakjubkan kedua setelah kekuatan narasinya adalah deksripsi makhluk-makhluk setan dan mistik nya yang begitu jelas dan kreatif. Sekalipun tertulis di bagian akhir buku bahwa monster-monster itu terilhami (atau mungkin diambil) dari hewan-hewan mitologi China. Mungkin ini pertama kalinya saya membaca genre Dark-Fantasy dalam bentuk novel. Sekalipun tidak terlalu mampu memberikan kesar horor atau teror, namun saya merasa cukup pantas untuk di sebut Dark-Fantasy. Satu hal yang saya sayangkan lagi adalah kematian Permaisuri. Saya mengharapkan sebuah kematian indah dan juga kematian Selir (Ibu Chen Yong) yang juga saya harapkan dibunuh dengan "sedap" tapi ternyata hanya seperti itu.



Bagian ketiga yang membuat saya menyukai cerita ini adalah kebudayaan China yang diangkat terasa cukup kental. Saya banyak mengetahui hal baru tentang kebudayaan China terutama dari sudut pandang kaum hawa berkat buku ini. Tetap ada "tapi" nya, saya sangat menyayangkan percakapan antar karakternya (terutama Li Rong) yang menurut saya adalah dialog-yang-sangat-Amerika. Percakapan-percakapan yang sangat Amerika ini seringkali mementalkan saya dari dunia Xia yang kaya akan makhluk mistik menjadi ke dunia film-film amerika terutama film remaja yang kehidupannya berkisar tentang sekolah dan jokes-jokes para siswanya yang khas seperti itu.



Battle scene ... kurang begitu istimewa. Banyak informasi dalam battle scene yang harus saya baca ulang karena membuat saya "Zone out" saat membacanya. Tapi cara monster-monster itu bertindak sangat keren dan tidak monoton.



"Marry Sue" ... ada, sedikit, sempat bingung juga bahwa gadis yang tidak laku-laku ini ternyata begitu keluar dari rumah jadi incaran beberapa orang di sekitarnya dan beberapa kali disebut-sebut "cantik".



Karakteristik ... entahlah, saya tidak menemukan ada sifat yang menonjol selain Li Rong dan mungkin sifat khas Chen Yong yang suka membaca buku.



Secara keseluruhan cerita ini layak dibaca, tapi saya tidak tahu apakah berniat untuk membacanya sekali lagi atau tidak.



Oh ya, ini 17+



View all my reviews

Monday, October 24, 2011

Salah Satu Proses Belajar Penulis Fantasi

Sejak memutuskan untuk serius menulis novel dan menetapkan bahwa saya harus berhasil di bidang ini, saya mulai menulis sebuah naskah dan menunjukkannya kepada sekelompok orang untuk mengira-ngira, seperti apa kira-kira tanggapan mereka terhadap karya saya. Ternyata tidak ada satupun orang yang menyebutnya bagus, menyanjungnya, terkesan dengan karakternya, atau menghargai ceritanya. Paling hanya beberapa orang baik yang rela membaca ceritanya hingga selesai dan memberikan feedback seikhlasnya.

Awalnya saya tidak mengerti, saya yakin sekali bahwa cerita buatan saya layak terbit dan tidak jelek. Tapi kenapa tidak ada apresiasi seperti yang saya harapkan? Bahkan beberapa proof-reader harus kabur dari saya karena mungkin takut ditagih sementara mereka belum selesai baca. Kemudian saya mulai melakukan pendekatan-pendekatan dengan tujuan untuk mengetahui sebenarnya karya seperti apa sih yang diterima?

Setelah mengalami beberapa proses pengenalan dan penyelidikan, akhirnya saya menemukan kenapa karya saya itu tidak terlalu diminati.

1. tulisan saya kurang "nyastra"

2. karakter-karakternya amburadul

3. banyak plothole fatal

Dan semua itu terjadi karena memang saya masih benar-benar newbie. Newbie yang sangat ambisius dan tidak sabaran. Saya tidak sadar bahwa untuk bisa menulis dengan baik, kita harus menulis seperti novelis, harus memahami psikologi dan harus tahu bagaimana cara berfilsafat.

Suatu hari ayah saya datang dan berbicara pada saya, ia ingin saya kuliah lagi untuk memperoleh gelar, ia rela keluar uang agar saya bisa terjamin masa depannya. Mengingat di Indonesia, orang yang bergelar pun sulit mendapat pekerjaan, maka saya mau tidak mau harus mengikuti arus.

Saya tetap pada keputusan saya untuk menjadi seorang penulis fantasi. Karena sedari kecil hingga sekarang, yang saya lakukan tidak lain adalah berkhayal, bermain game, berpikir abstrak, bertindak abstrak ... bahkan keluarga saya pun bingung pada saya karenanya.

Setelah menganalisa dari karya-karya fantasi dunia yang sukses, termasuk diantaranya Arthurian Legend, Sam Kok, William Shakespeare, dll, saya mendapati bahwa ternyata kuliah yang paling tepat bagi penulis fantasi barangkali bukanlah jurusan sastra.

Dalam kisah Fantasi, kita dituntut untuk sedapat mungkin bisa menciptakan konsep sendiri. Antara lain :

1. konsep dunia

2. konsep metafisika

3. konsep penciptaan


dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai :

1. kepribadian manusia, apa yang akan dilakukan seseorang bila ...

2. dampak revolusi

3. kenapa bisa terjadi tirani dan pemberontakan?

4. logika

5. etimologi

Maka dari itu, menurut saya seorang penulis fantasi hendaknya mengetahui banyak soal Kosmologi, metafisika, mitologi, psikologi, sosiologi, logika dan mengolah analisa dari sebab akibat yang berhubungan dengan peristiwa nyata, yakni sejarah.

Semua ilmu yang dibutuhkan bagi seorang penulis fantasi, ada di dalam kuliah Filsafat.

Bila kau yang membaca notes ini, hendak serius ingin menjadi penulis fantasi, saranku, ambillah jurusan filsafat.

Barangkali JK. Rowling dan JRR Tolkien tidak mempelajari filsafat secara khusus. Dan beberapa orang mungkin berpendapat bahwa mengambil kuliah filsafat hanya untuk menulis itu sangat ribet dan berlebihan. Tapi saya sendiri sejak masuk kuliah, merasa malu pada karya-karya saya yang dahulu, menyadari bahwa ternyata secara ilmu kosmologi dan lain-lain, karya saya itu sangat ngawur! Jurusan filsafat bisa mengarahkan seorang calon penulis fantasi untuk mempelajari proses penciptaan yang umum digunakan penulis zaman purbakala dalam menciptakan mitos.

Lagipula hidup ini sebenarnya penuh dengan filosofi. Bahkan seorang tak berpendidikan hingga penjahat pun bisa berfilosofi. Maka dari itu, bila kau menciptakan sebuah karya tanpa filosofi yang kuat, karya itu sudah pasti tidak akan bertahan lama. Kalaupun bisa dikenang, barangkali dia hanya eksis sebagai karya pop, ringan, bahkan mungkin tak jarang orang menyebutnya "karya dangkal".

Sunday, October 23, 2011

New Project : Mythology of Adamos

Cerita baru yang tidak benar-benar baru, sebenarnya. Adamos adalah cara orang-orang Amoura menyebut "Gaia". Seperti yang saya konsepkan, "Bumi" dalam realm Kosmos ku ini tidak memiliki nama pasti. Pada lain daerah, lain pula namanya. Namun secara umum, mereka sepakat untuk menyebutnya "Adamos", yakni setelah tahun 1700 GD, dimana masyarakat telah membaur dengan dunia luas dan globalisasi, era pelayaran keliling dunia secara besar-besaran telah menciptakan balapan eksplorasi dunia secara tidak langsung. Era ini dipelopori oleh meninggalnya Zhuge "Jethro" Guthree (1486 - sekitar pertengahan abad 16 GD) setelah buku hariannya diterbitkan oleh putranya pada penghujung abad ke 17.

Setelah masa globalisasi dan eksplorasi melalui pelayaran, tak lama dari daerah Passifica, tren ini membuat penciptaan airfish kembali memarak setelah sebelumnya alat transportasi udara ini hanya menjadi barang mewah khusus kendaraan plesir para bangsawan saja, mengingat pembuatannya yang memerlukan biaya yang tidak sedikit dan filosofi manusia Passifica untuk menghormati langit sebagai wilayah kudus yang suci.

Saat manusia menemukan daerah baru, mulailah timbul penjajahan dan kolonialisme. Pencampuran budaya pun terjadi dimana-mana dan lambat laun, ketika memasuki tahun 2000, tersiar kabar bahwa para Animus mengunjungi pemimpin Passifica yang saat itu menjadi adi kuasa, membicarakan masalah kemanusiaan dan peperangan. Animus ingin dunia manusia yang terkendali dan damai, atau mereka terpaksa bekerja sama dengan para Ogre di Tartarus untuk membinasakan manusia seperti mereka membinasakan Era para Dragon ribuan tahun silam.

Manusia berhasil membuat kesepakatan dengan para Animus yang menghasilkan sebuah keputusan untuk mengadakan perdamaian secara menyeluruh. Kini dunia mengalami masa damai dan hidup harmonis. Pertukaran pelajar dan budaya menjadi tren baru dunia. Dari ribuan kebudayaan dan mitologi yang ada, rupanya mitologi bangsa Amoura lah yang dinilai paling rasional dan paling masuk akal. Mitologi ini menjadi populer dan akhirnya disepakatilah untuk menyebut planet ini dengan nama "Adamos", sebagaimana masyarakat Amoura menyebutnya.

Kisah-kisah dalam Mythology of Adamos berisi tentang mitologi Amoura yang sarat akan filosofi mereka tentang kosmologi. Masyarakat Amoura suka sekali dengan kosmologi dan merekalah yang membagi dunia ini berdasarkan beberapa klasifikasi.

Secara umum masyarakat di dunia membagi ras dalam 4 garis besar, Manusia, Animus, Ogre, dan Dragon. Namun masyarakat Amoura membagi dunia dalam 5 garis besar, Humanoid, Ogre, Dragon, Animalia dan Persona.

"Persona" dalam mitologi daerah lain tetap ada, namun mereka mengkelaskan Persona ke dalam klasifikasi spiritual, berbeda dengan dunia Kosmos, manusia, Animus, Ogre dan Dragon yang dikategorikan sebagai kelas material. Bagi daerah lain tersebut, kelas spiritual ini sejajar dengan Aether, Force-Aether, emosi, dunia Astral, dan arus jiwa-jiwa.

===========================

Mitologi Adamos berkisah tentang mitologi-mitologi menurut masyarakat Amoura. Saya baru sempat mengerjakan satu cerpen dari mitologi Adamos, yakni kisah tentang Sodia dan Oqeanos.

Saya sangat puas dengan kisah Sodia dan Oqeanos. Menurut pendapat saya pribadi, cerpen dengan words berjumlah tidak sampai 2500 kata ini memuat banyak hal dan filosofi, sehingga cerita ini terkesan singkat, namun juga padat akan pesan dan filosofi. Saya tidak sabar menanti para pembaca untuk memetik sendiri apa saja yang hendak saya sampaikan dalam kisah Sodia dan Oqeanos.

Rencananya, Mitologi Adamos ini akan saya seriusi dan paling tidak harus membicarakan bagaimana dunia tercipta menurut masyarakat Amoura, serta kemudian kisah tentang langit, bumi, laut, api, dan bagaimana manusia tercipta, menurut masyarakat Amoura.

========================
Amoura memegang peranan cukup penting dalam kisah Riwayat Forgo (Chronicles of Forgo, sekitar 300-600 GD). Dalam perjalanannya menemukan Haven, Forgo dan Galeno akan singgah di Amoura dan bertukar pikiran dengan masyarakat di sana yang cukup ribet dan suka berdebat kusir dan berfilosofi.

Friday, September 30, 2011

John Legend - Ordinary People

Girl, I'm in love with you
But this ain't the honeymoon
We've passed the infatuation phase
We're right in the thick of love
At times we get sick of love
It seems like we argue every day

I know I misbehaved
And you made your mistakes
And we've both still got room left to grow
And though love sometimes hurts
I still put you first
And we'll make this thing work
But I think we should take it slow

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cause we're ordinary people
Maybe we should take it slow

Take it slow, oh oh, this time we'll take it slow
Take it slow, oh oh, this time we'll take it slow

This ain't a movie, no
No fairytale conclusion y'all
It gets more confusing every day
Sometimes it's Heaven sent
Then we head back to Hell again
We kiss, then we make up on the way

I hang up, you call
We rise and we fall
And we feel like just walking away
As our love advances
We take second chances
Though it's not a fantasy
I still want you to stay

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cause we're ordinary people
Maybe we should take it slow

Take it slow, oh oh, this time we'll take it slow
Take it slow, oh oh, this time we'll take it slow
Take it slow

Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay
Maybe you''ll leave
Maybe you'll return
Maybe another fight
Maybe we won't survive
Maybe we'll grow
We'll never know
Baby, you and I

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cause we're ordinary people
Maybe we should take it slow, hey

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cause we're ordinary people
Maybe we should take it slow

Monday, September 19, 2011

Folktale : The Story Behind The Writings (4)

Selain tema tentang balas dendam, satu hal yang semakin kentara dari kisah Folktale ini adalah : Romantisme.

Romantisme memang salah satu daya yang memikat saya untuk menulis cerita ini. Entah mengapa pasangan yang terjodohkan melalui intuisi semata ini membuat saya tersenyum dan tertawa sendiri saat mengetik kisah mereka dan membaca ulang beberapa kali. Tidak ada rasa aneh yang agak abnormal seperti ketika saya menuliskan pairing Zuko-Katara atau Zoro-Nami.

Pertama saat menuliskan masa kecil mereka, saya putuskan bahwa chapter awal ini kelak akan sering muncul di chapter-chapter belakang, terutama ketika Permaisuri Zhang dipisahkan dengan Guan Suo dan harus menggunakan topengnya dimana ia sebagai permaisuri yang sangat mencintai suaminya. Maka dari itu, kisah masa kecil ini harus tertulis sangat manis dan membuat tersenyum. Saya berusaha menuliskan kisah anak-anak dengan kenakalan dan ledekan-ledekan khas mereka. Tentang bagian dimana Guan Suo memamerkan gigi ompongnya itu, saya tidak tahu dapat dari mana, saya sendiri waktu kecil tidak suka memamerkan gigi ompong saya atau mengenal seorang pun yang seperti itu. Tapi saya tahu bila hal ini dituangkan, akan menjadi sangat menyebalkan sekaligus lucu.

Pada perkembangannya, mereka hidup terpisah, perasaan Guan Suo tetap sama. Ketika ia mendapatkan istri cantik yang didapat dengan menaikkan gengsinya pun, perasaan Guan Suo pada Xing Cai tidak berubah. Saya gambarkan sebaik yang saya bisa pada chapter 5 mengenai kegalauan hati Guan Suo yang tidak bisa lepas dari pesona Xing Cai yang menurutnya tidak lebih cantik daripada Bao Sanniang. Maka kesimpulannya rasa tertarik ini bukanlah berasal dari ketertarikan fisik. Pada usia yang sama, mengenai perubahan perasaan Xing Cai terhadap Guan Ping yang beralih ke Guan Suo akan dijelaskan pada chapter 10.

Pada dasarnya ini adalah sebuah kisah cinta tentang seorang lelaki yang hanya mencintai satu wanita saja seumur hidup, dan ternyata cintanya berhasil berbekas di hati wanita itu yang membalasnya. Seharusnya simpel dan sederhana, hingga hidup serba kekuranganpun terasa lebih bahagia daripada hidup bergelimang harta. Namun sayangnya percintaan mereka menjadi rumit ketika dicampur adukkan dengan takhayul dan politik. Mereka pun bingung menentukan siapa yang mereka khianati, kekasih mereka atau pasangan mereka?

Hingga terakhir cerita, saya berikan sedikit hint bahwa cerita ini jelas akan berakhir tragis bagi kedua belah pihak, sama seperti sebagian besar cerita-cerita rakyat China yang berbasis cinta. Entah mengapa sepertinya orang pada zaman dahulu begitu suka dengan kisah cinta yang berakhir tragis atau kisah cinta "Star Crossed Lover" yang melawan takdir.

Dalam membangun kisah percintaan mereka berdua, saya sedikit banyak terinspirasi dari lagu-lagu barat dengan lirik romantis seperti misalnya :
  • Ewan McGregor ft Nichole Kidman - Come What May
  • Alicia Keys - If I ain't Got You
  • Bruno Mars - Talking to The Moon (Jason Chan cover)
  • Jim Brickman - My Valentine
Dan pada Chapter 22, saya begitu terinspirasi dari alunan musik dari lagu Bruno Mars ft Natasha Bedingfield - Again. Mengabaikan keseluruhan liriknya, ada beberapa bagian lirik yang terasa pas, dan terutama irama lagunya begitu pas dengan suasana pada chapter itu.

Kalau boleh jujur, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis sendiri ketika menulis adegan pada chapter 19 dan bagian awal chapter 21. Sekalipun ketika membaca ulang, emosi menulis itu sudah hilang. Tapi semoga bagian tersebut cukup menyentuh, karena di sanalah greget dari cerita ini.

to be continued ...

Folktale : The Story Behind The Writings (3)

Mari berbicara mengenai karakteristik tokoh-tokoh dalam cerita Folktale.

Xing Cai ini saya karang sebagai Phoenix Hitam yang mana menimbulkan kesialan bagi pemberi hidupnya (mengingat Phoenix biasanya dihubung-hubungkan dengan kehidupan). Untuk itu dalam character buildingnya, saya tetapkan bahwa gadis ini akan hidup ditakuti ibunya sendiri. Saya bayangkan pasti berat hidup seperti itu, maka masa kecil Xing Cai saya gambarkan sebagai gadis melankolis yang agak kikuk dan mudah dikerjai orang. Saya harap pada perkembangannya dimana ia berubah menjadi Permaisuri Zhang, tidak dinilai OOC. Pada dasarnya, ulat itu memang berubah menjadi kupu-kupu.

Sementara Liu Shan adalah si Naga Hitam yang menimbulkan kesialan bagi rumahnya. (mengingat naga adalah simbol kemakmuran). "Rumah" itu bisa menjadi beragam arti, dan rumah di sini berarti adalah negara. Pada cerpen Folktale : Emperor's Broken Heart, saya gambarkan Liu Shan tidak bodoh, hanya mengalami kelainan berpikir, terungkap dari ucapan Guan Suo ketika ditanyai pendapatnya mengenai strategi Liu Shan dalam mengalahkan Cao Cao; "Kaisar sangat cerdas, hamba yang bodoh ini sampai tidak mengerti kemana anda berpikir."
Liu Shan di sini kembali seperti based on DW7, dimana wajahnya tampak seperti Buddha tersenyum. Dari senyum itu saya putuskan bahwa Liu Shan adalah seorang lelaki dengan pikiran sederhana yang hanya ingin kehidupan sederhana, tidak peka terhadap circumstance (situasi) dan selalu berpositif thinking. Karena itu ia agak malas dan otaknya tidak kuat untuk mengurus kepentingan negara. Maka dari itu ia sangat mengandalkan Xing Cai dalam mengurus administrasi, masalah, perkembangan negara dan petisi-petisi rakyat yang pasti tidak sedikit jumlahnya.

Sedangkan Guan Suo, ... saya yakin deskripsi hidupnya sudah tergambar jelas di dalam cerita. Saya menggambarkan dia penuh dengan luka parut, akibat dari perang pertamanya yang dalam usia yang mana dianggap masih terlalu muda, 17 tahun, ia bertempur dalam pertempuran sulit dimana pasukan terdesak dan dikeroyok oleh 2 kekuatan besar, Wei dan Wu, dikhianati dan terjebak dalam kebingungan dan pertaruhan harga diri. Pastilah perang itu sangat berat bagi Guan Suo sehingga wajar bila memberikannya oleh-oleh beberapa luka parut di wajah. Rambutnya yang pendek saya dedikasikan untuk foto Guan Suo pada game ROTKX yang membuat saya tertarik dengan karisma aneh ini. Dan karena Guan Suo ini suka berjalan-jalan melalui desa-desa kecil dan terisolasi, maka saya bayangkan ia berpakaian seenaknya sehingga pada Chapter 10, Ma Dai mengiranya sebagai gembel yang mencurigakan dan menahannya, mempertemukannya dengan Zhuge Liang untuk pertama kalinya.

Guan Yu di sini saya gambarkan sebagai ayah yang tegas dan sangar tanpa selera humor. Ia berusaha sebaiknya menjadi ayah, tanpa sifat melankolis yang saya temui di film The Lost Bladesman, berusaha menyerap dan mengimplementasikan sebaik yang saya bisa dari yang saya serap mengenai kepribadiannya selama membaca novel Sam Kok. Guan Yu cukup senang dengan filosofi dan suka mengintimidasi orang-orang yang tidak disukainya atau diremehkannya. Walau begitu, ia paham betul apa itu kehormatan. Walau peristiwa akhir hidupnya membuat saya mulai merasa bahwa ia sedikit gegabah seperti yang dideskripsikan KOEI mengenai Guan Suo di ROTKXI.

Guan Ping di sini adalah semacam "guardian angel" bagi Guan Suo. Hal ini saya traits kan berdasarkan apa yang pernah saya baca mengenai relasi Guan Suo dengan Guan Ping yang cukup menakjubkan.
1. Guan Ping = Guan Suo itu sendiri. Ia diselamatkan dari perang akhir, Zhou Chang yang tewas bersama Guan Yu. Guan Suo adalah nama alias Guan Ping.
2. ada sebuah versi menyatakan bahwa ibu Guan Xing adalah wanita yang diberikan Liu Bei pada Guan Yu, namun ibu Guan Ping dan Guan Suo adalah sama; Hu Jinting.

Guan Xing. Versi novel dan sejarah yang saya baca begitu berbeda, dan saya berusaha untuk menggabungkan keduanya, dimana Guan Xing si anak periang yang serba bahagia semasa kecilnya, tidak ikut serta pada perang di Fancheng (hal ini juga sedikit banyak membuat saya sangsi bahwa Guan Xing lebih tua dari Guan Suo yang disebut2 ikut serta dalam pertempuran itu). Pewaris Blue Dragon setelah membunuh Pan Zhang, di sini saya gambarkan karena ia sakit-sakitan, Zhuge Liang enggan membawanya dalam pertempuran jarak jauh. Bila saya menjadi Guan Xing, sudah pasti saya akan merasa tersinggung. Maka dari itu saya gambarkan hubungan antara Guan Xing dan Guan Suo agak meretak pada bagian akhir cerita.

Pendeta Tao saya ciptakan sebagai sahabat Guan Suo. Aslinya karakter ini pun disebut-sebut dalam Legend of Hua Guan Suo. Hanya saja perannya di sana adalah sebagai guru Suo Tong yang kemudian memberitahukan padanya bahwa ia adalah anak jendral Guan Yu. Sejak itu Suo Tong mengganti namanya menjadi Guan Suo. Kalau tidak salah, aslinya Pendeta Tao ini berasal dari marga "Suo". Dan darisanalah Guan Suo mendapatkan nama "given" nya.

Ma Dai adalah salah satu tokoh yang membuat saya tertarik, sama seperti Guan Suo dan Xiahou Ba. Hanya mungkin karena kisahnya sudah jelas, jadi saya tidak memiliki hasrat menggebu untuk melacaknya segila Guan Suo. Ma Dai saya gambarkan sebagai Ma Chao kecil, dimana ia begitu berdedikasi dan anak buah kesayangan Zhuge Liang. Saya tambahkan Ma Dai memiliki insting yang sangat baik dalam bersosialisasi. Ia juga orang yang cukup tegas dan tidak ragu dalam membedakan tugas dan persahabatan.

Mengenai Zhuge Liang, sepertinya tidak terlalu banyak perubahan dari Zhuge Liang yang saya baca di novelnya. Atau setidaknya Zhuge Liang yang ada dalam benak saya. Sewaktu muda Zhuge Liang masih memiliki ketenangannya. Namun semenjak kematian Kaisar Liu Bei, ia mulai disibukkan dengan urusan negara. Dan saya sadari bahwa ia berkepribadian agak tertutup dan tidak mudah percaya pada oranglain, tidak terlalu pintar melihat orang berbakat. Zhuge Liang semakin emosional di ujung usianya.

Bao Shanniang saya gambarkan sebagai gadis emosional, pemarah, pencemburu dan cerewet. Ia juga pandai berkelahi, banyak ahli kungfu yang menantangnya namun tidak ada yang berhasil menakhlukkannya. Namun tentunya saya tidak akan lupa mengutip surat tantangan Guan Suo yang membuat Bao Shanniang tersinggung bukan main sehingga tanpa pikir panjang segera menyambar senjatanya dan kudanya untuk menyambut tantangan duel Guan Suo.

"Ever since our acestors spoke of Taihang,
I've never heard about Bao Sanniang."

Sebuah surat tantangan yang begitu pragmatik sekaligus tajam dan menyinggung. Membuat saya berpikir bahwa Guan Suo pastilah memiliki selera humor getir dan tahu betul bagaimana cara meledek seseorang.

Zhao Zilong hanya muncul sedikit dalam cerita ini, namun ia memiliki bagian yang sangat penting. Dan menurut saya bagian ini sebaiknya memang diisi oleh Zhao Zilong, bukannya Wei Yan atas beberapa pertimbangan. Sesuai dengan tanggapan saya mengenai beliau seperti yang tersirat di novelnya, Zhao Zilong saya gambarkan berdedikasi pada tugasnya, serius dan sangat memikirkan kehormatan tuannya, Liu Bei.

Hua Man adalah karakter minor yang muncul sebagai "gadis amazon". Tentunya agak ooc bila saya menyebutnya "Gadis Amazon", mengingat ini ada di China, bukan Amerika. Namun mengawinkan Meng Huo dan Zhu Rong dalam pikiran saya memang melahirkan anak perempuan yang kira-kira seperti itu. Ia memiliki kode etik seperti Xing Cai dalam pertempuran, namun memiliki emosi cenderung kalem yang kontras dengan Bao Sanniang. Ia lebih dewasa dibanding Xing Cai yang masih bisa membiarkan diri terhanyut dalam pergolakan emosinya.

Chen Shou, sangat misterius. Di masa damai, namanya tidak pernah terdengar sebagai seorang penting seperti Zhang Shao. Seakan ia muncul entah darimana yang kemudian diangkat oleh Sima Yan sebagai penulis catatan perang tiga negara. Beberapa ahli sejarah menyimpulkan secara deduksi bahwa Chen Shou adalah putera dari Chen Shi. Namun pernyataan ini juga tidak memiliki bukti yang mendukung atau bisa dipercaya.
Chen Shou adalah orang cerdas dan teliti, berhati-hati dalam menuliskan sejarah record of Three Kingdoms. Orang ini penuh pertimbangan sehingga tidak ada yang tahu kenapa ia memutuskan untuk tidak menyinggung beberapa nama, termasuk diantaranya Guan Suo yang bahkan membunuh beberapa orang penting dalam sejarah (di cerita ini). Tapi, kenapa ia memutuskan untuk menghilangkan tokoh Guan Suo dari sejarah dan tidak menyinggungnya sama sekali? Bisa dibilang tokoh inilah yang bertanggung jawab atas judul kisah ini.

to be continued...

Folktale : The Story Behind The Writings (2)

Seperti yang sudah saya sebutkan dalam perkenalan Folktale yang telah saya upload di Fanfiction.net (versi asli non sensor untuk adegan panas) dan wattpad.com (versi sensor), Folktale akhirnya saya publish sebagai bentuk tribute pada kisah Guan Suo yang selama ini selalu membuat saya penasaran sekaligus terinspirasi.

Cerita ini tidak bermaksud untuk saya jadikan cerita orisinal dan dikirim ke penerbit (modal nekat), namun saya tulis secara serius (dan saya benar-benar kewalahan menuliskan lokasi-lokasi yang bersangkutan, terutama tempat kelahiran Guan Suo). Sebelum saya menyelesaikan novel original saya, The Seer, yang sedikit banyak dasar inspirasinya juga berhubungan dengan riset ini.

Anggap saja cerita ini semacam tumpeng syukuran sebelum saya memulai langkah pertama saya untuk menjadi pencerita yang sesungguhnya (menerbitkan buku, ceritaku dibaca dan disukai, syukur2 ceritaku bisa menginspirasi dan menyentuh hati pembaca sehingga mereka pun terinspirasi).

Saya sangat menikmati menulis cerita Folktale, bisa dibilang cerita ini adalah pakem dari cikal bakal cerita-cerita yang kelak akan saya tulis dan publikasi.

Saya sempat kesulitan mencari tahu siapa saja yang bertanggung jawab atas kekalahan Guan Yu di Fancheng sehingga mengakibatkan kematiannya dengan putra angkatnya yang tragis sekaligus mengharukan.

Sempat salah orang antara Fu Shi Ren dengan Fa Zheng.
Sempat lupa dengan Mi Fang, Liu Feng dan Meng Da.
Bilapun saya tidak memainkan ROTKXI di PC, saya tidak akan ingat dengan Pan Zhang dan Ma Zhong. Maka saya putuskan untuk riset ulang dan mencatat siapa-siapa yang kiranya menjadi target bagi Guan Suo.
Adapun target aslinya adalah seputar Lu Xun, Xu Huang dan terutama Lu Meng.

Saya semakin girang ketika mengetahui bahwa menurut catatan aslinya, Lu Meng meninggal karena sakit misterius yang tidak bisa disembuhkan sekalipun Sun Quan telah menyebar sayembara. Dan saya mencium novel ini begitu membaca bahwa Lu Meng tewas karena arwah Guan Yu. Terpikir oleh saya untuk menggabungkan keduanya dan menghubungkannya dengan jalan hidup Guan Suo. Apalagi tampaknya plot ini sudah direstui di cerita Legend of Hua Guan Suo.

Tentang kematian Ma Zhong yang dikhianati oleh Mi Fang di novelnya, saya memiliki pendapat lain. Akan lebih terhormat bagi Ma Zhong bila ia juga tewas di medan perang, bukan? Kebetulan plot Yi Ling masih terlalu datar dengan hanya adegan Xing Cai membunuh Ding Feng.

Selanjutnya, saya ingat betul apa yang terjadi sewaktu Guan Xing mendapatkan kembali senjata ayahnya. Sementara bandingannya dengan sejarah aslinya, Guan Xing ini bukan panglima yang cukup penting tampaknya. Saya lihat jabatannya hanya semacam inspektur, tidak sehebat yang di novel. Barangkali Pan Zhang memang melihat arwah Guan Yu, barangkali yang ia lihat hanya halusinasi atas sesuatu hal?

Untuk bagian Mi Fang, saya sampai kelupaan pada orang ini. Akhirnya saya sempatkan diri untuk membandingkan kisah historisnya dengan kisah novelnya. Ternyata baik di novel maupun di catatan historisnya, sama-sama hidup menanggung malu. Di novel, Mi Fang kembali mengkhianati Sun Quan setelah mengkhianati Liu Bei, kemudian dipenggal Guan Xing. Sementara di sejarah aslinya, ia hidup disindiri oleh Yu Fan sebagai pecundang berhubungan dengan kematian Guan Yu. Dan setelah membantu He Qi menumpas pemberontakan di Qichun pada tahun sekitar 225-227, tertulis bahwa setelah peristiwa heroik itu, Mi Fang tidak terdengar lagi. Akal kreatif saya pun mulai bereaksi.

Terakhir bagian Lu Xun ... bagian ini adalah bagian favorit saya. Maka dari itu sekalipun saya adalah pecinta spoiler, saya tidak mau menspoilkan bagian ini. Yang pasti, adegan ini sudah berkali-kali pop-up dalam benak saya sejak saya menulis di chapter 10. Dan saya butuh bersemedi sampai beberapa hari lamanya hingga akhirnya membentuk writer's block cukup lama. Sebelum menemukan jalan keluar bagaimana cara menghubung-hubungkan plotnya yang saya rasa agak tricky dan berpotensi untuk berantakan bila tidak hati-hati atau terburu-buru menuliskannya, saya putuskan untuk mengikuti slogan A-Mild : "Just Go A-head". Voila! Jari saya mengetik seperti air terjun dan saya sangat puas dengan hasilnya, chapter 18 ini saya baca berulang kali dan tidak bosan-bosan juga.

Bagian target terakhir, saya rencanakan Xu Huang mati juga, tapi hingga sekarang belum saya tulis apapun mengenai ini di naskah asli, jadi belum berani menuliskan apapun di sini.

to be continued...

Folktale : The Story Behind The Writings (1)

Cukup sulit dan riskan menulis historical fiction, apalagi berdasarkan cerita populer, San Guo, alias Romance of The Three Kingdoms.

Sudah sejak saya mengenal Guan Suo dari game ROTKX, dan memperhatikan Xing Cai dari game DW5, saya sadari bahwa dua orang ini seharusnya bertemu dan setidaknya bersahabat.

Ya, saya dulu yakin bahwa Guan Suo benar-benar ada. Barangkali nama "Suo" sangat menarik perhatian saya, atau mungkin karena picture nya yang menampilkan pemuda gagah dengan rambut berantakan, figur warrior China yang unik diantara para warrior lain yang menggunakan ketopong atau kopiah. Dibandingkan dengan statusnya pun saya lebih suka menggunakan Guan Suo daripada Guan Xing. Guan Ping lumayan juga, tapi dia meninggal terlalu cepat. Dan entah kenapa rasanya tokoh ini --sama seperti Guan Yu-- sangat menarik secara mistik. Saya akui di serial San Guo ini, ada beberapa tokoh yang "berkarisma" dan Guan Suo adalah yang paling menarik.

Ternyata setelah saya selidiki, orang ini ternyata entah menjadi tema atau kisah yang cukup populer di Yunnan, tempat Zhuge Liang melaksanakan kampanye selatannya. Setiap awal tahun baru, diadakan opera Guan Suo. Saya yakin ini bukan nama tapi judul yang memiliki sejarah sendiri, saya ingin tahu darimana mereka menamai opera ini "Guan Suo".

Kemudian tentang Empress Zhang, saya cukup terpikat dengan "karisma" nya, barangkali karena dia satu-satunya karakter perempuan yang benar-benar pas banget di tempatkan di Dynasty Warriors (kalau seperti Diao Chan, Qiao sisters, Zhen Ji, itu kan maksa banget, mereka ga punya purpose untuk berantem gitu). And might be because she fights like a dude! Karakter ini dengan cepat menarik perhatian saya dan sama seperti Guan Suo, mendorong saya untuk mencari tahu lebih banyak mengenai dia.

Setelah dicari-cari, saya baru menemukan kisah tentang dia pada ulasan minor sekali tentang Empress Zhang the first. Sumpah, andai di sana tidak tertulis bahwa arti nama jabatannya (Jing'ai) adalah "permaisuri terhormat dan disesalkan", kemudian fakta bahwa ia meninggal di usia 30 tahun pada tahun 237 tanpa melahirkan seorang anakpun bagi Liu Shan, imajinasi saya tidak akan meliar lantas menjodohkannya dengan Guan Suo secara intuitif.

Ya, pairing ini saya ciptakan berdasarkan intuisi.
Sama seperti saat saya mempairingkan Diao Chan dengan Guan Yu paska kematian Lu Bu yang belakangan ini saya ketahui bahwa ternyata versi Jepangnya pun seperti itu. (still, cmiiw)

Berbeda dengan saat saya membuat karakter berdasarkan pairing Zuko-Katara atau Zoro-Nami yang saya pairingkan berdasarkan sense dan perhitungan logis, pairing ini mendorong saya untuk selalu menciptakan kisah cinta "orang desa" (cinta sederhana yang harusnya tidak banyak drama) yang diperumit oleh orang-orang di sekitar mereka yang tidak menginginkan mereka bersama dikarenakan Liu Shan jatuh cinta pada Empress Zhang the first.

Terlebih saat saya mendapati bahwa Guan Suo dipertanyakan dalam segala aspek mulai dari eksistensi hingga gendernya sering di sangkut pautkan dengan (kemungkinan) saudara perempuannya, Guan Yinping. Saya sempat mentertawakan secara getir tentang nasib Guan Suo yang begitu apes ini, orang ini pasti sangat tidak dianggap pada zamannya, begitu pikir saya sebelum saya tahu bahwa "Guan Suo" ternyata juga sebuah nick name yang sempat populer pada zaman Dinasti Ming.

Bertentangan dengan keadaan Liu Shan yang serba dimanja. Dalam usia muda sudah menjadi kaisar, tidak perlu kerja berat, sudah ada Zhuge Liang yang mengurus segalanya, di akhir hidup, sementara anak buahnya satu persatu mati, Liu Shan cukup menyerah begitu saja, kemudan di bawa ke negara Jin untuk menjadi teman minum Sima Yan dan mengatakan bahwa ia lebih senang ada di Jin dan sama sekali tidak memikirkan Shu.

Sungguh menggelitik untuk saya bahwa seorang Permaisuri Zhang yang dihormati dan disesalkan ini berada di antara dua orang pria yang saling berlawanan takdir dan kehidupannya. Liu Shan seorang pemimpin yang simpel dan manja, Guan Suo seorang pengelana yang tak terkalahkan dalam duel dan dipuja banyak wanita.

Triangle-love relationship ini menurut saya begitu unik dan berpotensi menjadi sangat dramatis bila dikembangkan.

Namun karena fokus saya adalah untuk mengungkap rasa protes saya terhadap beberapa fans Three Kingdoms yang hanya mengetahui Sam Kok dari Dynasty Warriors saja, lantas seenak perut menunjuk ini seperti ini, itu seperti itu, orang ini asli, orang itu palsu, saya tergerak untuk menyampaikan sebuah kisah tentang seseorang yang (sangat saya yakini memang pernah hidup) ditolak sejarah, namun hidup di dalam cerita rakyat. Ditolak negara, namun dicintai rakyat. Sounds so Robin Hood.

Saya mulai menulis cerita ini sejak awal saya tertarik dengan Guan Suo, barangkali sejak saya SMA, dan itu berarti sekitar tahun 2003.

Awalnya cerita yang saya buat adalah cerita orisinal yang nama-nama dan dunianya saya fantasikan. Berkisah tentang seorang permaisuri yang memiliki affair dengan teman kecilnya yang berambut merah.

Kerajaan mereka akan diserang semua kerajaan di sekitarnya karena memiliki tanah paling subur. Kaisar yang bersangkutan memiliki 10 anak, namun tidak ada satupun putra yang lahir baginya. Maka ia berpuasa dan berdoa dengan sungguh-sungguh untuk memohon satu putera. Dewa mendengarkan doanya dan lahirlah baginya seorang putra yang mengalami cacat mental, down syndrome. Karena itulah sebelum meninggal, Kaisar bermimpi mendapat wangsit dari leluhurnya yang telah menentukan jodoh bagi puteranya. Gadis yang sangat berintegritas ini ada di sebuah desa terpencil dan dia adalah yang terpilih untuk menyelamatkan negara ini dari serbuan negara2 tetangganya.

Gadis ini di desa sudah memiliki tunangan sendiri, tunangannya dibunuh dan gadis ini diambil pemerintah untuk menikah dengan kaisar baru yang mengalami cacat mental. Rupanya si tunangan masih hidup dan menyusulnya untuk kawin lari. Namun gadis ini tidak mau karena ia sudah berjanji terhadap negara. Karena marah, tunangannya memperkosa dia dan lahirlah seorang putera yang dikira anak kaisar. Bayi ini yang akhirnya menjadi pemimpin untuk membawa negara memenangkan perang berkepanjangan.

Namun entah mengapa cerita itu menghilang dari Harddisk dan saya juga enggan memulai lagi.

Saya kemudian membuat cerita lain tentang beberapa orang pemuda bersaudara yatim piatu namun bersaudara sepupu. Mereka dibimbing oleh kakak tertua mereka yang saya lupa namanya (based on Guan Ping), dari pemuda yang hanya tau bersenang-senang, menjadi pahlawan negara.
Cerita ini lebih ringan dan ada unsur fun nya.
Tokoh utamanya adalah Soh (based on Guan Suo) yang hobi makan dan sedikit sial, ia sering bertengkar dengan Niwa (based on Xing Cai) yang serius, berdedikasi dan gemar menyindir Soh. Lalu ada Dica (based on Zhang Bao) yang over protektif terhadap adiknya, Niwa. Beberapa nama sudah saya lupakan, untung masih ada yang saya ingat, diantaranya Bari (based on Xiahou Ba) sebagai salah seorang sepupu Soh yang memiliki tenaga sangat kuat dan kemampuan silat yang sangat hebat, Letty (based on Ma Dai), Cain (based on Cao Zhang), Raduf (based on Guan Xing), sisanya benar-benar lupa.

Namun cerita ini tidak berkembang dan hanya menjadi latihan membentuk karakteristik karakter saja.

Pada perkembangannya cerita itu berkembang menjadi kisah yang sekarang saya beri judul Legend of Yu Guo. Beberapa nama masih bertahan, hanya saja "Soh" rupanya telah berubah menjadi "LanDo".

Selain itu, pada pencarian riset berikutnya telah membuat saya selalu memimpikan tentang seorang putri yang selalu memandang keluar jendela kamarnya, dengan hampa menanti kepulangan sang kekasih gelap yang sedang berperang di seberang jendelanya. Ketika mendengar sang kekasih sudah mati di sana dan tidak kembali dari medan perang, putri ini menitikkan air mata dan saat air mata itu jatuh ke lantai, seluruh kerajaan pun membeku dalam keabadian. 1000 tahun tenggelam di bawah tanah, kerajaan itu ditemukan seorang arkeolog yang sedang berkelana dengan seorang gadis. Rupanya mereka reinkarnasi dari putri dan pahlawan itu.

Riset ini pun membuat saya takjub dengan fenomena betapa mengagumkannya perkembangan cerita rakyat dari mulut ke mulut ini. Berubah-ubah, berkembang, menciptakan legenda nyaris berbau fantasi yang barangkali kisahnya sudah menjadi sangat berbeda dengan kisah aslinya.

Akhir kata untuk part 1 ini, saya hanya ingin berterima kasih banyak pada intuisi saya yang membimbing saya mencetuskan beragam ide dari kisah cinta segitiga Guan Suo-Empress Zhang-Liu Shan, dan dari kisah hidup Guan Suo yang masih ambigu hingga sekarang.

to be continued...

Friday, September 9, 2011

Review : Icylandar

The Elf's Kingdom (Icylandar, #1)The Elf's Kingdom by Dionvy

My rating: 2 of 5 stars


Awalnya saya terkesan dengan narasinya yang ringan, santai dan mengalir. Terutama bagian-bagian awal cerita dimana plot masih sekitar kehidupan sehari-hari dan belum masuk benar dalam plot utama. Membacanya seperti membaca Old Man and The Sea, tidak bisa berhenti bila tidak sadar berapa halaman sudah dibalikkan.



Namun semakin ke belakang saya merasa semakin kecewa karena beberapa hal. Sekalipun begitu, saya tidak akan menyampahkan karya ini, karena saya yakin setiap karya diciptakan dengan cinta oleh penciptanya, dan sudah selayaknya dihargai, seburuk apapun kesan yang didapat saat menikmati karya itu.



----------------------------

Harap diingat bahwa review ini adalah pandangan pribadi saya berdasarkan insting dan intuisi saya selama berusaha menghargai novel fantasi yang saya bilang cukup laris ini.

----------------------------



menurut hemat saya, alangkah baiknya si penulis menulis cerpen2 pendek yang sederhana berdasarkan kehidupan karakter2 Icylandar dalam bentuk dongeng anak2 sebelum tidur. Kalau penulis tidak mau, maka ia harus mulai memberanikan diri untuk memberikan nasib tragis yang sejati pada karakter2nya dan mengurangi judgement berupa simpati untuk menggantinya dengan judgement berupa ratio (beralasan).



Saya yakin kalau cerita ini dijadikan dongeng untuk anak2, maka 15 tahun kemudian, anak2 yang waktu kecil didongengi Icylandar bakal terkesan terus hingga dewasa dan cerita ini bisa menjadi cerita klasik Indonesia pada masanya.



Tapi bila penulis ingin menargetkan untuk pembaca yang lebih tua lagi, maka sekali lagi, ia harus bisa tega menulis plot "tega", belajar puisi (untuk membuat narasi yang lebih puitis dan indah), lebih banyak memahami ratio.



----------------------------

kelebihan cerita ini adalah :

1. narasi, andai Dionvy mau memperindah kalimat2nya, buku ini akan saya bintangi empat tanpa tawar lagi

2. mini game sederhana yang fun

3. kejadian2 sehari2 yang sederhana dan menyenangkan

4. konsep Jaroz



kekurangan cerita ini adalah :

1. Riset yang miskin

2. Irrasional; tokoh2nya selalu menggunakan insting, perasaan dan keyakinan dalam menilai orang lain. karakter2nya cenderung kritis, namun tidak ada yang saya lihat cukup rasional. (saya duga, karakter2 ini sengaja dibuat bertanya kritis untuk menampol pertanyaan2 para kritikus fantasi indo yang akan mempertanyakan hal2 ybs)

3. karakteristik yang monoton

4. penciptaan games2 yang butuh berpikir dan rumit

5. plot tragis

6. kedalaman background karakter

7. Romance Idealisme (Knight's Honor)

8. Lady Tatiana



yang tidak akan saya komentari atau permasalahkan adalah :

1. nama2 karakter dan kota

2. joici



yang membuat saya memberikan rating 2 adalah :

karena novel ini telah mengajarkan saya bagaimana cara menulis narasi yang mengalir. padahal sesungguhnya ingin saya beri nilai 1 karena sindrom "semua makhluk dalam cerita ini adalah wanita" semakin mendekati halaman akhir, semakin mengganggu saya, bahkan membuat saya menggeleng2kan kepala.



*review ini jujur dari saya, bila ada yang keberatan, feel free to protest. as they always said; ga ada review yang objektif, semua cenderung subjektif.

==================



sekian review saya, maaf bila ada kata2 yang terkesan sotoy, saya terima kalau dilempari tomat atau telur busuk, yang pasti saya tidak munafik dengan review ini.



View all my reviews

Sunday, August 28, 2011

Quest of Romance

Akhirnya saya memutuskan untuk membuat blog baru sebagai storage untuk melatih menulis cerita-cerita fantasi yang variatif.

Saya akan memanfaatkan blog itu untuk melatih
- Narative hook
- konsisten karakteristik
- variasi karakteristik
- biografi karakter
- menemukan apa itu romance

Karena saya sendiri bosan dengan tulisan-tulisan saya dan menginginkan hal baru. Barangkali bila saya terus menulis dan menulis, saya bisa menemukan hal baru.

Saya tidak menganjurkan untuk melihat, bahkan cerita-ceritanya pun tidak saya beri tag. Tapi bila ingin melihat dan memberikan instruksi atau membantu perkembangan kepenulisan saya, anda boleh mengunjungi blog saya, Quest of Romance

Friday, August 19, 2011

Term Change : Cosmos & Ashura

Setelah sekian lama menggunakan term "Ashura" untuk menyebut dunia nyata, saya akhirnya menggantinya dengan kata yang lebih tepat; "Cosmos".

Tentu saja pergantian nama ini telah mengalami berbagai riset pribadi dan mendengarkan background dari kata "Sophia" dan "Logos". Tadinya sempat akan mengganti "Ashura" dengan "Sophia" yang berarti "Hikmat", "Kebijaksanaan" yang lebih bersifat duniawi. Sementara pasangannya, "Astral" akan diganti menjadi "Logos" yang berarti selain "Ilmu" adalah juga "Firman" atau "Sabdha".

Tapi pertimbangan mengenai tetapnya penggunaan nama "Astral" adalah dikarenakan "Aether" yang sudah saya gunakan sebagai sumber energi dalam realm ini. Lantas apa hubungannya antara "Logos" dengan "Aether" ?

"Aether" dalam filsafat Hindu kuno berarti energi murni, yang juga adalah element ke lima yang disebut juga sebagai "Quintessence". Dalam filsafat Hindu kuno, "Aether" dikatakan memiliki wujud berupa "Sabdha" atau "Suara". Setelah saya pikir-pikir kembali, suara adalah gelombang yang terasa keberadaannya bila dapat merambat. Gelombang merambat melalui udara.

Barangkali ada yang pernah mendengar tentang "Brainwave" Technology?

Kurasa itulah wujud yang paling mendekati "Aether" di masa sekarang adalah dalam bentuk "Brainwave". "Brainwave" adalah sarana meditasi yang dapat me"reboot" alam bawah sadar manusia sehingga menjadi lebih baik (bila anda mendengarkan wave yang baik).

Anda tidak percaya? Sayangnya anda harus percaya bahwa gelombang ternyata adalah elemen terkuat di dunia ini.

Bukti? Barangkali suatu saat saya akan mencoba untuk mengangkat apa yang saya ketahui tentang musik bernama Karlmeyer, atau mungkin juga gelombang Brainwave berjudul God of Hades.

Kembali tentang hubungan "Aether" dan "Logos".
Setelah mengerti korelasi antara "Aether" dengan gelombang, dan gelombang dengan suara, lalu suara dengan "Sabdha", kemudian "Sabdha" dengan "Firman", maka secara logika deduksi, saya memberanikan diri menjadi bonek (bocah nekad) dengan mengatakan bahwa "Logos" adalah sarana Tuhan, atau mungkin bila anda tergila-gila dengan sains, "Logos" adalah Tuhan itu sendiri.

Maka dari itu, saya tetap memilih untuk menggunakan "Astral" yang lebih erat hubungannya dengan "Astrologi", sebuah ilmu pengetahuan yang katanya sebagai ilmu petunjuk. Dasar dari ilmu ramal meramal nasib. Beberapa cerita pada zaman China kuno menggunakan "Astrologi" sebagai alat terdekat dari para peramal atau orang tua sakti yang muncul misterius, bicara misterius dan menghilang misterius juga.

Pernah pula saya mendengar pepatah : "Is destiny written in stars?"

Yang bila diterjemahkan secara gaul dapat diartikan : "Apakah nasib manusia ditulis oleh bintang-bintang?"

"Cosmos" adalah ibarat dunia real, tempat manusia dilahirkan, hidup dan mati.
sedangkan "Astral" bukan berarti surga. Saya berjanji tidak akan memasukkan unsur religius tertentu di sini karena saya pengagum mitologi Hindu, Jesus lover, murid Confucius, pengamat Buddha dan menghormati agama Muslim. Dan juga karena kurangnya pengetahuan saya tentang religi juga.

"Astral" adalah dunia dimana semuanya ditulis dan dirancang untuk kemudian disajikan bagi para penghuni "Cosmos", mereka dipersilahkan untuk memilih jalan mana yang akan mereka pilih. "Astral" juga adalah tempat jiwa-jiwa mereka yang sudah mati untuk singgah dan kembali lagi atau tersesat di dalam Arus Jiwa.

Konon, Arus Jiwa ini bertabrakan dengan dunia Cosmos sehingga dunia itu terus berputar dan aktif.

Tentang Divine Dragon Cosmos

Bila "Cosmos" adalah kata yang dipilih untuk menggantikan "Ashura", lalu bagaimana dengan nasib Divine Dragon Cosmos yang sudah ada sejak tahun 2008?

Tentu saja dia harus mengalami pergantian nama. Nama untuknya haruslah nama yang terdengar sangat akrab dengan Bumi. Tadinya saya hendak menggunakan "Gaia" atau "Pangaea". Namun saya memutuskan untuk menggunakan kata "Terrata" dari kata "Terra".

Bagi para penggemar Fantasi, tentunya kata "Terra" sudah tidak asing lagi sehingga penjelasan mengenai apa itu "Terra" dirasa sudah tidak diperlukan lagi.

====================
dua hal telah terselesaikan, masih ada beberapa PR lagi yang harus saya tuntaskan sehingga saya bisa memulai lagi merevisi dan melanjutkan kisah Hikayat Forgo/Chronicles of Forgo.